
Malam itu jarum jam yang melingkar di tangan Kian sudah menunjukkan pukul 9 tepat. Namun gadis itu masih juga belum kembali ke rumah selepas jalan-jalannya dari tadi pagi ke kebun binatang bersama sang suami. Sebuah jalan-jalan yang terasa sangat menyenangkan dan cukup berhasil membuat mereka menjadi lebih dekat. Setidaknya itulah yang dirasakan oleh gadis itu. Sampai pada akhirnya muncullah sosok sang perusak suasana. Safira! Gadis itu benar-benar menghancurkan segalanya. Bahkan karena gadis itu juga, kini dirinya harus terjebak di dalam sebuah restoran di depan komplek perumahan sendirian hanya untuk menunggu sang suami pulang.
-FLASHBACK ON-
Sesuai kesepakatan yang sudah diambil oleh Rama dan juga Safira akhirnya laki-laki itu mengizinkan sang kekasih untuk tinggal di apartemennya. Walaupun kali ini tidak untuk selamanya akan tetapi hanya sementara saja. Rama memberikan alasan jika sekarang sang kakek selalu datang ke apartemen hanya untuk mengecek keadaannya. Dan wanita itu percaya begitu saja.
Sebelum mereka melaju ke arah apartemen milik Rama, laki-laki itu membelokkan kendaraannya untuk parkir di depan sebuah kafe romantis yang sedang mereka lalui. Rama melakukan hal itu karena Safira merengek ingin makan disana. Wanita itu tertarik dengan desain romantis yang disajikan oleh kafe tersebut. Dan benar saja, sesampainya di dalam, ternyata tempat itu benar-benar sangat sempurna untuk didatangi oleh kedua insan yang sedang jatuh cinta.
Mereka bertiga duduk di salah satu meja yang ada di sana. Beberapa hidangan yang sudah dipesan, kini tersedia di atas meja dan penampilannya benar-benar sungguh menggoda. Sangat berbeda dengan burger yang dia pesan di restoran dekat kebun binatang itu.
"Sayang, coba ini deh," ucap Safira sambil menyodorkan satu gelas minuman dingin yang merupakan pesanannya kepada Rama.
Belum sempat Rama menerima gelas minuman itu, dengan cepat tangan Kian meraih wajah laki-laki itu agar menghadapnya dan lalu menyuapkan cemilan miliknya kepada Rama.
"Mas ini juga enak," ucap Kian sambil memasukkan cemilan ke mulut Rama. Dan hal itu berhasil membuat Safira sedikit risih dan terganggu.
Rama menyadari kalau apa yang dilakukan oleh Kian sudah membuat Safira tak nyaman. Hal itu terlihat dari wajah sang kekasih yang tidak lagi terlukis senyum di sana.
"Sayang, aku ke toilet dulu." Tanpa menunggu jawaban dari Rama, Safira langsung beranjak pergi ke toilet.
Kian menatap kepergian wanita itu dengan tersenyum tipis. Entah kenapa tapi rasanya senang saja bisa menghalangi sepasang kekasih ini bermesraan.
"Mana ponselmu?" ucap Rama yang berhasil membuat Kian menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Mas mau apa?" tanya Kian.
"Mana ponselmu?" ucap Rama lagi tapi kali ini dengan sedikit penekanan. Kian lalu memberikan ponselnya kepada laki-laki itu.
Rama tampak mengetikan sesuatu pada ponsel Kian untuk beberapa saat lalu dia memberikannya kembali kepada gadis itu sambil berbicara.
"Aku sudah pesankan taksi online untukmu. Kamu pulanglah dulu. Aku akan mengantar Safira ke apartemen. Dan satu hal yang harus kamu lakukan. Jangan beritahukan kakek jika aku bertemu dengan Safira. Apalagi memberitahukan kakek kalau Safira tinggal di apartemenku. Apa kamu mengerti?" ucap Rama tegas.
"Tapi Mas…."
"Oh iya satu lagi. Aku sudah membayarnya jadi kamu tinggal duduk manis saja."
"Mas, aku…."
Rama mengangkat tangannya ke depan Kian. Dan lagi-lagi hal itu bisa membuat Kian diam tanpa kata.
Kian menatap sang suami yang berdiri menyusul wanita itu. Ada rasa sakit yang tiba-tiba saja muncul di dalam hatinya. Kian tidak tau kenapa. Yang jelas rasa sakit itu sudah berhasil membuat titik-titik air jatuh dari sudut matanya. Dengan langkah yang gontai, dia mulai berjalan keluar kafe tersebut. Sebuah mobil yang merupakan taksi online sudah menunggu di depan. Kian naik ke dalam mobil itu sambil terus menatap meja yang masih kosong.
Sepanjang perjalanan dia terus berpikir alasan apa yang akan dia berikan kepada Kakek Bimo. Jika alasannya pergi ke kantor, rasanya itu mustahil karena kakek Bimo bisa saja langsung mengecek ke kantor. Apalagi tadi pagi sang cucu sudah mengatakan kalau dirinya mengajukan izin tak masuk kerja hari ini.
Pusing karena tidak menemukan jalan keluar akhirnya Kian memutuskan untuk menunggu Rama pulang saja. Dia berhenti sebelum mobil itu masuk ke dalam perumahan dimana rumah kakek Bimo berada. Kian memutuskan untuk kembali masuk ke dalam sebuah restoran yang ada disana. Rasanya lelah juga karena seharian ini dia sudah memasuki tiga buah restoran. Tapi mau bagaimana lagi. Hanya ini satu-satunya tempat yang nyaman untuk menunggu. Akan tetapi meskipun hari sudah larut, nyatanya Rama belum juga kembali.
-FLASHBACK OFF-
__ADS_1
"Nona maaf, kami harus tutup karena ini sudah malam," ucap salah satu pelayan restoran tersebut. Kian melihat ke arah jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul sepuluh. Gadis itu menoleh ke arah pelayan lalu mengangguk.
Kian berjalan keluar diikuti oleh para pelayan yang mulai membereskan segala peralatan di dalam restoran tersebut. Ini memang sudah malam. Dan hampir semua toko dan restoran di sekitarnya sudah mulai tutup. Kian bingung, dimana dia akan menunggu Rama?
Langkah demi langkah yang terjadi tanpa tujuan itu nyatanya malah membawa Kian ke sebuah taman kota. Kondisi disana lumayan sepi dan sejujurnya Kian agak sedikit takut. Bukan takut dengan makhluk tak kasat mata melainkan takut ada penjahat yang bisa saja melukai dirinya.
Kian berhenti sesaat, menatap luasnya taman yang tampak gelap. Hanya ada sedikit pencahayaan yang berasal dari beberapa lampu taman disana. Langit malam bertambah gelap saat lambat laun hujan mulai turun. Dari gerimis kecil lalu berubah menjadi sedikit deras.
Kian berlari ke arah gazebo kecil yang ada di samping taman. Pakaiannya sedikit basah karena air hujan dan itu membuat Kian kedinginan. Apalagi tadi pagi saat berangkat, dia tidak membawa jaket. Dia pikir kalau pulangnya tidak akan sampai selarut ini.
Kian menggosok-gosokkan kedua tangannya untuk menciptakan rasa hangat. Sesekali dia melihat ke arah ponselnya. Sebuah pesan kepada sang suami yang mengatakan jika dirinya menunggu di restoran depan komplek, nyatanya hanya dibaca saja oleh laki-laki itu. Tak ada balasan walaupun hanya satu huruf saja.
"Mas, sebenarnya kalian ada dimana? Dan apa yang sedang kalian lakukan sampai selarut ini?" batin Kian.
Air matanya kembali jatuh saat dia teringat kembali dengan adegan romantis Rama dan Safira.
"Ayolah Kian kenapa kamu jadi sedih gara-gara Mas Rama bersama wanita lain? Bukankah dia itu bukan siapa-siapa bagimu? Dia itu suami Lian, kakakmu. Tapi kenapa hatiku merasakan sakit saat melihat Mas Rama bermesraan dengan wanita lain?" Kian terus menyeka air matanya yang tak berhenti menerobos keluar.
"Apa mungkin aku jatuh cinta pada Mas Rama?" gumam Kian lirih. Lalu dengan segera dia menggelengkan kepalanya, menghapus pemikiran anehnya tersebut. Bagaimana mungkin dia jatuh cinta kepada kakak iparnya sendiri?
Kian kembali mengirimkan pesan kepada Rama. Dia berkata jika kini dirinya menunggu di gazebo taman. Kian sangat berharap jika Rama akan segera datang dan menjemputnya. Apalagi hujan turun semakin deras dan kini disertai dengan kilat dan juga petir. Kian benar-benar ketakutan dan juga kedinginan.
****
__ADS_1
****
****