
BAB 106
PESTA ULANG TAHUN
Siang itu semua kerabat dan juga tamu undangan sudah berkumpul di gedung utama sebuah hotel milik perusahaan Amarta's Group. Semua orang yang hadir di setiap acara keluarga Amarta selalu saja merasa kagum dengan keluarga kaya raya ini. Walaupun banyak sekali pesta yang selalu mereka rayakan akan tetapi tema dari setiap acara selalu berbeda-beda. Membuat para tamu undangan tidak pernah bosan jika hadir ke dalam acara besar mereka.
Seperti hal nya hari ini. Acara perayaan hari ulang tahun sang pemilik perusahaan, Bimo Amarta, nyatanya begitu sangat mewah dan juga mempesona. Bahkan acara ini diizinkan untuk disiarkan secara live oleh beberapa stasiun televisi swasta.
Setiap tamu undangan yang hadir bersama keluarga mereka, kini sedang asyik menikmati setiap hidangan yang sudah disediakan. Walaupun tokoh utama di dalam acara ini belum datang akan tetapi mereka memang sudah dipersilahkan untuk mencicipi semua makanan yang sudah ada disana.
Di dalam kamar salah satu hotel, seorang gadis cantik dengan gaun berwarna biru muda serta bunga-bunga yang menjadi hiasannya sedang berdiri tegak di depan cermin. Pandangannya memang menatap ke arah cermin tersebut akan tetapi pikirannya sebenarnya sedang melayang ke tempat lain.
Sejak sang kakak kembali ke dalam kehidupannya dan meminta untuk mengembalikan apa yang sebenarnya menjadi miliknya, membuat hidup Kian menjadi tidak pernah tenang. Antara hati dan juga pikirannya selalu saja bertengkar. Membuat kepalanya merasa pusing.
Lamunannya membuyar saat sebuah tangan melingkar dari pinggang menuju ke perut. Dan setelah itu diikuti sebuah dagu yang berpangku di bahu milik wanita itu.
"Apa yang sedang kamu lamunkan sayang?" ucap Rama.
"Tidak ada," jawab Kian berbohong.
"Aku hanya sedang meneliti apakah ada bagian yang kurang dari riasanku hari ini," alasan wanita itu.
"Hmm, tidak ada yang kurang sayang. Semua sempurna. Kamu terlihat sangat cantik sekali," puji Rama. Kian tersenyum.
__ADS_1
Rama mencium leher Kian sekilas lalu melepaskan pelukannya. Dia kembali merapikan pakaiannya lalu menyemprotkan minyak wangi ke sekujur tubuhnya.
"Oh iya, apa kakek sudah turun?" tanya Kian.
"Belum. Nanti sebelum turun, kita akan pergi ke kamar kakek terlebih dahulu. Lalu nanti kita turun sama-sama seperti biasa," jelas Rama.
"Hmm, ok."
***
Di luar hotel, Lian baru saja sampai ke tempat itu dengan menggunakan taksi. Kendaraan umum itu sengaja berhenti agak jauh karena wanita itu ingin memantau situasi terlebih dahulu. Lian menyapu seluruh pelataran hotel yang bisa dijangkau oleh matanya.
"Sial, kenapa penjagaannya ketat sekali? Bagaimana aku bisa masuk ke sana kalau penjaganya banyak seperti ini?" ucap Lian dalam hati. Dia benar-benar kesal karena pesta itu dijaga oleh banyak pengawal. Iya tentu saja hal itu pasti terjadi, secara orang nomor satu di dunia bisnis yang sedang mengadakan acara. Sungguh suatu hal yang mustahil jika orang biasa dapat keluar masuk dengan bebas.
"Nona apa kita akan berhenti disini? Atau anda ada tujuan lain lagi?" tanya sang supir taksi. Dia bingung karena penumpangnya itu tak kunjung turun. Sedangkan dia harus segera pergi untuk mencari penumpang lain lagi dan mengejar setoran.
Setelah membayar, wanita itu pun turun dari mobil tersebut. Dia sedikit merapikan gaunnya yang berwarna hitam itu. Lian sengaja mengenakan gaun agar dirinya bisa masuk ke dalam acara tersebut. Akan tetapi setelah melihat pemeriksaan undangan di pintu masuk, membuat gadis itu harus memutar otak.
Saat sedang berpikir, sebuah mobil melintas di depannya. Mata Lian melihat pantulan dirinya pada kaca mobil tersebut. Sesaat dia termenung, akan tetapi sesaat kemudian dirinya tersenyum.
"Kenapa aku bisa lupa kalau wajahku sama persis dengan wajah Kian? Jika mereka melihatku tentu saja mereka tidak akan mencurigaiku, bukan?" gumam Lian sambil tersenyum licik.
Wanita itu pun menyebrang jalan dan memulai aksinya. Dengan penuh percaya diri, dia melangkah mendekati pemeriksaan para tamu tersebut. Benar seperti apa yang dipikirkan oleh Lian. Saat wanita itu sampai di pos pemeriksaan, para penjaga itu hanya tersenyum dan memberi hormat. Mereka tidak memiliki rasa curiga sedikitpun kepada Lian. Rencananya berhasil. Wanita itu akhirnya bisa masuk ke dalam acara pesta ulang tahun Kakek Bimo.
__ADS_1
"Baiklah, kita akan sambut inilah Tuan Bimo Amarta, Tuan Rama Amarta dan juga Nyonya Lian Amarta."
Suara sang pembawa acara terdengar menggema di dalam ruangan tersebut. Diikuti oleh riuh tepuk tangan para tamu yang datang. Dan hal itu juga berhasil menarik perhatian Lian. Kini wanita itu bisa melihat tiga orang yang sudah disebutkan tadi. Mereka berdandan sangat apik. Apalagi Kian, yang hari itu tampak sangat cantik, dengan gaun yang sangat indah, juga perhiasan mewah yang menempel di tubuhnya.
"Pantas saja kamu rela untuk menyerahkan tubuhmu pada suamiku. Ternyata kemewahan ini yang sudah kamu dapatkan. Sayangnya kemewahan itu seharusnya milikku Kian, dan selamanya akan menjadi milikku."
Sebuah kue ulang tahun berukuran besar setinggi orang dewasa pun didorong masuk mendekati altar. Tidak tanggung-tanggung, untuk memotong kue ulang tahun itu, kakek Bimo harus menggunakan pedang yang panjang. Semua orang bertepuk tangan kembali setelah tajamnya pedang tersebut berhasil membelah sebagian kue berwarna putih tersebut.
"Baiklah karena acara inti sudah selesai, maka kami mempersilahkan kepada seluruh tamu undangan untuk kembali menikmati seluruh acara dan juga hidangan yang sudah kami siapkan." tutup sang pembawa acara.
Sebagian para kolega bisnis lebih memilih untuk mendekati Kakek Bimo dan mengucapkan selamat terlebih dahulu. Selain tentu saja menunjukkan kehadirannya kepada orang nomor satu di dunia bisnis tersebut. Acara ulang tahun ini juga dijadikan sebagai ajang mencari muka kepada pemilik perusahaan Amarta's Group tersebut.
Rama dan juga Kian turun untuk menemui para tamu undangan yang masih menunggu giliran menemui sang tokoh utama acara tersebut. Tangan Kian tak pernah lepas melingkar di lengan Rama. Dan hal itu berhasil membuat Lian emosi. Dia mengepalkan tangannya kuat dengan mata yang melotot tajam.
"Aku akan terus memperhatikanmu Kian. Hari ini, iya hari ini adalah hari terakhirmu berada di sisi Mas Rama. Setelah ini, kamu akan menghilang dari keluarga Amarta. Selamanya!" gumam Lian.
Wanita itu menengok ke arah kiri dan kanan, lalu melangkahkan kakinya menuju ke arah pojok ruangan yang terhalang oleh kain. Dia mengeluarkan sebuah serbuk dari dalam tasnya dan tersenyum.
"Aku akan mengakhiri semuanya, Kian. Semua akan berakhir sampai disini," gumam Lian lagi.
Dia lalu mengambil segelas minuman yang berada di dekatnya, mencampurkan serbuk obat tersebut. Bibirnya kembali menyeringai membayangkan apa yang akan terjadi setelah sang adik kembarnya itu meminum minuman tersebut.
****
__ADS_1
****
****