
Semua tamu undangan sudah berkumpul di ruang tengah aula untuk menyambut sang pemilik acara. Siapa lagi jika bukan Kakek Bimo sang pemilik perusahaan Amarta's Group. Sebuah perusahaan terbesar yang ada di negara ini. Pembawa acara yang merupakan MC terkenal pun langsung membuka acara. Semua orang bertepuk tangan dengan meriah.
Di lain tempat, tepatnya di halaman parkir, seorang wanita baru saja turun dari taksi. Dengan gaun berwarna biru tua, wanita itu setengah berlari masuk ke dalam aula gedung.
"Sial, kenapa juga jalanan macet begitu. Jadinya aku tidak bisa menemui Rama. Aahh menyebalkan. Acaranya pasti sudah dimulai," gerutu Safira.
Wanita itu terus berlari tanpa memperdulikan keadaan sekitar. Ketika dirinya hampir saja masuk ke dalam aula gedung, tubuhnya membentur sosok seorang laki-laki. Safira hampir saja terjatuh jika saja laki-laki itu tidak menahannya.
"Maaf nona, apa anda tidak apa-apa?" Tanya seorang laki-laki yang tidak lain adalah Samir.
Dengan cepat Safira menghempaskan tangan Samir yang memegang pinggangnya. Wanita itu menatap tajam ke arah Samir lalu melotot.
"Berani sekali kamu menyentuhku," teriak Safira. Samir mengerutkan dahi bingung.
"Maaf nona. Saya tidak sengaja menyentuh anda tapi tadi anda hampir saja terjatuh jika saja saya tidak memegangi anda," jelas Samir.
"Iya tentu saja saya jatuh karena kamu berdiri di tengah jalan seperti tiang listrik."
"Sekali lagi maaf nona. Tapi bukannya anda yang berlari tanpa memperhatikan sekitar seperti orang yang sedang dikejar hutang," balas Samir dingin.
"Kamu….."
"Dan bukankah seharusnya anda berterima kasih karena sudah saya selamatkan. Jika tidak mungkin anda akan mencium lantai dingin ini."
"Berani sekali kamu berkata seperti itu. Sebenarnya siapa kamu?" bentak Safira. Samir hanya tersenyum.
"Saya? Perkenalkan saya Samir. Saya asisten pribadi tuan Rama," jelas Samir sambil mengulurkan tangannya akan tetapi tidak disambut oleh wanita itu. Membuat laki-laki itu menarik kembali tangannya.
"Jadi kamu adalah asisten pribadi Rama. Baik, aku akan minta Rama untuk segera memecatmu," ucap Safira ketus.
"Maaf nona?"
"Aku akan meminta Rama memecatmu karena sudah bertingkah tidak sopan kepada calon istrinya," ucap Safira dan lalu pergi meninggalkan Samir.
Calon istrinya? Apa Samir tidak salah dengar? Bukankah Rama sudah menikah dengan sahabatnya, Lian? Lalu siapa wanita itu? Pikiran Samir terus berputar. Akan tetapi dia berusaha untuk mengacuhkannya saja.
Laki-laki itu berjalan menuju ke pekarangan taman hotel dimana lokasi yang berdampingan dengan aula gedung tersebut juga sudah dihias sedemikian rupa karena masih merupakan bagian dari lokasi pesta. Pandangan Samir terus menyapu seluruh tamu undangan yang hadir di sana.
"Kamu dimana, Kian? Apa kamu tidak datang di acara ulang tahun perusahaan kakak iparmu sendiri?" gumam Samir.
__ADS_1
Iya sejak tadi dia terus mencari kehadiran sang sahabat. Dia yakin jika Kian pasti akan datang di acara ini. Bukankah keluarga Kakek Bimo sudah menjadi keluarga baginya juga.
"Sepertinya aku harus kembali ke dalam. Mungkin sebentar lagi Kian dan juga keluarganya akan segera datang," pikir Samir sambil melihat jam di tangannya.
***
"Ah Rama kamu dimana sih? Bukankah seharusnya kamu ada di sini?" gumam Safira. Dia terus mencari keberadaan sang kekasih di tempat dimana hampir semua tamu undangan berkumpul mendengarkan sambutan dari Kakek Bimo.
"Apa dia masih di ruang ganti ya?" Pikir Safira lagi.
Wanita itu kembali melangkah mencari sang kekasih. Suasana saat itu yang begitu ramai benar-benar mempersulit dirinya untuk mencari Rama. Dia terus berputar mengelilingi aula gedung akan tetapi berapa kali pun dia melakukan hal itu, tetap saja orang yang dicari tidak dia temukan.
"Aaahh menyebalkan!" gerutu Safira. Akhirnya karena kelelahan, wanita itu pun memilih duduk di salah satu bangku yang ada di sana saja. Matanya terus menatap Kakek Bimo yang sedang mengobrol dengan MC di dalam acara tersebut.
***
Langkah Samir terhenti saat kedua matanya melihat keluarga dari gadis yang dia tunggu telah tiba. Tentu saja siapa lagi kalau bukan kakek Dul, ayah Lukman, dan Ibu Araya. Tanpa menunggu waktu lama lagi dia langsung berjalan mendekati keluarga itu.
"Selamat siang Kakek, Om, Tante," ucap Samir yang langsung mencium punggung tangan ketiga orang dewasa di depannya. Mereka bertiga terbengong.
"Saya Samir. Apa kalian ingat?" ucap Samir mengenalkan diri. Mereka bertiga sempat terdiam sejenak, sampai ayah Lukman akhirnya mengingat laki-laki di depannya itu.
"Iya Om," jawab Samir tersenyum.
"Wah lima tahun kita tidak bertemu, rupanya kamu tambah keren aja ya," ucap ayah Lukman lagi.
"Ah, om bisa aja," jawab Samir malu. Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Sedang apa kamu di sini Nak Samir? Bukankah terakhir kali tante dapat kabar kamu tinggal di luar kota?" Tanya Ibu Araya.
"Iya Tante. Kebetulan saya bekerja di cabang Amarta's Group. Dan waktu aku menemui Rama yang merupakan teman masa kuliahku dulu, saya langsung dipindah tugaskan ke perusahaan utama," jelas Samir.
"Sebagai?"
"Asisten utama Rama," jawab Samir.
"Wow semakin hebat saja ya kamu ini," ucap Kakek Dul.
"Terima kasih Kek."
__ADS_1
Mereka kembali terdiam sejenak. Kakek Dul, ayah Lukman dan Ibu Araya bingung melihat tingkah Samir yang terus menerus menengok ke arah belakang mereka seolah seperti sedang mencari sesuatu.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" Tanya ayah Lukman.
"Hmm, Kian tidak ikut, Om?" tanya Samir. Mereka bertiga saling tatap sejenak.
"Sepertinya kamu belum mendapat kabar tentang Kian ya?" ucap ayah Lukman.
"Maksudnya Om?"
"Sudah lebih dari dua bulan, Kian bekerja di luar kota dan tinggal di sana."
"Apa? Lebih dari dua bulan? Apa Om bercanda?"
"Hey kenapa kamu kaget seperti itu? Iya, Om tidak bercanda. Kian memang sudah lebih dari dua bulan tidak tinggal bersama kami."
"Tapi.. Om.. beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan Kian," ucap Samir.
"Apa? Itu tidak mungkin. Mungkin yang kamu temui adalah Lian. Bukankah mereka kembar identik. Kami saja sebagai orang tuanya terkadang suka salah. Apalagi orang lain, bukan?"
"Tapi….."
Obrolan Samir terputus saat pembawa acara mengumumkan akan menyambut kedatangan sang CEO Amarta's Group.
"Sudahlah. Nanti kita akan bahas ini lagi. Sekarang ayo kita kesana. Rama dan juga Lian akan datang," ucap ayah Lukman.
Mereka berempat pun berjalan menuju aula utama dimana semua orang sedang menunggu kedatangan pemeran utama dalam acara tersebut.
"Dan inilah CEO Amarta's Group yang hadir bersama sang istri tercinta. Tuan Rama dan Nyonya Lian," ucap pembawa acara.
Semua orang bertepuk tangan dan menoleh ke sebelah kanan dimana sepasang suami istri itu berjalan mendekat.
"Istri…???" kaget Safira.
"Kian…???" gumam Samir.
****
****
__ADS_1
****