
"Kalian sudah pulang?" tanya Kakek Bimo saat kedua cucunya itu telah sampai di rumah. Rama dan juga Kian tersenyum lalu mereka berdua berjalan mendekati sang kakek dan mencium punggung tangannya.
"Iya Kek. Tadinya aku ingin menginap lebih lama lagi tapi Lian menolak. Katanya dia gak mau ninggalin kakek lama-lama," ucap Rama. Kian yang mendengar alasan Rama langsung memelototkan matanya ke arah sang suami. Dia kesal kenapa harus dirinya yang di kambing hitamkan. Padahal laki-laki itu sendiri yang tadi mengajaknya pulang karena harus pergi ke kantor. Lalu kenapa sekarang jadi menjual namanya.
Rama dan juga sang kakek tersenyum dengan perubahan mimik wajah Kian. Kakek Bimo tau jika alasan itu hanyalah akal-akalan dari Rama saja. Tapi dia tidak mau membahasnya. Dia cukup senang melihat kedua pasangan ini semakin hari menjadi semakin dekat saja.
"Ya sudah. Sebaiknya kalian pergilah ke kamar dan beristirahatlah," ucap sang kakek.
"Kamu pergilah dulu. Nanti aku menyusul. Ada yang harus aku bicarakan sama kakek," ujar Rama. Kian mengangguk dan lalu melangkah pergi menuju ke kamarnya.
Rama duduk di depan sang kakek. Awalnya dia hanya terdiam saja karena dia bingung harus memulai pembicaraan dari mana.
"Mengenai perusahaan keluarga laki-laki itu?" ucap sang kakek tiba-tiba. Dan itu berhasil membuat Rama terkejut. Dia tidak menyangka jika sang kakek tau apa maksudnya mendekatinya. Rama mengangguk.
"Kakek tidak akan membiarkan siapapun bermain-main dengan kita. Mereka yang berani bermain-main dengan perusahaan kita saja selalu kakek lawan apalagi mereka yang berani bermain-main dengan anggota keluarga kita. Tentu saja kakek tidak akan diam saja. Akan kakek hancurkan sampai ke akar-akarnya sehingga mereka tidak akan bisa bangkit lagi."
"Kakek tau apa yang terjadi kepada Lian?" tanya Rama.
"Iya tentu saja. Kakek tau semua yang terjadi kepada anggota keluarga ini. Sebelum Lian menjadi istrimu dan pindah ke rumah ini, mungkin kakek tidak akan memantaunya. Tapi setelah dia menikah denganmu dan tinggal bersama kita disini, dia menjadi tanggung jawab kakek juga. Dia sudah masuk ke dalam lingkaran keluarga Amarta, dan dia satu-satunya wanita di dalam keluarga kita. Dia adalah kesayangan dan kebanggaan bagi keluarga Amarta. Kakek tidak akan membiarkan siapapun berani menyakitinya." Kakek Bimo berhenti sebentar. Sebelum akhirnya dia kembali menatap tajam ke arah sang cucu.
"Dan kakek juga berharap kamu tidak akan pernah menyakiti istrimu. Kakek tidak akan pernah memaafkanmu jika kamu melakukan hal itu," ancam sang kakek.
"Tidak kakek. Tentu saja aku tidak akan pernah menyakiti Lian. Aku berjanji kepada kakek, kalau mulai saat ini istriku adalah prioritas utamaku," jawab Rama.
"Apa kamu mencintai istrimu?" tanya sang kakek.
Rama terdiam. Di dalam otaknya dia berpikir semua kejadian yang sudah mereka lalui bersama. Dan juga rasa yang mulai tumbuh di dalam hatinya untuk sang istri dalam beberapa hari kebelakang ini. Rama menarik nafas panjang sebelum akhirnya mengatakan kalau dia memang mencintai Lian. Dia mencintai istrinya itu.
Sang kakek tersenyum mendengar ucapan Rama. Sekarang dia bisa tenang karena kali ini Rama tidak akan menjadi penyebab air mata sang cucu menantu itu mengalir lagi.
__ADS_1
***
Rama masuk ke dalam kamar di saat Kian baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Rambutnya tampak basah begitu juga wajahnya.
"Kamu mandi lagi? Bukannya tadi di hotel sudah mandi?" tanya Rama.
"Tidak Mas. Aku hanya mencuci wajah saja," jawab Kian.
"Mencuci wajah tapi basah sampai rambut?"
Kian menghela nafas panjang lalu menatap laki-laki itu dengan jengah.
"Kenapa? Aku kan hanya bertanya?" ucap Rama.
"Mas belakangan ini kenapa cerewet sekali sih?" tanya Kian sedikit geram.
Kian tak menjawab. Dia langsung mematung. Ketika sang suami membahas tentang saudara kembarnya membuat Kian mau tidak mau harus teringat akan statusnya di rumah itu. Dia hanya istri pengganti.
Kian malah melamun. Dia tidak sadar jika Rama sudah berjalan mendekat ke arahnya. Lalu dalam satu kali gerakan sebuah ciuman dari bibir Rama dengan cepat mendarat di bibir Kian. Gadis itu kaget, matanya membulat. Dia ingin memundurkan kepalanya akan tetapi Rama menahan tengkuk lehernya agar dia tidak bisa bergerak. Satu tangan yang lain juga memeluk tubuh Kian dengan erat.
Rama terus melahap habis benda berwarna merah itu. Seberapa kuat pun Kian menolak akan tetapi tetap saja dia tidak bisa melepaskan cengkraman sang suami. Hatinya terus merasa gelisah. Di satu sisi dia ingin memberontak karena dia tahu jika yang dia lakukan ini adalah salah. Tapi di sisi lain dia malah menikmatinya dan berharap adegan ini bisa berlangsung sangat lama.
Rama melepaskan pagutannya saat dirasa kedua insan ini sudah mulai kehabisan nafas. Laki-laki itu menempelkan keningnya di kening Kian. Wanita itu memejamkan matanya.
"Aku sangat mencintaimu," ucap Rama lirih.
"Aku juga sangat mencintaimu, Mas. Sangat mencintaimu," ucap Kian pada akhirnya. Rama tersenyum lalu mereka pun berpelukan dengan erat.
"Mas sudah. Bukankah hari ini kamu mau pergi ke kantor?" ucap Kian dari sela dada Rama.
__ADS_1
"Hmm kalau sudah begini rasanya aku akan membatalkan semua janji saja," ucap Rama tanpa melepaskan pelukannya.
"Jangan begitu Mas. Kasian Samir. Dia pasti kesulitan jika terus menerus mengatur ulang jadwalmu," ucap Kian lagi. Rama melonggarkan pelukannya agar dia bisa melihat wajah sang istri.
"Kamu perhatian sekali pada Samir," ucap Rama sedikit cemberut. Kian tertawa.
"Kamu kenapa Mas? Kamu cemburu sama Samir?" kata Kian di sela tawanya.
"Jangan menertawakan aku seperti itu atau kamu akan menyesal," ancam Rama dengan tatapan mata membunuh. Sudah lama dia tidak melihat sang suami mengeluarkan tatapan mata itu. Kian menghentikan tawanya lalu kembali bersandar di dada sang suami.
"Samir itu sahabatku, Mas."
"Iya calon adik iparmu."
"Maksud Mas?"
"Aku tahu kalau dia sangat mencintai Kian. Tapi aku tidak suka cara dia memperlakukanmu seperti kemarin. Jika dia memang mencintai adikmu, suruh dia bermesraan dengan Kian, bukan denganmu!"
Kian sedikit menaikkan dahinya. Dia bingung apa yang dimaksud oleh ucapan Rama. Kejadian apa? Dan perlakuan romantis yang mana? Kemarin?
Setelah berpikir beberapa saat, ingatan Kian pun akhirnya menemukan sebuah gambaran saat Samir datang ke rumah itu untuk memberikan file kepada sang suami. Dia ingat bagaimana dia mengusak kepalanya dan juga memanggilnya dengan sebutan cantik.
"Apa Mas Rama melihat kejadian itu? Apa dia cemburu karena Samir melakukan hal itu kemarin?" tanya Kian dalam hati.
****
****
****
__ADS_1