
"Bagaimana keadaanmu sayang?"
Kakek Bimo langsung menyambut sang cucu menantu dengan sebuah pertanyaan. Sudah sejak tadi dirinya merasa khawatir akan kondisi sang cucu akan tetapi pada saat dia akan pergi ke rumah sakit, Rama melarangnya karena mereka sedang dalam perjalanan pulang.
Kakek Bimo yang sejak pagi mengikuti meeting penting dengan beberapa klien, tidak mengetahui apa yang terjadi kepada Kian. Setelah meeting itu selesai dan dirinya baru menyadari jika sang cucu Rama tidak ada di ruang kerjanya, barulah dia bertanya kepada sang sekretaris. Dan dari sang sekretaris inilah kakek Bimo tau kejadian yang sebenarnya.
"Aku baik-baik saja kakek," jawab Kian sambil tersenyum seperti biasa. Melihat kondisi sang cucu menantu yang masih tampak lemah, kakek Bimo pun menahan diri untuk bertanya yang sebenarnya kepada Kian. Dia lebih memilih untuk mengizinkan sang cucu untuk pergi saja ke kamarnya dan beristirahat.
Rama membantu membaringkan tubuh Kian di atas tempat tidur.
"Apa kamu mau berbaring?" tanya Rama. Akan tetapi Kian menggelengkan kepalanya.
"Aku mau duduk aja Mas," jawab Kian lirih.
Akhirnya Rama pun membantu sang istri untuk duduk bersandar di atas tempat tidur, menutupi kakinya dengan selimut lalu mencium kening wanita itu. Setelah memastikan semuanya beres, Rama duduk di samping sang istri lalu menggenggam tangan wanita itu.
"Apa kamu mau sesuatu?" tanya Rama, Kian menggelengkan kepalanya.
"Mas," panggil Kian.
"Apa?" jawab laki-laki itu sambil tersenyum.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu sama kamu?"
"Banyak juga boleh," canda Rama sambil tersenyum.
"Mau tanya apa?" kata Rama kembali saat dirinya melihat Kian malah melamun dan tidak melanjutkan ucapannya. Wanita itu menatap mata Rama lekat.
"Mas, jika suatu hari nanti kamu mengetahui kalau aku melakukan sebuah kesalahan, apa kamu akan membenciku?" tanya Kian lirih.
"Tergantung."
"Tergantung?" tanya Kian tidak mengerti.
__ADS_1
"Tergantung seperti apa dan sejauh mana kamu melakukan kesalahan itu. Apa kamu sadar melakukan kesalahan itu atau tidak. Apa kamu sengaja melakukan kesalahan itu atau tidak. Apa yang menjadi tujuan kamu melakukan kesalahan itu. Dan alasan apa yang menyebabkan kamu sampai melakukan kesalahan itu," jelas Rama.
"Panjang sekali," gumam Kian. Rama malah tersenyum.
"Tentu saja sayang. Semua yang kita lakukan ada ketentuan sebab akibatnya. Bukan berarti setiap kesalahan itu harus dimaafkan akan tetapi saat kita akan memberikan vonis sebuah hukuman kepada yang bersalah, pastinya akan banyak hal yang diperhitungkan. Apa saja yang diperhitungkan? Iya, yang tadi mas katakan."
"Mas kayak hakim aja," ucap Kian sambil cemberut. Membuat Rama tertawa terbahak-bahak.
"Memangnya kesalahan apa sih yang sudah kamu buat? Apa kamu merahasiakan sesuatu kepada suamimu ini?" tanya Rama setelah selesai tertawa. Kian diam dan menunduk.
"Hey jangan katakan kalau kamu selingkuh dengan Samir dan anak yang ada di kandunganmu itu bukan anakku tapi anak Samir?"
"Mas ihhh," Kian melotot lalu memukul lengan suaminya itu dengan keras. Bukannya meringis Rama malah kembali tertawa. Sedangkan Kian, bibir merahnya itu semakin dia majukan ke depan.
"Aku bercanda sayang. Aku percaya sama kamu. Aku percaya kalau kamu tidak mungkin selingkuh dengan Samir ataupun dengan laki-laki lain. Justru aku yang malu karena dulu sempat selingkuh dengan Safira. Dan itu pun selingkuh secara terbuka kepada istriku sendiri. Aku benar-benar menyesal Lian. Aku minta maaf," ucap Rama sambil menunduk.
"Sudahlah Mas. Lupakan saja masa lalu. Aku juga sudah tidak mengingat hal itu lagi. Sudah lupakan saja," jawab Kian sambil tersenyum. Rama mengelus pipi sang istri dengan lembut.
"Baiklah sekarang aku yang ingin bertanya padamu?" ucap Rama lagi. Kian kembali menatap sang suami pura-puranya itu.
"Apa yang sedang kamu lakukan di lapangan tadi pagi? Dan bagaimana kamu bisa sampai terjatuh?"
Kian mematung. Dia tahu jika sang suami akan bertanya tentang hal ini akan tetapi dia tidak menyangka kalau laki-laki itu akan bertanya sekarang. Lalu apa yang harus Kian jawab? Apakah bisa jika dirinya berbohong kepada suaminya itu? Bagaimana jika Rama mencari tahu kebenarannya sendiri dan mengetahui kalau dirinya berbohong?
Rama masih menggenggam kedua tangan Kian. Matanya terus menatap kedua mata cantik sang istri sambil menunggu wanita itu menjawab pertanyaannya. Rama bisa merasakan dari tangan Kian jika wanita itu sedikit gemetar. Dan Rama yakin jika sang istri sedang memikirkan sesuatu.
"Jangan pernah berbohong kepadaku, Lian. Kamu tau kan kalau aku sangat percaya kepadamu. Oleh karena itu aku tidak melakukan penyelidikan sendiri. Tapi jika kamu berbohong kepadaku tentang masalah ini, aku akan sangat kecewa padamu," ucap Rama. Kian masih terdiam. Dia masih bingung apa yang harus dia katakan?
"Lian!!!" Rama memanggil sang istri dengan lembut saat melihat wanita itu bukannya menjawab tapi malah menunduk.
"Tadi Kian datang," ucap Kian pada akhirnya.
"Datang? Datang kemari?" tanya Rama. Kian mengangguk.
__ADS_1
"Kenapa kamu membiarkan dia datang? Bukankah aku sudah katakan agar kamu menjauhi adikmu itu?"
"Mas, dengarkan aku dulu. Aku tidak bisa menjauh darinya. Sejahat apapun dia, dia tetap saudara kembarku, Mas. Aku tidak ingin meninggalkan dia. Apalagi jika benar dia sedang dalam kesulitan. Aku takut terjadi apa-apa sama dia." jelas Kian. Rama melepaskan genggaman tangannya.
"Lian kamu jangan bodoh. Adikmu itu hanya ingin memanfaatkan kebaikan dan juga keluguan kamu saja. Dia itu wanita yang licik. Hanya dengan sekali lihat saja, aku sudah tau bagaimana karakternya. Lalu bagaimana bisa kamu tidak mengetahui sifat asli dirinya?" Rama berdiri. Dia sangat kecewa karena sang istri tidak mau mendengarkan perintahnya. Kian kembali terdiam.
"Jadi kamu di lapangan tadi pagi bersama dengan Kian?" tanya Rama. Wanita itu mengangguk.
"Apa yang kalian bicarakan? Masih tentang uang 500 juta itu?"
Lagi-lagi Kian tak menjawab. Dia hanya mengangguk saja.
"Aahh sial," Rama memukul udara di depannya.
"Aku benar-benar tidak mengerti apa sebenarnya yang ada di dalam pikirannya itu? Berani sekali dia meminta uang sebanyak itu kepadamu? Aku tahu dia pasti mengandalkan uangku bukan? Dia pasti menyuruhmu untuk meminta uang itu kepadaku, bukan? Apa dia tidak sadar siapa dia? Dia itu hanya adik iparku, bukan istriku. Seandainya saja dia itu istriku, aku pasti akan memberikannya secara sukarela. Tapi siapa dia?"
"Dia istrimu Mas. Istri sah mu," batin Kian.
Rama kembali memandang ke arah Kian dengan tatapan yang tajam seperti biasa.
"Jangan katakan kalau kamu terjatuh adalah ulah dia? Apa saudaramu itu yang sudah mendorongmu hingga kamu terjatuh?"
Kian bingung. Dia sudah bisa menjamin bagaimana marahnya Rama jika dia tahu kalau Lian yang sudah mendorongnya.
"Lian jawab! Jangan sembunyikan apapun dariku!" Rama berbicara dengan sedikit berteriak. Dan hal itu berhasil membuat Kian merasa sangat takut.
"Tidak Mas. Kian tidak mendorongku. Itu hanya kecelakaan. Itu hanya ketidaksengajaan." jawab Kian dengan cepat.
"Ketidaksengajaan?"
"Ya ampun kenapa aku malah bilang tidak sengaja?" batin Kian.
****
__ADS_1
****
****