
Pagi itu Rama dan juga Kian sama-sama baru selesai berpakaian setelah mereka membersihkan diri masing-masing. Pergulatan panas nan panjang di antara dua insan ini nyatanya tetap tidak membuat mereka bersantai dan tidur sampai siang. Apalagi hari ini Rama harus menjemput Lian di rumah sakit. Tadi pagi laki-laki itu bahkan sudah menghubungi Samir dan mengatakan tidak akan masuk kerja hari ini.
"Mas," panggil Kian. Rambutnya yang masih sedikit basah terurai membuat wajah wanita itu tampak lebih segar dari biasanya.
"Iya," jawab Rama yang sedang menyisir rambutnya yang juga basah.
"Apa aku boleh ikut menjemput Lian?"
Pertanyaan dari Kian berhasil membuat Rama menghentikan gerakannya sesaat. Setelah selesai merapikan rambutnya, dia berbalik dan berjalan mendekati Kian yang sedang duduk di samping tempat tidur. Setelah dekat, bukannya duduk di samping Kian, Rama malah duduk di lantai dengan kepala dia baringkan di kaki wanita itu. Kian mengusap rambut laki-laki itu yang masih sedikit basah.
"Kenapa?" tanya Rama tanpa menoleh ke arah wajah Kian. Dia hanya berusaha menikmati setiap sentuhan lembut yang diberikan oleh Kian di kepalanya.
"Aku… aku hanya ingin ikut saja," jawab Kian polos. Rama mengangkat kepalanya dan menatap wajah wanita itu
"Apa kamu yakin? Kamu tau kan bagaimana saudara kembarmu itu? Apa kamu tidak akan merasa cemburu dengan apa yang akan dia lakukan nanti?" tanya Rama. Kian terdiam.
Wanita itu berpikir jika apa yang dikatakan oleh Rama ada benarnya juga. Lian pasti akan semakin bertingkah dengan berusaha bermesraan dengan Rama jika sampai dia ikut. Apa dirinya akan kuat jika melihat semua hal itu? Itu yang tidak bisa dijanjikan oleh Kian.
"Mas," ucap Kian lagi.
"Apa sayang?"
"Apa Mas percaya dengan semua penjelasanku kemarin?"
Kini Rama yang terdiam. Dia bahkan tak bergerak sama sekali seolah mematung setelah mendengar pertanyaan wanita itu. Rama sadar jika dia ingin sekali mempercayai wanita itu seratus persen. Akan tetapi kepercayaan itu tetap saja tidak bisa merubah sebuah kenyataan jika Lian adalah istrinya dan wanita yang bersamanya selama ini adalah Kian, adik iparnya.
"Mas, aku akan sangat senang jika kamu bisa percaya kepadaku. Aku hanya butuh kepercayaan darimu saja. Aku tidak butuh apapun lagi. Dan aku akan percaya penuh atas semua yang akan Mas lakukan kedepannya."
__ADS_1
Rama masih menatap dua bola mata indah itu. Dia sangat menyayangkan kenapa jalan hidupnya menjadi salah seperti ini. Kenapa sejak awal bukan Kian saja yang dia nikahi. Dan kenapa tidak dari sejak awal saja dia jatuh cinta kepada gadis ini, sehingga dia bisa memilih saat sang kakek menjodohkannya dulu.
Rama menggenggam kedua tangan Kian lalu menciumnya dengan dalam.
"Aku mencintaimu sayang. Dan aku sangat percaya penuh dengan semua yang sudah kamu katakan kepadaku. Aku percaya seratus persen dengan kata-katamu," ucap Rama pada akhirnya. Kini bibir Kian bisa kembali tersenyum dengan tulus. Dia sangat bersyukur karena laki-laki itu percaya dengan dirinya dan tidak termakan hasutan Lian.
Satu tangan Rama mendarat di tengkuk leher Kian lalu menariknya dengan lembut. Membuat wanita itu sedikit menunduk. Lalu sebuah kecupan manis pun mendarat di bibir wanita itu. Akan tetapi kali ini hanya sebuah kecupan singkat biasa, tanpa ada nafsu ataupun gairah di dalamnya.
Rama kembali berdiri dan lalu memakai jaket yang sebelumnya sudah disiapkan oleh Kian.
"Mas," tanya Kian lagi.
"Apa lagi sayang?"
"Jadi Mas mau membawa Lian pulang kemana? Apa ke rumah ibu?" tanya Kian. Dia masih penasaran karena laki-laki itu tidak mau mengajak istri sah nya itu tinggal di rumah keluarga Amarta dimana dirinya sekarang tinggal.
"Oohh."
"Kenapa? Gak apa-apa kan?"
"Gak apa-apa. Memangnya kenapa?" tanya Kian sambil tersenyum.
"Iya mungkin aja kamu cemburu dan tidak rela jika aku membawa Lian ke apartemenku. Kan kamu belum pernah tinggal disana," canda Rama sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Apa sih Mas. Gak jelas," ucap Kian lalu pergi keluar dari kamar itu dengan wajah yang merah merona karena malu, meninggalkan Rama yang tertawa.
***
__ADS_1
Setelah berpikir dan berdebat beberapa lama, akhirnya Kian memutuskan untuk ikut saja ke rumah sakit. Menurutnya akan lebih menyiksa jika sepanjang hari dia membayangkan kemesraan pasangan suami istri itu daripada melihatnya secara langsung. Walaupun Kian sendiri tau, jika di rumah sakit dia tidak akan bisa apa-apa selain menyaksikan tingkah Lian yang sudah pasti akan membuat hatinya terbakar.
Dan disinilah mereka. Di rumah sakit tepatnya di depan kamar rawat Lian. Kedua pasangan ini berdiri sesaat dengan tangan yang saling menggenggam kuat satu sama lain. Mereka seolah sedang mengumpulkan energi agar bisa kuat menghadapi ujian yang berada di depan mata. Setelah semuanya siap, Rama membuka pintu tersebut.
"Mas," teriak Lian sambil tersenyum. Akan tetapi senyumnya mendadak hilang seketika setelah dia melihat ada sosok Kian di samping sang suami.
Rama melihat kondisi Lian sudah sangat sehat. Jarum infus sudah terlepas dan dia juga sudah siap untuk segera pulang. Laki-laki itu maju terlebih dahulu diikuti oleh Kian yang mengekor di belakangnya.
Saat sudah dekat, dengan cepat Lian memeluk erat sang suami. Dan seperti biasa dia menciumi perut kekar laki-laki itu yang terlindungi jaket tebal. Rama sengaja memesan jaket tebal untuk disiapkan oleh Kian dan melihat hal itu Kian malah tersenyum karena kini dia mengerti maksud sang suami memintanya menyiapkan jaket tebal tersebut.
"Jadi, kakek Bimo sudah tau kan Mas? Aku bisa tinggal di rumah keluarga Amarta, kan?" tanya Lian dengan semangat. Rama menoleh ke belakang dimana Kian sedang berdiri. Lalu kemudian dia kembali menatap sang istri.
"Aku akan membawamu ke apartemen milikku. Untuk sementara kamu akan tinggal disana," ucap Rama tegas.
"Apa? Apartemen? Tapi aku gak mau tinggal di apartemen, Mas. Aku ingin tinggal di rumah keluarga Amarta," rengek Lian sedikit memanyunkan bibirnya.
"Aku sudah katakan sebelumnya bukan? Untuk sementara aku tidak bisa membawamu tinggal di rumah keluarga Amarta. Dan kamu tau jelas apa penyebabnya," ucap Rama. Lian menatap ke belakang dimana Kian sedang berdiri. Tatapan tajam dengan penuh kebencian terutama kepada perut Kian yang sedikit buncit dimana ada janin yang sedang tumbuh berkembang disana.
"Baik, aku akan tinggal di apartemen kamu, Mas. Tapi dengan satu syarat," ucap Lian sambil menatap tajam mata sang suami.
"Apa itu?" tanya Rama santai.
"Aku ingin kamu juga ikut tinggal denganku di apartemen."
****
****
__ADS_1
****