
"Mas…." teriak Kian.
Gadis itu berlari mengejar sang suami yang sudah berjalan ke arah luar rumah hendak pergi ke kantor. Langkah kaki laki-laki itu berhenti tepat saat dirinya baru saja membuka pintu mobil. Rama menoleh ke arah sang istri. Dia melihat wanita itu setengah berlari mendekatinya.
"Ada apa?" tanya Rama saat wanita itu sudah berdiri di dekatnya.
Wanita itu mengulurkan tangannya.
"Ponselmu tertinggal di dalam, Mas," ucap Kian dengan nafas yang sedikit ngos-ngosan.
Rama melihat ke arah tangan wanita itu yang sedang menggenggam ponselnya. Dia lalu mengambilnya dan memasukannya ke dalam saku jasnya.
"Terima kasih," jawab Rama singkat. Dia baru saja berbalik akan masuk ke dalam mobil akan tetapi langkahnya terhenti oleh suara Kian.
"Mas hari ini apa akan pulang terlambat lagi?" tanyanya.
Kian sengaja bertanya seperti itu karena dia tau jika kemarin hubungan sang suami dengan selingkuhannya itu sudah diketahui oleh sang kakek. Jadi dia pikir kalau Rama pasti tidak akan menemui Safira lagi.
Rama terdiam. Dia malah menatap wajah Kian dengan lekat tanpa berkata sepatah katapun. Ditatap seperti itu oleh sang suami apalagi dalam jarak yang begitu dekat, membuat wajah Kian merona karena malu.
"Mas, kenapa melihatku seperti itu?" tanya Kian sambil menunduk.
Rama mengerjap-ngerjapkan matanya sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Tidak.. tidak apa-apa." jawab Rama.
"Jadi…??"
"Aku tidak tau. Mungkin hari ini aku akan langsung pulang saja. Lagipula tadi kakek sudah menyuruhku untuk tidak kemana-mana. Karena hari ini dia akan pergi keluar kota untuk bertemu dengan klien."
"Benarkah? Kenapa harus kakek yang pergi? Biasanya jika keluar kota, Mas yang berangkat," tanya Kian.
"Iya, klien nya ingin bertemu langsung dengan pemilik perusahaan."
"Oh.."
"Ya sudah aku berangkat," pamit Rama. Kian mengangguk.
"Hati-hati Mas"
__ADS_1
"Hmm…"
Kian menatap kepergian sang suami sampai mobil yang ditumpanginya itu hilang dari mata. Bibir gadis itu tak terhenti tersenyum. Entah kenapa tapi hari ini seperti hari yang baru baginya. Bagaimana tidak dari sejak laki-laki itu bangun, sikapnya sangat berbeda kepadanya. Memang mungkin belum sempurna karena belum ada senyum yang tulus di wajahnya akan tetapi Kian dapat melihat jika sang suami seperti sedang berusaha untuk bersikap lebih baik kepadanya.
Sejujurnya perubahan sikap Rama kepadanya seperti ini membuat hatinya sangat berbunga-bunga. Dia merasa sangat bahagia. Rasanya ingin sekali dia meloncat, berteriak, dan mengatakan kalau dia sangat menyukainya.
Menyukainya???
Senyuman di wajah Kian tiba-tiba saja menghilang. Pikirannya kembali berputar. Menyukainya? Jangan katakan kalau dirinya menyukai laki-laki itu. Jangan katakan kalau dia mencintai Rama. Tanpa sadar setetes air jatuh dari sudut matanya.
"Apakah aku mencintai Mas Rama? Apakah aku mencintai kakak iparku sendiri?" batin Kian bermonolog.
Kian kembali berpikir. Memang benar jika belakangan ini dirinya lebih memperhatikan laki-laki itu. Dia sangat senang menatapnya lama-lama. Dia juga sangat senang bisa terus bersamanya. Sikapnya, tingkah lakunya, tidak membuat Kian gelisah seperti dulu saat awal dirinya masuk ke dalam keluarga itu. Semakin lama Kian merasa sangat menikmati drama ini. Bahkan kemarin saat Samir bertanya apakah posisi ini akan dikembalikan kepada Lian jika saudaranya itu memintanya, ada rasa berat dan sedih untuk dirinya mengatakan bahwa dirinya siap untuk melepaskan semuanya.
"Tidak! Aku tidak boleh jatuh cinta pada Mas Rama. Aku tidak boleh mencintai pria itu. Aku harus sadar dia itu siapa. Dia adalah suami Lian. Dia adalah kakak iparku. Bagaimana bisa aku mencintai kakak iparku sendiri?"
***
Di kantor, Rama tidak bisa fokus sama sekali dengan pekerjaannya. Banyak tumpukan file yang ada di atas meja hanya teronggok tak tersentuh. Laki-laki itu memang ada di dalam ruangan akan tetapi pikirannya melayang entah kemana.
Hatinya sekarang sedang merasa galau. Dia bingung dengan langkah apa yang harus dia ambil. Hatinya masih terus gelisah menunggu hasil penyelidikan orang suruhannya tentang Safira.
Terdengar suara pintu ruangan diketuk.
"Masuk!!!!"
Lalu pintu pun terbuka dan tampaklah Samir dengan beberapa file baru di tangannya.
"Pak ini….." ucapan Samir terpotong saat kedua matanya melihat tumpukan file yang tadi dia simpan di atas meja masih belum juga berubah posisinya. Dan itu tandanya sejak tadi sang atasan tidak menyentuhnya sama sekali.
Laki-laki itu membuang nafas pelan lalu menyimpan file di tangannya di atas meja. Samir memandang Rama yang masih duduk dengan kedua tangannya disatukan di depan keningnya.
"Ada apa Pak? Apa ada masalah?" tanya Samir. Rama menggeleng.
"Apa anda sakit?" tanya Samir lagi.
"Tidak."
"Pak….." Samir hendak berkata lagi akan tetapi Rama langsung memotongnya.
__ADS_1
"Aku minta maaf sejak tadi aku belum membuka satu pun file yang kamu kirimkan. Sejujurnya aku sedang gelisah. Aku sedang menunggu kabar dari seseorang," ucap Rama.
"Kabar dari seseorang?" tanya Samir tidak mengerti.
"Iya.. Itu tentang….." Rama menatap wajah Samir lalu terdiam. Pikirannya berpikir apakah baik jika dia menceritakan semuanya kepada laki-laki di depannya ini. Apalagi Samir adalah sahabat sang istri sejak kecil. Mungkin Samir akan marah besar jika dia tau kalau dirinya selingkuh.
"Ada apa Pak?" tanya Samir memecahkan lamunan Rama.
"Hmm, tidak. Tidak ada."
Akhirnya tangan Rama mulai meraih salah satu berkas file yang ada di depannya. Mencoba untuk kembali fokus pada pekerjaannya walaupun sebenarnya pikirannya masih kacau.
"Pak, nanti siang kita ada temu klien di luar," ucap Samir.
"Batalkan saja. Aku sedang tidak ingin pergi kemana-mana," jawab Rama tanpa menoleh sama sekali kepada asisten pribadinya itu.
Samir menatap lekat ke arah Rama. Sebenarnya ini adalah pertemuan yang cukup penting akan tetapi dia tidak bisa memaksa sang atasan. Apalagi dia juga bisa melihat raut wajah Rama yang sedang kusut. Akan sangat bahaya dan percuma juga jika mereka memaksakan hadir pada pertemuan itu.
"Baik Pak."
Karena merasa tidak ada urusan lagi di dalam sana, Samir pun melangkah keluar menuju ke ruangannya sendiri. Kini tinggalah Rama sendiri. Dia kembali menyimpan file di tangannya lalu berjalan pelan menuju ke arah jendela. Tatapan matanya fokus ke depan melihat ramainya jalanan ibu kota yang ada di bawahnya.
Saat sedang melamun tiba-tiba saja ponsel Rama berbunyi. Berharap sang orang suruhan yang menghubungi, laki-laki itu pun dengan segera mengangkat ponselnya yang dia simpan di atas meja. Keningnya sedikit mengernyit saat satu nama muncul di layar ponsel tersebut.
"Safira? Ada apa?" gumam Rama. Laki-laki itu pun mengangkat panggilan tersebut.
"Iya Safira ada apa?" ucap Rama.
"Sayang apa nanti sepulang bekerja kamu sibuk?" tanya wanita itu dari balik telepon.
"Tidak. Ada apa?"
"Aku ingin bicara denganmu. Apa kamu bisa datang ke apartemenku?"
****
****
****
__ADS_1