
Siang itu penguburan untuk almarhum Lukman dilakukan. Semua orang tampak menangis meninggalkan jejak rasa haru dan juga kesedihan dimana-mana. Hanya ada satu orang yang terlihat tegar atau mungkin biasa-biasa saja dan terkesan cuek. Iya, dia adalah Lian. Yang dimata semua anggota keluarga itu adalah Kian.
Lian memang sengaja diberitahu dan dipanggil untuk datang tadi pagi. Berbeda dengan Kian yang histeris, Lian justru datang ke rumah dengan santai. Memakai sebuah celana panjang hitam dan kaos panjang yang juga berwarna selaras serta sebuah kaca mata hitam yang menutupi kedua matanya. Cantik? Iya tentu saja. Akan tetapi apa yang dia lakukan berhasil membuat dirinya menjadi bahan perbincangan orang-orang yang hadir di acara pemakaman tersebut.
Berbeda dengan sang ibu yang ditemani oleh sang kakek, Kian yang menangis di pelukan Rama, sedangkan Lian? Dia hanya berdiri sendiri. Sang kekasih Vicky tidak mungkin bisa hadir di acara pemakaman ini. Karena jika laki-laki itu hadir maka kakek dan juga ibunya pasti akan tau siapa dia sebenarnya.
Tangan Lian mengepal kuat saat melihat sang adik kembarnya Kian terus menangis di pelukan Rama. Bukan karena cemburu tapi karena sang adik sampai hari ini masih tidak peduli dengan semua ancaman yang dia lontarkan kepadanya.
"Brengsek kamu Kian. Aku jadi harus mencuri uang perusahaan gara-gara kamu. Lihat saja mulai hari ini aku tidak akan membuat hidupmu tenang," pikir Lian.
Di lain tempat, Rama yang masih mendekap sang istri dengan kuat, kedua matanya terus menatap Lian. Dia sadar bahwa wanita itu sedang memandang dengan penuh kebencian kepada wanita yang sedang mengandung anaknya ini. Dia mengerti jika wanita itu sedang merencanakan sesuatu yang buruk kepada sang istri akan tetapi dia pun berjanji dalam hati jika dia tidak akan pernah membiarkan hal buruk apapun terjadi kepada ibu dari calon anaknya itu.
Bagi Kian sendiri, dia sudah tidak memperdulikan apapun lagi. Rasa sedih dan juga kehilangan sang ayah sudah mendominasi dirinya. Membuat Kian tidak menyadari apapun yang sedang terjadi di sekitarnya. Dia bahkan tidak sadar jika sejak dari tadi Lian menatapnya dengan tatapan tajam.
Kian terus menangis menatap jasad sang ayah yang sudah mulai ditutup kembali dengan tanah. Mulai hari ini, dia tidak akan pernah bisa lagi bertemu dengan laki-laki itu. Mulai hari ini dia tidak akan pernah bisa lagi mendengar suaranya. Mulai hari ini dia tidak akan pernah bisa lagi melihat senyuman di wajahnya. Hancurnya hati Kian saat ini bahkan melebihi saat dirinya harus kehilangan kesuciannya dari tangan Rama dulu.
Ibu Araya pun sama. Dia terus menangis di samping makam sang suami yang baru saja selesai ditutup dengan tanah. Semua orang mulai mendekat ke arah makam tersebut, dan posisi ibu Araya berada tepat di samping batu nisan sang suami. Sambil menangis, dia memeluk dan mencium batu nisan tersebut. Beberapa orang berkata, kehilangan orang tua tidak sehancur ketika kita ditinggalkan oleh pasangan hidup kita. Apalagi bagi seorang perempuan dimana sang suami adalah tulang punggungnya. Jadi ketika tulang punggung itu dicabut oleh sang pemiliknya, maka tulang rusuk pun akan mengalami kegoncangan.
__ADS_1
Apalagi selama ini ayah Lukman sangat baik kepadanya. Dia tidak pernah membentak ataupun menyakiti hati ibu Araya. Ayah Lukman bahkan sangat menyanjung sang istri sampai-sampai sang istri selalu diperlakukan bak seorang putri di sebuah kerajaan. Ayah Lukman selalu perhatian kepadanya. Apapun yang sang istri inginkan, dia selalu menurutinya. Tapi kali ini dia sudah pergi. Dan bagi Ibu Araya semua kehidupan dunia ini sudah berakhir.
Saat Ibu Araya memandang kedua anak kembarnya, dahinya sedikit mengkerut. Ada sebuah pertanyaan yang berputar di dalam otaknya kini. Kenapa mereka berbeda dari biasanya? Maksudnya bukankah sebenarnya anak gadisnya yang paling dekat dengan sang ayah adalah Kian. Tapi sekarang kenapa yang menangis malah Lian. Sedangkan Kian tampak acuh sama sekali. Bukankah selama ini yang memiliki hati yang lembut adalah Kian bukannya Lian. Tapi ini kenapa? Dan ada apa?
Setelah proses pemakaman itu selesai, semua orang termasuk Lian kembali ke rumah keluarga kakek Dul. Mereka semua duduk bersama di ruang keluarga. Ada kakek Dul, ibu Araya, Kakek Bimo, Rama, Kian dan juga Lian. Mereka semua terdiam melamun beberapa kenangan semasa masih bersama almarhum. Akan tetapi tidak dengan Ibu Araya. Sejak dari tadi dia memperhatikan kedua anak kembarnya itu dan dia merasa jika telah terjadi sesuatu yang tidak beres.
"Aku ambilkan minum dulu, Mas," ucap Kian pelan. Rama mengangguk. Wanita itu pun berjalan dengan pelan seorang diri.
Melihat Kian yang pergi ke arah dapur seorang diri, Lian memiliki niat untuk mengikutinya. Baginya itu adalah waktu yang tepat untuk berbicara dengan sang adik. Akan tetapi baru saja wanita itu berdiri, Rama sudah terlanjur berbicara.
"Kamu mau kemana Kian?" ucap Rama. Lian menoleh dan melihat tatapan tajam dari laki-laki itu.
"Tidak perlu. Dia bisa sendiri. Kamu duduk saja bersama kami di sini," jawab Rama tegas.
Sang ibu yang sudah tidak bisa menahan diri lagi akhirnya dengan cepat mengambil keputusan. Dia ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Biar ibu saja yang membantu Lian di dapur," ucap ibu Araya. Dia berdiri lalu segera pergi berjalan ke arah dapur.
__ADS_1
Ada mimik kesal di wajah Lian dan itu terlihat sangat jelas di mata Rama. Sebuah senyum kecut terukir di bibir Rama.
"Aku tidak akan pernah membiarkanmu mendekati istriku," batin Rama.
Di dapur, Ibu Araya tidak langsung masuk. Dia sempat berdiri di depan pintu, memperhatikan sang anak yang sedang sibuk menyiapkan minuman untuk semua orang. Walaupun dari sorot matanya gadis itu terlihat masih kosong, akan tetapi gerakan tangannya dengan lihai memasukkan semua bahan yang diperlukan ke dalam gelas mereka. Seolah kedua tangannya digerakkan secara otomatis.
"Nak," panggil sang ibu pada akhirnya. Kian menoleh lalu tersenyum. Walaupun masih ada beberapa titik air mata yang jatuh namun wanita itu dengan segera menghapusnya.
"Iya Bu. Kenapa Ibu datang kemari? Seharusnya ibu menunggu saja di depan. Nanti biar aku yang membuatkan minuman untuk kalian."
Lagi dan lagi, ucapan sang anak benar-benar membuat ibu Araya bingung karena sejak dari dulu Lian itu adalah orang yang manja. Dia tidak akan mau membuatkan minum untuk semua orang. Akan tetapi di satu sisi, ibu Araya juga berpikir mungkin Rama yang sudah mengajarinya dan membuatnya berubah seperti sekarang ini. Siapa yang tau bukan? Pikir ibu Araya.
"Nak, ibu ingin bertanya sesuatu kepadamu?"
****
****
__ADS_1
****