
Lian baru saja selesai membersihkan dirinya di kamar mandi saat sebuah panggilan masuk ke dalam ponselnya. Bibir gadis itu tersenyum saat kedua matanya melihat nama yang muncul di layar ponsel tersebut.
"Vicky," gumam Lian.
Dengan cepat dia mengangkat panggilan tersebut.
"Halo sayang," sapa Lian dengan riang.
"Hai sayang," ucap Vicky dari balik panggilan sana. Mendengar sang kekasih mengucapkan kata sayang lagi setelah sekian lama tidak dikatakan, membuat Lian sangat bahagia. Dia merasa jika sang kekasih telah kembali. Dia merasa jika uang yang sudah diberikan kepada laki-laki itu, telah berhasil membuat dirinya mendapatkan cintanya lagi.
"Aku sangat merindukanmu, sayang," ucap Lian lagi.
"Aku juga. Apa kita bisa bertemu?"
"Kapan?"
"Hari ini."
"Hari ini?" tanya Lian.
"Iya. Kenapa?"
"Sebenarnya hari ini aku masih di rumah ibu. Aku belum pulang ke rumah kontrakan. Bagaimana jika besok saja? Hari ini aku akan usahakan pulang lagi ke rumah kontrakan."
"Baiklah!" ucap Vicky lalu dengan segera menutup panggilan itu.
"Dia kenapa? Apa dia marah lagi gara-gara aku menolak untuk menemuinya hari ini?" gumam Lian. Gadis itu pun melanjutkan acara berpakaiannya yang tadi sempat tertunda.
Setelah dirasa sudah selesai dengan segala make overnya, Lian pun keluar kamar dan turun ke bawah. Dia menarik nafas panjang saat melihat ibu dan juga kakeknya masih juga belum pulang. Rasa lapar yang terus berpesta di perutnya, membuat wanita ini melangkahkan kakinya menuju ke arah dapur. Tangannya membuka lemari pendingin untuk melihat ada makanan apa di dalam sana.
Sebuah Apel akhirnya yang menjadi pilihan gadis itu. Sambil berjalan ke arah sofa, dia menggigit buah merah tersebut. Baru saja dirinya duduk di sofa, Ibu Araya dan juga kakek Dul masuk ke dalam rumah.
"Hmm senangnya yang sudah jalan-jalan sama menantu kesayangan," gumam Lian dalam hati.
__ADS_1
"Kian kamu sudah bangun?" tanya Kakek Dul. Lian tersenyum. Mengeluarkan senyuman semanis yang dia bisa.
"Iya kek. Kalian baru pulang?" tanya Lian.
"Iya Nak. Tadi Rama menyelesaikan semua urusan perusahaan kita. Dan mulai hari ini semua perusahaan kita menjadi milik Amarta's Group," jelas sang kakek.
"Apa? Tapi kenapa harus diambil alih oleh Mas Rama? Bukankah seharusnya perusahaan itu menjadi milikku? Ehm, maksudku menjadi milik Lian?" tanya Lian. Pernyataan tersebut berhasil membuat sang ibu geram. Apalagi sekarang dia sudah tau siapa gadis yang sekarang berada di depannya itu.
"Kenapa harus diberikan kepada Lian?" tanya sang Ibu dengan nada ketus. Lian terdiam.
"Anak ibu ada dua. Kalian harus mendapatkan bagian yang sama rata. Tapi untuk sementara, ibu rasa kalian belum siap untuk menerima tanggung jawab sebesar itu. Jadi ibu pun mengambil keputusan agar perusahaan kita bisa diambil alih oleh Amarta's Group. Setidaknya sampai kalian siap untuk menerima tanggung jawab itu."
Lian terdiam. Baru kali ini dia melihat sang ibu bicara setegas itu. Dan tatapan wanita itu kepadanya, Lian bisa merasakan jika ada rasa kebencian di dalamnya. Tapi kenapa? Lian tidak tahu atau tepatnya belum tahu apa alasan sang ibu seperti tampak membencinya.
Mereka bertiga kembali terdiam. Tak ada satu orang pun yang berbicara satu sama lain. Sampai pada akhirnya Lian pun kembali membuka suara.
"Ibu, nanti sore aku akan kembali ke rumah kontrakan. Besok aku ada acara bersama teman-teman sekantor," ucap Lian.
"Kenapa harus nanti sore? Apa tidak bisa besok saja?" tanya Kakek Dul.
"Boleh kan Bu?" tanyanya.
"Hmm," jawab sang ibu. Dia sedang tak ingin mengomentari apapun lagi tentang Lian. Karena sejak Kian memberitahukan kebenaran tentang saudara kembarnya itu, rasa percayanya kepada Lian sudah menghilang seratus persen.
Setelah mendapatkan izin dari sang ibu, Lian pun berpamitan kepada kedua orang berbeda generasi itu untuk kembali ke kamarnya dan membereskan barang-barangnya kembali.
***
Tepat pukul tujuh malam, Lian sampai di rumah kontrakannya. Dia membereskan dulu rumah tersebut dari debu-debu yang menempel selama tempat itu dia tinggalkan beberapa hari ke belakang. Lalu membersihkan tubuhnya dan setelah semuanya beres, Lian langsung menghubungi sang kekasih.
Nada sambung terdengar beberapa kali akan tetapi tak ada siapapun yang menjawab panggilan tersebut. Lian sedikit mengerutkan kening. Di dalam pikirannya dia bertanya kemana sang kekasih sekarang ini? Karena masih penasaran Lian kembali menghubungi nomor sang kekasih. Dan ternyata masih sama. Hanya nada dering yang terdengar berulang-ulang tanpa ada siapapun yang mengangkat panggilan tersebut.
Lian hampir putus asa. Dia mulai takut kalau sang kekasih kembali marah kepadanya karena penolakannya kemarin. Bukankah Vicky memang paling tidak suka jika keinginannya ditolak. Tidak! Lian tidak mau jika sampai hal itu terjadi lagi. Lian tidak mau jika dia harus kembali jauh dari sang kekasih. Dia sudah bahagia karena Vicky sudah mau menemui dan bicara kepadanya lagi.
__ADS_1
Dengan cepat Lian kembali menghubungi Vicky. Nada sambung kembali terdengar dan sesaat sebelum panggilan itu mati, terdengar suara seorang laki-laki dari balik sana.
"Halo," ucap Vicky. Lian menghembuskan nafas lega. Karena ternyata Vicky masih mau mengangkat panggilannya.
"Halo sayang. Kamu kemana saja? Kenapa lama sekali mengangkat teleponnya," rengek Lian dengan suara manjanya seperti biasa.
"Maaf sayang, tadi aku sedang di kamar mandi. Jadi tidak bisa mengangkat panggilan darimu."
Sebuah jawaban dari Vicky yang lagi dan lagi membuat Lian lega. Karena ketakutannya sejak tadi nyatanya hanya khayalan buruknya saja.
"Ada apa?" tanya Vicky lagi.
"Oh iya, aku hanya ingin memberitahu saja kalau aku sudah ada di rumah kontrakan lagi," ucap Lian sambil tersenyum.
"Benarkah?" Terdengar nada semangat di suara Vicky dan itu benar-benar membuat Lian sangat bahagia.
"Iya sayang. Apa kamu senang?"
"Tentu saja. Baiklah sebentar lagi aku akan datang kesana. Aku akan menginap disana. Kamu tunggu aku ya sayang."
"Kamu mau datang kesini?" tanya Lian pura-pura kaget. Padahal hatinya sangat senang bahkan rasanya dia ingin melompat-lompat saja.
"Iya aku akan datang kesana. Kamu tunggu aku."
"Pastinya. Hati-hati di jalan ya sayang,"
"Iya. Miss u,"
"Miss u to honey."
Lalu panggilan mereka pun terputus. Lian senyum-senyum sendiri. Pikirannya mulai berfantasi yang tidak-tidak. Dia mulai memikirkan hal apa saja yang akan dia dan sang kekasih lakukan setelah mereka bertemu nanti. Apalagi laki-laki itu berkata kalau dia akan menginap di rumah kontrakannya. Sudah bisa Lian tebak bagaimana mereka akan menghabiskan malam ini bersama.
****
__ADS_1
****
****