
Mobil yang dikendarai oleh Rama dan juga Kian berhenti di pinggir jalan yang cukup sepi. Rama sengaja menghentikan mobil tersebut karena melihat sang istri terus saja menangis di sampingnya. Ada rasa tidak tega saat menatap Kian dengan kondisi yang berantakan. Dan muncul juga rasa amarah dan juga dendam terhadap laki-laki yang sudah melakukan hal ini kepada sang istri.
"Lian," Panggil Rama lirih. Akan tetapi sang gadis masih terus menatap ke arah jalan di samping sambil menangis.
"Lian," ucap Rama lagi dan kini tangannya menyentuh bahu sang istri.
Kian menoleh ke arah Rama. Kedua matanya begitu sembab dengan kulit wajah yang sedikit pucat. Dengan cepat laki-laki itu menariknya ke pelukannya. Air mata Kian jatuh semakin deras di dalam dekapan laki-laki itu. Beberapa kali Rama mencium puncak kepalanya untuk menenangkan sang istri.
"Tenanglah sayang. Sudah aku katakan kalau aku tidak akan membiarkan hal buruk apapun terjadi kepadamu. Aku akan selalu melindungimu. Aku janji," ucap Rama. Akan tetapi Kian tak berhenti menangis. Dan laki-laki itu membiarkannya.
Hampir satu jam lamanya mereka berada di posisi itu. Sampai pada akhirnya isak tangis Kian sedikit mereda dan dia pun mundur untuk melepaskan dirinya dari pelukan Rama. Laki-laki itu memberikan sebotol air mineral yang ada di bangku belakang mobil.
"Minumlah dulu agar kamu bisa sedikit tenang!" titah Rama. Akan tetapi Kian malah menggeleng.
"Lian sayang," ucap Rama penuh penekanan. Gadis itu menatap sang suami.
"Ayo. Minum dulu!" pintanya lagi dengan nada yang begitu lembut. Kian akhirnya meneguk air minum itu.
"Apa kamu sudah merasa tenang?" tanya Rama. Kian mengangguk.
"Baguslah. Kalau begitu kita akan melanjutkan perjalanan."
Rama pun kembali menjalankan mobilnya. Sesekali pandangan laki-laki itu melirik ke arah Kian yang masih melamun menatap jalan di sampingnya. Rama menghembuskan nafas berat. Dia tau kalau saat ini yang dibutuhkan oleh sang istri hanyalah ketenangan. Itu sebabnya Rama membiarkan sang istri seperti itu.
Setelah beberapa kilometer perjalanan, mobil itu malah berbelok ke sebuah hotel. Kian yang sadar jika mobil itu berhenti di tempat yang tidak seharusnya, menoleh ke arah sang suami. Rama tersenyum.
__ADS_1
"Kita tidak mungkin pulang dengan keadaanmu yang seperti ini. Bisa-bisa kakek membunuhku kalau dia melihatmu seperti ini. Jadi aku putuskan malam ini kita menginap saja di hotel," ucap Rama.
"Tapi kakek?" tanya Kian lirih.
"Aku akan menghubunginya setelah kita mendapatkan kamar. Aku yakin dia tidak akan marah jika tau aku mengajakmu menginap di hotel."
Rama mendekati Kian dan melepaskan sabuk pengaman yang melingkar di pinggang wanita itu.
"Ayo!" Ajak Rama. Kian mengangguk.
Laki-laki itu keluar dari dalam mobil lalu berjalan memutar untuk mempersilahkan sang istri turun. Saat sedang berjalan, Rama merangkul sang istri. Kian menatap wajah Rama yang juga sedang memandangnya sambil tersenyum. Akan tetapi kali ini tak ada penolakan dari wanita itu. Dia membiarkan Rama melakukan apapun yang dia inginkan.
Kian duduk di tepi tempat tidur setelah mereka mendapatkan kamar untuk menginap. Sebuah kamar yang cukup luas dan sangat nyaman untuk ditempati. Rama membantu Kian untuk duduk bersandar dengan kaki yang lurus di atas tempat tidur. Awalnya Rama menyuruhnya berbaring tapi Kian menolaknya. Tak ingin memaksa sang istri akhirnya dia pun menuruti keinginan wanita itu. Rama hanya menutupi kakinya dengan selimut.
"Aku akan menghubungi kakek sebentar," ucap Rama dengan tangan yang mengusap lembut kepala Kian. Gadis itu pun mengangguk.
Rama masuk dan sangat kaget melihat sang istri seperti itu. Dengan cepat laki-laki itu memeluknya dan membiarkan sang istri menangis di dalam pelukannya.
"Lian tenanglah. Tidak terjadi apa-apa padamu. Semua baik-baik saja," ucap Rama menenangkan.
Perlahan wanita itu mulai tenang. Rama melepaskan pelukannya dan lalu merapikan rambut sang istri serta mengusap sisa-sisa air matanya.
"Lian, apa kamu percaya padaku?" ucap Rama lirih. Tatapan mereka saling bertemu.
"Jika kamu percaya padaku, tolong jangan menangis lagi. Lupakan semua kejadian tadi. Aku tau pasti rasanya sulit tapi kamu tidak sendiri. Ada aku suamimu yang akan selalu ada di sisimu, menemanimu, menjagamu. Apa kamu mau melakukan semua itu untukku?" ucap Rama lagi.
__ADS_1
Untuk beberapa saat tubuh Kian mematung. Dia merasakan debaran di hatinya semakin kuat dan semakin jelas terasa untuk berkata jika dirinya tengah jatuh cinta kepada laki-laki di depannya ini. Kini Kian tak bisa mengungkiri jika dirinya memang jatuh cinta kepada Rama. Wanita itu pun mengangguk perlahan.
"Bagus. Sekarang kamu istirahat ya. Aku sudah menghubungi kakek. Dan kamu tau apa yang kakek katakan?" tanya Rama dengan tersenyum. Kian menggelengkan kepala.
"Katanya aku boleh membawamu menginap di hotel selama yang aku mau asalkan pulang dari sini kita membawakan cucu untuknya," canda Rama sambil tertawa. Sedangkan Kian hanya tersenyum lirih.
Rama menatap ke arah sang istri. Perlahan dia mengusap kepalanya, memainkan rambut panjangnya lalu mengelus kedua pipinya.
"Aku minta maaf. Seandainya saja aku tidak mengajakmu ke acara reuni mungkin kejadian tadi tidak akan terjadi." ucap Rama lagi.
"Tidak apa-apa," jawab Kian pelan.
"Ya sudah. Ini sudah malam. Ayo kita tidur. Ingat kata-kataku. Kamu jangan pernah takut pada apapun karena aku akan selalu ada untuk menjagamu."
Kian kembali mengangguk. Lalu mereka berdua pun berbaring dan terlelap dengan posisi Kian yang dipeluk oleh Rama.
***
Di rumah keluarga Amarta. Kakek Bimo sedang menghubungi seseorang via telepon. Wajahnya tampak sangat mengerikan. Mata tajam membunuh dengan ekspresi marah benar-benar membuat siapapun yang melihatnya pasti akan sangat ketakutan.
"Ya, hancurkan sampai tak bersisa. Aku tidak akan membiarkan siapapun bisa bermain-main dengan anggota keluarga Amarta. Mereka yang sudah berani menyentuh keluarga Amarta artinya mereka tengah mencari masalah. Setelah semuanya hancur, pasang berita di semua media. Jadikan kejadian ini menjadi pelajaran bagi semuanya. Agar tidak akan ada yang berani lagi mencari masalah dengan keluarga Amarta."
Kakek Bimo menutup teleponnya. Dia duduk terdiam di sofa dengan kedua tangan yang mengepal erat. Pandangannya tajam seolah-olah sedang menatap orang yang tengah membuatnya marah. Inilah Kakek Bimo yang sebenarnya. Jika di dalam rumah, dia bisa bertingkah layaknya seorang kakek yang penuh kasih sayang, akan tetapi jika sudah menyangkut bisnis dan juga anggota keluarga, dia bisa berubah menjadi mafia yang sangat menakutkan.
****
__ADS_1
****
****