MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR

MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR
BAB 94. TERLAMBAT


__ADS_3

"Kian, aku ingin kita mengakhiri pertukaran identitas ini?" ucap Lian tiba-tiba. 


Mendengar ucapan itu, tentu saja Kian terkejut bukan main. Bagaimana bisa saudaranya itu dengan seenaknya menciptakan permainan ini dan mengakhirinya seenak dirinya sendiri. Apa dirinya tidak berpikir atau memperhitungkan bagaimana perasaan Kian? Apa pendapat dari Kian tidak berarti bagi Lian.


"Kenapa?" tanya Kian lirih. Air mata sudah mulai mengalir dari sudut pipinya. Lian menatap wajah Kian dengan ekspresi bingung.


"Kenapa? Iya karena aku ingin mengakhiri semua sandiwara ini. Aku ingin meluruskan semua jalan yang sudah bengkok. Lagipula bukankah sejak dulu ini yang sangat kamu inginkan? Aku akan mengembalikan identitasmu dan juga kehidupanmu dan aku akan mendapatkan identitasku dan juga kehidupanku kembali. Bukankah itu bagus?" tanya Lian sedangkan Kian hanya terdiam.


Wanita itu tak bisa menggambarkan bagaimana perasaannya kali ini. Semuanya seolah bercampur menjadi satu. Gelisah, sakit, marah, sedih, semuanya bersatu menjadi tidak menentu. Kian bingung. Dia tidak bisa mengeluarkan kata-kata lagi. Semuanya seolah mematung. Apalagi saat dirinya teringat dengan janin di dalam perutnya. Bagaimana nasib anak tersebut jika mereka bertukar identitas kembali? Wanita itu pun memegang perutnya dengan lembut.


"Kenapa Kian?" tanya Lian.


"Semuanya sudah terlambat, Lian. Semuanya sudah terlambat," ucap Kian lirih. Lian mengerutkan keningnya.


"Apa maksudmu semuanya sudah terlambat?" tanya Lian lagi.


Sebenarnya berat sekali Kian mengatakan hal ini. Karena bagaimanapun juga kejadian ini adalah sebuah kesalahan. Bagaimana bisa dia mengandung anak dari suami kakaknya sendiri. Tapi apa yang harus dia lakukan jika semua itu adalah sebuah kecelakaan yang sudah ditakdirkan.


"Kian, ada apa?" tanya Lian sedikit mendesak.


"Aku minta maaf Lian," ucap Kian sambil menunduk. Lian semakin penasaran dengan apa yang sudah terjadi.


"Kita tidak bisa bertukar identitas. Setidaknya untuk sembilan bulan kedepan," ucap Kian lirih.

__ADS_1


"Apa maksudmu?"


"Aku… aku sedang hamil… aku sedang hamil anak Mas Rama," ucap Kian. Matanya tertutup tak berani menatap wajah saudara kembarnya itu.


Mata Lian melotot. Dia sangat kaget mendengar penuturan dari adik kembarnya itu. Apa dia tidak salah dengar? Kian sedang hamil? Sang adik sedang hamil anak dari suaminya sendiri? Apa sebenarnya yang Kian ingin buktikan dengan hamil anak Mas Rama? Apa sang adik ingin mengatakan secara tidak langsung kepadanya jika Mas Rama sudah menjadi milik sang adik seutuhnya?


PLAK


Sebuah tamparan yang sangat keras melayang dari tangan Lian dan mendarat dengan sangat mulus di pipi Kian. Air mata Kian jatuh semakin deras. 


"Lian maafkan aku," ucap Kian mengiba menatap sang kakak. 


"Apa kamu sudah gila, Kian? Aku menyuruhmu untuk menggantikanku menjadi istri dari Mas Rama. Bukan menyuruhmu untuk mengandung anak dari suamiku sendiri," teriak Lian. 


Kian diam membisu. Bentakan dari sang kakak lagi dan lagi membuat wanita itu tak berkutik. Kian paling tidak suka dibentak. Dan jika ada seseorang yang membentaknya, wanita itu akan diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Walaupun hati kecilnya selalu menyiksanya dan menyuruhnya untuk melawan


"Itu semua.. itu semua karena sebuah kecelakaan Lian. Aku benar-benar minta maaf."


"Mudah sekali kamu meminta maaf kepadaku atas segala yang sudah kamu lakukan. Apa kamu tahu jika anak yang ada di dalam kandunganmu ini adalah anak haram. Kenapa sejak awal tidak kamu buang saja anak itu?"


"Lian, kenapa kamu bicara seperti itu? Ini adalah anak dari suamimu sendiri," ucap Kian.


"Iya, anak kandung suamiku dari wanita simpanannya," jawab Lian sinis.

__ADS_1


"Wanita simpanan?" Kian bergumam dengan air mata yang masih terus mengalir. Entah kenapa mendapatkan julukan wanita simpanan dari sang kakak membuat dirinya sedikit emosi.


"Iya wanita simpanan. Wanita pemuas nafsu suami orang. Dan anak haram yang ada di dalam perutmu itu tidak layak hidup di dunia ini," teriak Lian penuh dengan amarah. 


Kian mengepalkan kedua tangannya antara marah dan juga menguatkan diri. Akan tetapi, ucapan Lian kali ini sudah berada di puncak kesabarannya. Kian pun berdiri dan untuk pertama kalinya dia melawan sang kakak.


"Wanita simpanan? Apa kamu tidak pernah berpikir siapa yang menyuruhku untuk tinggal di rumah Amarta sebagai istri dari Mas Rama? Apa kamu lupa siapa yang merencanakan ini semua dan mengancam akan bunuh diri jika aku tidak menuruti semuanya? Apa kamu lupa semuanya?" teriak Kian walaupun dengan air mata yang terus mengalir dengan deras. 


Dia bisa menerima jika dirinya yang dihina oleh saudaranya itu. Akan tetapi ketika Lian mulai menghina anak yang tidak berdosa yang masih berada di dalam perutnya, disitulah amarah seorang ibu muncul.


"Berapa kali aku menolak dan mencoba meyakinkanmu untuk menghentikan semua ini sebelum semuanya terlambat? Tapi apa yang kamu katakan saat itu? Kamu tidak peduli. Yang kamu inginkan hanya hidup bersama dengan kekasih berandalanmu itu. Dan sekarang, ketika semuanya sudah sangat-sangat terlambat, dengan entengnya kamu berkata akan menghentikan semuanya? Enak sekali kamu berbicara." 


Kian seperti meluapkan semua tekanan di dalam hatinya selama ini. Kesabarannya sudah habis. Kali ini dia tidak mau lagi terus menurut kepada ide gila sang kakak kembarnya itu.


"Bahkan jika sekarang kamu mengancam akan bunuh diri, aku tidak peduli. Karena yang ada di dalam hati dan juga pikiranku saat ini hanyalah anakku saja. Aku tidak peduli dengan semuanya," ucap Kian.


Lian mengepalkan kedua tangannya. Kedua matanya menatap wajah sang adik dengan lekat. Dan dari ekspresi wajah Kian, Lian pun dapat melihat jika apa yang dikatakan oleh sang adik ini bukanlah isapan jempol belaka. Lian pun berpikir sepertinya kali ini dia tidak bisa menggunakan cara yang sama agar semua yang dia inginkan bisa dia dapatkan. Kian tidak akan lagi terpengaruh dengan ancaman mengakhiri hidup seperti biasanya.


Saat Lian hendak mengatakan sesuatu lagi kepada Kian, kedua sudut matanya melihat Rama yang kembali ke dalam ruangan tersebut. Posisi pintu yang berada di belakang Kian membuat hanya Lian saja yang melihat laki-laki tersebut. Mengetahui laki-laki itu di depannya, satu ide jahat pun kembali muncul di dalam pikiran Lian. Ketika Rama membuka pintu, Lian dengan segera berbicara kepada Kian cukup keras dan bertingkah seolah-olah dia tidak melihat kedatangan Rama. Dan itu berhasil menghentikan langkah Rama yang berdiri di ambang pintu.


"Kian, aku mohon tolong hentikan semua ini. Mas Rama adalah suamiku, suami sah ku. Aku tidak mau mengikuti rencanamu lagi. Aku lelah terus menuruti semua ide gila mu ini Kian. Sudah cukup aku mengizinkanmu untuk berpura-pura menjadi diriku di depan Mas Rama. Kamu juga yang memaksa aku berhubungan dengan Vicky agar Mas Rama tidak curiga. Tapi aku sudah lelah Kian. Tolong hentikan semuanya. Tolong kembalikan identitasku. Tolong kembalikan suamiku," ucap Lian sambil memelas. Kedua tangannya dia satukan di depan dadanya memohon kepada Kian. Air mata pun mengalir sangat deras di kedua pipi Lian. 


****

__ADS_1


****


****


__ADS_2