
Suara kenikmatan terdengar sangat jelas dari pergumulan dua pasang sejoli di sebuah kamar kosan di ujung gang. Ada suara manja dari sang wanita dan suara kuat dari sang lelaki. Siapa lagi kalau bukan Lian dan juga Vicky.
Lian yang pada awalnya sangat frustasi karena Vicky telah merebut mahkotanya secara paksa akan tetapi kini malah menikmati setiap sang kekasih melakukan hal yang sama kepadanya. Ucapan rayuan dari laki-laki itu dan janjinya akan segera menikahi Lian, membuat wanita itu akhirnya pasrah dan berani memberikan semua yang dia miliki. Dan kini tentu saja dalam keadaan sadar.
Hampir setiap hari Vicky menginap di rumah itu dan hampir setiap hari juga laki-laki itu melakukan aksinya kepada sang kekasih. Kini tidak ada rasa takut ataupun sedih di hati Lian. Yang ada dia malah sangat menyukainya dan ingin terus melakukannya lagi dan lagi.
"Aku lelah sekali sayang. Kita istirahat sebentar ya?" ucap Lian. Sang kekasih mengangguk dan membaringkan badannya di samping Lian di atas tempat tidur.
Mereka terdiam untuk beberapa saat. Mencoba mengembalikan tenaga yang sudah terkuras habis akibat pergumulan semalaman penuh yang mereka lakukan. Hari bahkan sudah mulai beranjak siang akan tetapi mereka tetap melakukannya lagi.
"Sayang…." ucap Vicky. Dia memiringkan tubuhnya dan lalu memainkan rambut Lian.
"Hmm," gadis itu menjawab tanpa melihat ke arah laki-laki itu.
"Sayang kamu tahu kan kalau motorku sudah jelek," ucap Vicky lagi. Lian mengerutkan keningnya.
"Jelek? Motormu masih bagus kok. Jelek apanya?" tanya Lian tidak mengerti.
"Kamu tidak tahu sayang. Karena kamu tidak mengerti tentang mesin. Motorku sudah rusak dan mungkin sebentar lagi harus turun mesin."
Lian ikut memiringkan tubuhnya dan menghadap ke arah sang kekasih.
"Lalu?"
"Hmm.. apa kamu.. apa kamu bisa membelikan aku mobil? Kamu tau jika aku punya mobil, kita bisa bebas berjalan-jalan tanpa takut akan ada yang tau. Lagipula jika menggunakan mobil, kita tidak akan kehujanan atau kepanasan. Kamu juga bisa tidur di jalan selagi aku mengendarai mobil itu."
Lian terdiam mendengar permintaan sang kekasih.
"Tapi sayang. Harga mobil kan mahal," ucap Lian lirih.
"Aku tau. Tapi aku yakin sayang, kalau kamu meminta kepada ayahmu, kamu pasti akan dibelikan olehnya."
"Ayah?"
"Iya ayahmu. Kamu ini. Masa mau minta sama ayahku. Atau kamu mau minta sama suamimu yang kaya raya itu?" ucap Vicky dengan nada yang sedikit naik.
"Tidak sayang bukan itu," jawab Lian menenangkan. Dia tahu kalau sang kekasih sudah mulai marah.
__ADS_1
"Aku akan coba menghubungi ayah tapi aku tidak bisa janji apa aku akan mengabulkan permintaanmu atau tidak. Karena masalahnya perusahaan keluargaku sedang mengalami penurunan. Kemarin ayah bilang kalau keuntungan perusahaan kami menurun drastis. Ayah malah bilang kalau aku harus lebih berhemat sekarang karena dia tidak janji akan bisa mengirimkan aku uang setiap bulan lagi," jelas Lian pelan.
"Aku tidak mau tau. Kamu pikirkan saja caranya sendiri. Jika kamu masih ingin berhubungan denganku, aku ingin sebuah mobil."
Vicky berdiri dan langsung memakai pakaiannya yang berserakan di lantai. Untuk pertama kalinya Lian menolak permintaannya dan hal itu berhasil membuat dirinya sangat kesal.
"Sayang kamu mau kemana?" tanya Lian melihat sang kekasih keluar dari rumah itu tanpa ada satu patah kata pun yang terucap lagi di dalam mulutnya.
Lian terdiam. Dia berpikir kenapa belakangan ini tingkah Vicky menjadi berubah. Dia akan semakin sayang dan memanjakannya jika permintaannya dikabulkan. Akan tetapi saat Lian tak bisa memberikan apa yang dia mau, laki-laki itu langsung marah dan selalu meninggalkannya begitu saja.
Lian kembali berpikir. Dia harus mencari cara agar dirinya bisa membelikan Vicky sebuah mobil. Dia tidak mau jika sampai kehilangan Vicky. Apalagi sentuhan yang selalu diberikan oleh Vicky hampir setiap malam, membuat dirinya semakin ketergantungan akan sosok laki-laki itu.
"Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?" Lian bergumam.
"Aku tidak mungkin meminta kepada ayah lagi. Baru minggu kemarin aku meminta uang yang banyak untuk melunasi hutang berjudi Vicky. Ayah bahkan sudah mengatakan jika aku harus lebih berhemat karena perusahaan sedang down. Tapi aku juga tidak bisa jika harus kehilangan Vicky," Lian menjambak rambutnya sendiri. Dia merasa frustasi dengan kejadian ini.
Bibirnya seketika tersenyum saat otaknya menemukan sebuah ide.
"Kian. Iya, Kian pasti bisa membantuku."
Gadis itu langsung meraih ponselnya yang teronggok di atas meja. Mencoba mencari nomor sang adik lalu mengirimkan sebuah pesan singkat kepadanya.
"Lian. Kamu kemana aja? Aku sangat merindukanmu. Apa kamu baik-baik saja?" balas Kian.
"Aku minta maaf Kian. Belakangan ini aku sangat sibuk jadi aku tidak bisa menghubungimu."
"Tidak apa-apa. Yang penting kamu selalu sehat. Oh iya sekarang kamu tinggal dimana?"
"Kian aku sedang ada masalah," ketik Lian tanpa mau menjawab pertanyaan dari sang adik.
"Masalah? Masalah apa?"
"Aku butuh uang dan jumlahnya cukup banyak."
"Uang? Tapi untuk apa? Apa Ayah tidak memberimu uang?"
"Dia beri. Tapi Ayah bilang jika perusahaan sedang down dan aku tidak mungkin meminta uang lebih kepadanya."
__ADS_1
"Perusahaan Ayah sedang down? Tapi kenapa aku tidak tau?"
"Aku tidak tau Kian. Aku menghubungimu bukan untuk membahas soal perusahaan ayah. Tapi soal uang."
"Memangnya berapa yang kamu inginkan?"
"500 juta."
Kian melongo menatap balasan dari sang kakak. Matanya mengerjap-ngerjap dan berharap dia salah lihat. Akan tetapi ternyata semuanya benar.
"500 juta? Tapi untuk apa?" ketik Kian.
"Aku sudah bilang kan kalau aku sedang ada masalah"
"Iya tapi masalah apa sampai kamu membutuhkan uang 500 juta?"
"Aku tidak bisa bilang."
"Lian tapi aku tidak punya uang sebanyak itu."
"Kamu bisa kan minta pada suamimu. Oh maaf suamiku"
Kian terdiam. Dia bingung harus menjawab apa. Dia tidak mungkin meminta uang sebanyak itu kepada Rama. Iya walaupun Kian tau jika uang sebesar itu sangat kecil di mata Rama tapi dia harus memiliki alasan yang jelas bukan untuk meminta kepada Rama. Lalu alasan apa yang harus dia ucapkan.
"KIAN!!!!" ketik Lian lagi saat sang adik hanya terdiam tak menjawab
"Iya Lian. Aku masih disini."
"Jadi bagaimana?"
"Aku tidak tau apa aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu dari Mas Rama atau tidak tapi aku akan usahakan. Nanti aku pasti akan mengabarimu lagi."
"Bagus. Aku tunggu kabar baikmu."
****
****
__ADS_1
****