
Rama menjalankan mobilnya dengan sangat cepat malam itu. Ucapan sang kekasih yang berkata jika mereka harus menunggu sang kakek meninggal agar mereka bisa bersatu, benar-benar membuat dirinya marah. Bagi Rama, kakek Bimo adalah segalanya. Sejak kematian kedua orang tuanya beberapa tahun silam karena sebuah kecelakaan, kakek Bimolah yang selalu mengurus dan menjaganya sampai sekarang. Bagi Rama, kakek Bimo sudah menjadi orang tua pengganti yang akan selalu dia sayangi dan juga hormati.
Dan sekarang? Dengan seenaknya Safira mengatakan hal itu? Dia tidak pernah habis pikir bagaimana mungkin gadis yang selama ini ia cintai malah mengharapkan kematian kakek Bimo? Iya Rama mengerti jika wanita itu sangat mencintainya dan ingin bersama dengannya. Tapi bukan begini caranya.
Tepat pukul 8 malam, mobil yang ditumpangi oleh Rama telah sampai di pelataran rumah. Langkahnya dia tujukan ke arah kamar sang kakek sebelum menuju ke kamarnya. Dia ingin melihat kondisi laki-laki itu.
Rama sangat terkejut saat dirinya melihat sang kakek sedang tertidur dan sang istri sedang memijat kaki laki-laki tua itu. Pandangan mereka bertemu dan Kian langsung menyimpan telunjuknya di bibirnya memberi isyarat agar Rama tidak berisik. Tanpa ada suara sama sekali, laki-laki itu kembali menutup pintu kamar sang kakek dan lalu berjalan menuju ke arah kamarnya.
Sesampainya di kamar, seperti biasa laki-laki itu langsung saja membersihkan diri, berganti pakaian dan lalu berdiri di dekat jendela menatap ke arah bawah. Otaknya kembali berpikir dan kini dia membanding-bandingkan sang kekasih dengan sang istri.
Sejak dari dulu sang kakek tidak pernah setuju dengan hubungan Rama dan juga Safira. Laki-laki tua itu selalu berkata kalau wanita itu tidak cocok dengannya. Akan tetapi sampai detik ini, Rama masih belum mengerti tidak cocok di sebelah mana?
Sedangkan Lian, wanita yang kini menjadi istrinya. Hanya dalam sekali lihat, sang kakek sudah langsung setuju untuk menikahkannya dengan dirinya. Apa karena Lian adalah cucu dari sahabatnya? Tapi semakin lama mereka tinggal bersama, Rama semakin bisa melihat bagaimana sosok seorang Lian. Dan ketika kedua gadis itu berada di dalam kehidupannya di waktu yang bersamaan, kini Rama semakin mengerti apa perbedaan antara Safira dan juga Lian. Apakah ini yang dimaksud sang kakek jika Safira tidak cocok menjadi istrinya?
-Ceklek-
Suara pintu yang terbuka, membuyarkan lamunan laki-laki itu. Dia menatap sosok wanita yang baru saja masuk ke dalam kamar sambil tersenyum.
"Baru pulang, Mas? Sudah makan? Mau aku siapkan makanan?" tanya Kian.
Sebenarnya dia tau setiap hari sang suami selalu mampir ke apartemen Safira tapi dia berusaha mencoba untuk biasa saja. Walaupun semakin lama dia merasa hatinya semakin sakit tapi Kian mencoba terus menetralisirnya. Dia selalu meyakinkan dirinya akan posisinya di rumah itu. Dia bukan siapa-siapa. Lakukan saja tugas istri yang biasa, tapi jangan berlebihan hingga menggunakan hati dan juga perasaan. Itulah niatan Kian saat ini.
Kian akan selalu menjalankan tugasnya sebagai seorang istri di rumah, melayani makan, menyiapkan pakaian ganti, dan lain-lain. Tapi dia tidak akan ikut campur jika Rama memiliki hubungan dengan wanita lain.
"Aku sudah makan," jawab Rama dingin. Dia lalu membaringkan tubuhnya di tempat tidur dan membelakangi Kian. Wanita itu menghembuskan nafas pelan dan lalu ikut berbaring di samping Rama.
__ADS_1
***
Di malam yang sama, tepatnya di apartemen Safira, wanita itu tampak sedang berbicara dengan seseorang lewat ponselnya.
"Iya ayah, minggu depan adalah ulang tahun perusahaan Amarta's Group," ucap Safira pada seseorang di balik telepon yang tidak lain adalah ayahnya.
"Itu kesempatan bagus, Nak. Kamu bisa muncul di sana untuk memberikan kejutan kepada si tua Bimo itu," ucap sang ayah.
"Hmm iya ayah. Aku sudah bicara dengan Rama tapi dia malah melarangku untuk pergi ke acara itu. Menyebalkan sekali," gerutu Safira.
"Lalu kamu mau menuruti dia?"
"Tentu saja tidak, ayah. Aku pasti akan datang. Dengan atau tanpa izin Rama. Di dalam acara itu Rama mau tidak mau harus mengumumkan jika aku adalah calon istrinya."
***
Satu minggu kemudian. Pesta ulang tahun perusahaan pun digelar. Sebuah aula hotel milik Amarta's Group disulap menjadi sebuah tempat acara dengan dekorasi yang serba mewah. Pernak-pernik berlian, air mancur kaca, tatanan hidangan baik dalam negeri maupun luar negeri, semua tampak begitu sempurna. Alunan musik romantis dimainkan secara live oleh grup musik terkenal. Kakek Bimo benar-benar tidak tanggung-tanggung dalam menyiapkan acara ini.
Kian sudah berada di salah satu kamar di hotel tersebut. Dia sedang berdiri menatap pantulan wajahnya di cermin. Sebuah gaun berwarna merah berlapis emas menambah cantik dirinya. Rambut hitam yang terurai di tata sedemikian rupa sehingga tampak elegan. Sesekali Kian berpikir apakah pantas dia melakukan hal ini? Bersanding dengan suami kakaknya sendiri di acara resmi seperti ini.
"Lian, kenapa kamu menolak semua kebahagiaan yang seharusnya menjadi milikmu ini?" gumam Kian.
"Aku bahkan tidak tau apa yang terjadi padamu sekarang. Apakah kamu bahagia bersama Vicky atau justru menyesal karena sudah menyia-nyiakan mas Rama," gumamnya lagi.
"Apa cucu kakek sudah siap?"
__ADS_1
Suara kakek Bimo yang langsung membuka pintu kamar sontak menyadarkan Kian dari lamunannya. Wanita itu menoleh sambil tersenyum. Kakek Bimo malah terpaku melihat cucu menantunya itu.
"Kamu benar-benar cantik, Lian," ucap Kakek Bimo yang berjalan mendekati sang cucu menantu.
"Kakek rasa Rama tidak akan memalingkan pandangannya darimu walaupun sekejap selama acara ini berlangsung," ucap Kakek Bimo lagi dan kini diikuti dengan suara tawanya yang khas. Membuat wajah Kian merona karena malu.
"Kakek aku…."
Dan benar saja. Saat Rama masuk ke dalam kamar tersebut lalu melihat sang istri, dia langsung terdiam. Bahkan perkataannya pun terputus. Kakek Bimo yang menyadari jika sang cucu terpesona dengan istrinya sendiri hanya bisa tersenyum. Dia berjalan mendekati Rama, menepuk bahunya untuk menyadarkannya.
"Ajak istrimu turun. Dan genggam dia dengan erat. Jangan sampai dia terlepas dari tanganmu dan akhirnya diambil orang," bisik kakek Bimo lalu pergi dari sana.
Kian masih menunduk. Ada rasa malu yang begitu besar saat Rama menatapnya dengan tatapan intens seperti itu. Bukan tatapan tajam seperti biasa akan tetapi tatapan terpesona. Rama berjalan perlahan mendekati sang istri. Sebuah kemeja berwarna putih dibalut jas berwarna merah sepadan dengan warna gaun Kian. Membuat mereka tampil sangat mempesona dan serasi.
"Kamu.. kamu cantik sekali," ucap Rama pelan. Namun itu berhasil membuat jantung Kian berdetak sangat cepat.
"Terima kasih, Mas," jawab Kian lirih.
"Ayo!"
****
****
****
__ADS_1