
"Kebun Binatang," jawab Kian cepat.
"Apa?" Rama melotot sambil berteriak. Sedangkan sang kakek hanya tersenyum.
"Apa kamu sudah gila?" teriak Rama pada Kian. Gadis itu menatap sang suami dengan kening yang berkerut.
"Memangnya apa yang salah dengan kata-kataku?" batin Kian bertanya.
"Apa kamu tidak sadar berapa usiamu sekarang? Kebun binatang itu hanya untuk anak-anak," ucap Rama lantang.
"Kakek, memangnya kebun binatang hanya untuk anak-anak?" tanya Kian. Sebenarnya dia ingin sekali mendebat langsung ucapan Rama akan tetapi dia masih sedikit agak takut jika harus berhadapan dengan mata melototnya. Akhirnya sang kakek lah yang dijadikan pelampiasan.
"Hmm, tidak juga. Kakek juga suka pergi ke kebun binatang. Itu tempat yang seru kok," jawab sang kakek sambil tersenyum. Mendengar jawaban dari Kakek Bimo membuat Rama cemberut.
"Memangnya apa yang salah dengan pergi ke kebun binatang, Ram? Kakek juga suka pergi ke kebun binatang," ucap kakek Bimo.
"Kalau kakek suka pergi ke kebun binatang, kenapa bukan kakek saja yang temani Lian jalan-jalan ke sana?" ucap Rama ketus.
"Hey, memangnya yang menjadi suaminya Lian itu kakek? Iya kamu lah yang harus nemenin dia jalan-jalan. Masa kakek yang nemenin. Kamu ini aneh."
"Tapi Kek…."
"Kakek gak mau tau. Kalau hari ini kamu tidak pergi bekerja maka kamu harus temani istrimu jalan-jalan ke kebun binatang."
Rama mendelik kesal. Sedangkan kakek Bimo melihat ke arah jam di dinding dan kembali berbicara.
"Dan sepertinya ini waktu yang tepat untuk kalian segera pergi. Jangan sampai terlalu siang. Nanti jalan-jalannya panas. Sudah ayo cepat sana bersiap-siap!"
__ADS_1
Kian sangat bahagia karena akhirnya dia bisa pergi jalan-jalan. Sudah sejak lama dia ingin sekali pergi ke kebun binatang. Lucu memang, disaat semua wanita ingin pergi ke mall, ke bioskop, atau mungkin ke salon akan tetapi Kian malah ingin pergi ke kebun binatang. Sebuah tempat wisata dimana banyak sekali hewan disana. Dan Rama benar, para pengunjung disana sebagian besar keluarga yang mengajak anak mereka bermain atau belajar mengenal hewan. Meskipun tak jarang juga tampak sepasang kekasih yang datang dengan alasan ingin berjalan-jalan saja. Dan Kian lah salah satunya.
Berbeda dengan Kian, Rama berjalan ke arah kamar sambil cemberut. Sesekali dia merasa menyesal kenapa juga dirinya meminta libur hari ini jika kejadiannya malah jadi seperti ini. Hari libur yang sudah dia minta pada sang sekretaris nyatanya malah dia gunakan untuk mengajak sang istri jalan-jalan. Padahal sebenarnya Rama memiliki alasan yang lain kenapa dirinya meminta libur.
"Hmm, mudah-mudahan masih bisa terkejar," ucap Rama lirih. Pandangannya melihat ke arah jam di tangannya.
***
Kebun binatang kota merupakan kebun binatang terbesar di daerah tersebut. Kian tampak berlari-lari kecil memperhatikan setiap hewan dari satu kandang ke kandang yang lainnya. Sedangkan Rama terus membuntuti gadis itu dalam diam walaupun hatinya merasa gelisah. Hal itu dapat dilihat dari pandangan matanya yang terus saja bolak balik melihat ke arah jam yang melingkar di tangannya.
"Aku benci melakukan semua ini. Kenapa kakek selalu saja menyuruhku melakukan semua hal yang tidak aku suka? Dan kenapa juga aku tidak bisa menolaknya? Iya, iya aku tau. Kakek selalu saja mengancam akan mencabut jabatanku sebagai CEO kalau aku tidak mau menuruti semua perkataannya. Aaaaaa… menyebalkan," pikiran Rama terus saja bermonolog.
Tanpa memperdulikan wajang ditekuk dari laki-laki di belakangnya, Kian terus saja berlari kesana kemari bak anak kecil. Banyak sekali hewan yang ada di kebun binatang kota. Namun demikian kebersihan hewan dan juga kandang menjadi prioritas utama mereka demi kenyamanan semua pengunjung.
Kini mereka sampailah di kandang beruang hitam. Kandang beruang hitam berbeda dengan kandang lainnya. Jika pengunjung ingin melihat beruang hitam, mereka harus sedikit naik dan melihat hewan tersebut dari atas karena kandang beruang hitam berbentuk seperti sumur. Sayangnya di atas tidak diberikan pengamanan yang cukup sehingga akan sangat berbahaya. Ditakutkan ada anak kecil yang jatuh ke bawah, masuk ke dalam kandang beruang tersebut.
Melihat Rama yang malah terdiam, Kian pun kembali mendekati laki-laki itu dan mencoba menarik tangannya.
"Mas, ayo!"
"Aku tidak mau!" jawab Rama tegas. Dia menghempaskan tangan Kian dengan kasar.
"Kenapa?" tanya Kian namun Rama tak menjawab.
"Tidak kenapa-kenapa. Aku cuma tidak mau aja." jawab Rama. Dia mulai melenggang untuk meninggalkan tempat itu.
"Jangan bilang kalau Mas takut sama beruang. Aku baru tau loh kalau CEO Amarta's Group takut sama beruang," teriak Kian. Dan itu berhasil membuat langkah Rama berhenti dan membalikkan badannya menghadap ke arah Kian.
__ADS_1
"Apa kamu bilang?" tanya Rama ketus.
"Tidak. Tidak bilang apa-apa," jawab Kian acuh namun sambil tersenyum. Rama berjalan mendekat ke arah wanita itu lagi.
"Baik. Kamu mau lihat beruang kan? Ayo kita ke atas. Nanti di sana aku akan melemparkanmu sekalian ke dalamnya agar kamu bisa melihat beruang itu lebih dekat dan lebih jelas," ucap Rama dengan mata yang melotot.
Mendengar ancaman dari laki-laki itu membuat Kian sedikit kesulitan menelan salivanya sendiri. Dia tau kalau laki-laki di depannya ini sangat membencinya jadi dia berpikir bukanlah hal mustahil baginya untuk melakukan ancamannya tersebut. Dia cukup berkata pada sang kakek kalau itu murni kecelakaan dan semua kasus akan ditutup.
Kian tersenyum kikuk. Dia menggaruk lehernya yang tak gatal.
"Kenapa malah tersenyum? Ayo!" ucap Rama lagi.
"Setelah aku pikir-pikir, kayaknya aku lapar. Jadi mending kita cari makan aja. Ayo!!!" Ucap Kian dan dengan setengah berlari meninggalkan Rama dan juga kandang beruang tersebut. Laki-laki itu mendelik sebal namun tak ayal juga dirinya mengikuti wanita itu.
Sebuah restoran sederhana menjadi tempat bagi pasangan ini beristirahat. Awalnya Rama tidak mau masuk ke dalamnya. Statusnya yang sebagai CEO Amarta's Group membuat laki-laki itu memiliki standarisasi tersendiri tentang tempat makan yang bisa dikunjungi dan itu bukanlah restoran sederhana seperti ini.
Akan tetapi berbeda dengan Kian. Dia tidak pernah memiliki pemikiran seperti itu. Baginya asalkan tempatnya nyaman, bersih, dan makanannya juga enak, tidak ada salahnya. Apalagi jika harga makanannya murah. Itu sudah menjadi bonus untuknya. Kian tau jika keluarganya juga memiliki perusahaan pribadi. Akan tetapi itu tidak membuat dirinya menjadi sombong. Dia bahkan tak jarang juga makan di pedagang kaki lima. Suatu hal yang tidak mungkin dilakukan oleh Rama.
Kini dua buah burger dan dua buah soda ada di depan mereka. Kian sengaja memesankan makanan tersebut. Dia masih tidak peduli dengan wajah kecut sang suami. Dia berpikir apa enaknya hanya pesan secangkir kopi ketika mereka sedang berjalan-jalan. Jika hanya ingin kopi, nanti saja di rumah.
"Ayo makan Mas!" ajak Kian.
****
****
****
__ADS_1