
Kian masih menatap punggung sang suami. Sesekali tangannya terulur ke depan berniat ingin menyentuh tubuh kekar itu. Akan tetapi dia tidak berani untuk melakukannya. Tangannya hanya menggantung di udara.
"Mas, apa kamu sudah tidur?" ucap Kian lirih. Namun tak ada jawaban apapun dari laki-laki itu. Air mata Kian kembali mengalir. Entah berapa kali air mata itu keluar dalam sehari ini. Rasanya sudah mulai kering saja.
"Mas, apa kita tidak bisa membicarakannya baik-baik? Aku ingin menjelaskan semuanya," ucap Kian lagi.
Sejujurnya saat itu Rama memang belum tidur. Matanya masih terbuka dan telinganya masih jelas mendengar setiap kata yang Kian ucapkan. Akan tetapi laki-laki itu tak berniat sedikitpun untuk menoleh apalagi menanggapi. Dia hanya ingin mendengarkan saja apa yang akan dikatakan oleh wanita itu.
"Mas, aku tahu aku salah karena dari sejak awal aku sudah berbohong kepadamu tentang siapa identitasku. Aku minta maaf untuk hal itu. Tapi aku melakukan semua itu karena ada alasannya. Sebuah alasan yang membuatku tidak bisa menolaknya."
Kian masih tetap berbicara. Dia yakin jika sang suami belum tidur dan masih mendengar apa yang dia katakan. Itu sebabnya dia terus berbicara walaupun dengan isak tangisnya yang tidak pernah berhenti.
"Aku tidak tahu Mas, sejauh mana kamu mendengar ucapan Lian tadi siang di rumah sakit. Tapi aku bisa pastikan padamu bahwa apa yang Lian katakan tadi semuanya bohong. Aku tidak pernah memaksa untuk bertukar identitas dengannya. Aku tidak pernah berniat hendak menipu semua orang. Lian sudah memutarbalikkan fakta yang ada."
Ucapan Kian berhenti sejenak. Dan Rama bisa mendengar dengan jelas isak tangis Kian yang begitu lirih. Hati kecil laki-laki itu sejujurnya merasakan perih mendengar wanita yang sangat dia cintai itu menangis. Rasanya dia ingin sekali berbalik dan memeluk wanita itu. Tapi akal pikirannya menolak karena masih merasakan kecewa akan kebohongan yang telah dilakukan oleh Kian.
__ADS_1
"Sejak awal Lian memang tidak ingin melakukan pernikahan ini. Dia tidak mencintaimu dan tidak berniat untuk mencintaimu. Dia sangat mencintai Vicky. Sayangnya ayah tidak pernah merestui hubungan mereka. Tapi Lian juga tidak bisa menolak perjodohan ini karena jika dia menolak maka ayah akan mencoret namanya dari daftar anggota keluarga dan ayah akan mencabut semua fasilitas yang sudah dia berikan kepada Lian."
Kian kembali terdiam. Menceritakan tentang almarhum sang ayah membuat wanita ini kembali teringat dengan segala memorinya bersama laki-laki paruh baya itu. Dia sangat ingat bagaimana sang ayah lebih sayang dan lebih memanjakan dirinya ketimbang kepada Lian. Kian menarik nafas panjang sebelum akhirnya melanjutkan lagi ceritanya.
"Pada saat setelah akad, Lian mengamuk di ruang ganti. Dan dengan alasan akan mengakhiri hidupnya, dia memaksa aku untuk bertukar identitas dengannya. Lalu aku bisa apa? Aku tidak mungkin menolak. Bagaimana aku bisa menolak jika kakak kandungku sendiri mengancam akan mengakhiri hidupnya sendiri jika aku tidak mau menuruti semua keinginannya. Dan aku tahu kalau hal itu bukanlah hanya ancaman semata. Lian pernah melakukan hal itu. Untungnya saat itu ayah datang disaat yang tepat sehingga Lian bisa selamat."
"Aku sudah membujuknya beberapa kali agar tidak melanjutkan permainan ini tapi dia tidak mau. Dan pada akhirnya dia berkata pada semua orang kalau dia akan bekerja di luar kota. Lian berbohong. Dia tidak pergi bekerja ke luar kota melainkan tinggal bersama Vicky. Dan sejak saat itu aku tidak pernah lagi berhubungan dengannya."
"Aku kembali bertemu dengannya saat Lian menyuruhku untuk meminta uang 500 juta kepadamu. Tapi aku menolaknya. Dan kemarin saat aku hendak membeli perhiasan bersama Samir. Aku melihat Vicky sedang menjual perhiasan milik Lian. Aku mencegahnya. Dia marah dan mengancam akan menyakiti Lian. Sampai akhirnya aku bertemu dengan Lian di rumah sakit tadi siang bersamamu."
"Aku bersumpah Mas, jika semua yang aku katakan ini benar. Jika Mas tidak percaya, Mas boleh bertanya kepada Ibu. Dia sudah tau semua yang terjadi diantara kami. Atau…. Atau Mas bisa bertanya pada Samir. Hanya dia satu-satunya orang yang bisa membedakan aku dan Lian hanya dengan sekali lihat. Dan dia tahu jika yang menikah denganmu adalah Lian sedangkan yang tinggal bersamamu adalah aku."
Dari balik punggung kekarnya, Rama masih terus mendengarkan penjelasan dari Kian. Sesungguhnya jika harus memilih, sebenarnya Rama lebih percaya dengan ucapan Kian daripada ucapan Lian tadi siang di rumah sakit. Semua hal yang dia lihat dari Lian, semuanya tidak seperti sandiwara. Bagaimana gadis itu bercumbu dengan sang kekasih di club malam, bagaimana cara Lian berbicara kepada Kian, bagaimana tingkah laku Lian selama proses pemakaman sang ayah, dan bagaimana Lian di hadapan sang ibu, semua nyata dan tidak dibuat-buat.
Lagi pula dia sudah tinggal selama hampir satu tahun bersama Kian. Rama tahu bagaimana sifat Kian. Tidak mungkin wanita itu memiliki pikiran yang licik seperti itu. Akan tetapi, Rama tidak mau terlalu cepat mengambil keputusan. Sesuai dari apa yang dikatakan oleh Kian, dia akan mencari tahu semua kebenarannya kepada sang ibu dan juga Samir.
__ADS_1
"Tidak semua kebohongan aku berikan di dalam hubungan kita, Mas. Ada satu hal yang benar dan jujur dari lubuk hatiku yang paling dalam."
Lamunan Rama buyar saat telinganya mendengar Kian kembali berbicara.
"Cintaku kepadamu. Itu nyata Mas. Aku sangat mencintaimu, Mas. Aku bersumpah aku jujur kali ini. Aku sangat mencintaimu. Sangat mencintaimu."
Rama terpaku dengan ungkapan cinta dari Kian. Di dalam hatinya, laki-laki itu pun menjawab jika dirinya juga sangat mencintai Kian. Dia tidak ingin kehilangan Kian. Hidupnya, nafasnya, hatinya, jiwanya, bahkan raganya hanya milik Kian seorang.
Tapi keputusan apa yang harus Rama ambil sekarang. Perilaku yang bagaimana yang harus dia berikan kepada wanita yang sangat dia cintai ini. Dia tidak mungkin menjalin cinta dengan adik iparnya sendiri, bukan?
Rama membalikkan tubuhnya saat dia merasa jika Kian sudah tidur. Dan ternyata benar saja, saat Rama merubah posisinya, dia melihat wanita itu sudah terlelap. Kelopak matanya sedikit bengkak akibat terlalu banyak mengeluarkan air mata. Rama begitu terpukul melihat kondisi Kian yang seperti itu.
"Maafkan aku sayang," ucap Rama sambil meneteskan air mata.
****
__ADS_1
****
****