
Rama mengerutkan keningnya sedangkan Kian menggigit bibir bawahnya. Di dalam pikirannya gadis itu benar-benar menyesal kenapa bisa salah mengeluarkan kata-kata. Tatapan tajam Rama kini semakin menakutkan saja.
"Ketidaksengajaan? Apa maksudmu?" tanya Rama dingin.
"Hmm itu… itu…."
"Apa maksudmu!!!!" teriak Rama. Kian sampai melonjak saking kagetnya.
"Jadi Kian benar-benar sudah mendorongmu?" bentak Rama lagi.
Kian bingung. Dan dia malah menangis. Selain sakit hati karena dibentak oleh Rama, dia juga sedih karena merasa stress dengan semua kejadian ini. Terkadang Kian selalu menggerutu kapan semua ini akan berakhir. Sampai kapankah permainan ini akan berlangsung. Bahkan permainan yang diciptakan oleh saudara kembarnya itu sudah sangat terlalu jauh. Lihatlah sekarang kondisi Kian yang sedang berbadan dua.
Melihat sang istri yang menangis, membuat Rama teringat akan kata-kata dokter Selia dimana sang istri harus dijaga dengan baik dan jangan sampai stress. Laki-laki itu pun menurunkan tensi emosinya. Dia memejamkan matanya, menghirup nafas dalam lalu membuangnya secara perlahan.
Rama perlahan berjalan mendekati Kian yang sedang menunduk sambil terisak. Setelah posisinya sudah dekat, Rama langsung menarik tubuh kecil itu ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku," ucap Rama lirih.
Mendengar kata-kata itu, bukannya berhenti menangis, Kian malah semakin menjadi. Tangisannya menjadi lebih keras seperti anak kecil.
__ADS_1
"Hey sudahlah, jangan seperti ini. Aku kan sudah minta maaf. Kalau kamu menangis dengan kencang seperti ini nanti terdengar oleh kakek. Dan dia bisa jadi akan membunuhku kalau tau aku sudah membuatmu menangis sampai seperti ini," ucap Rama.
Kian memundurkan sedikit badannya sehingga pelukan itu pun terlepas. Tangannya mengusap kedua matanya yang masih basah. Rama juga ikut membantunya mengusap air mata itu dan lalu sedikit merapikan rambutnya yang agak berantakan.
"Aku minta maaf. Aku terbawa emosi," ucap Rama lagi.
"Aku sangat mengkhawatirkanmu dan juga calon anak kita Lian. Aku tidak ingin kalian celaka. Aku sangat menyayangi kalian berdua," ucap Rama lagi.
Kian menatap mata laki-laki itu. Jika saja pernikahan ini adalah pernikahan yang sebenarnya dan jika saja laki-laki di depannya itu adalah suaminya yang sebenarnya, mungkin dirinya akan menjadi wanita paling bahagia di alam dunia ini. Sayangnya semua kebahagiaan ini bukanlah miliknya. Dia hanya dititipkan oleh sang kakak untuk menjaganya. Iya walaupun dia sendiri sadar jika permainannya sudah di luar batas wajar. Apalagi hatinya yang semakin hari semakin mencintai kakak iparnya itu.
"Sudahlah kita bicarakan ini lain kali. Sekarang kamu istirahatlah," ucap Rama. Kian mengangguk.
***
Malam hari langit tampak gelap. Tak ada satupun bintang yang hadir mewarnai malam itu. Bulan juga tampak bersembunyi di balik awan hitam. Di sebuah rumah sederhana dengan halaman yang cukup luas, seorang pria sedang duduk di teras. Secangkir kopi teronggok manis di atas meja di sampingnya. Pria itu menyandarkan tubuhnya dengan mata yang terus menatap langit.
Semenjak hari itu, hari dimana dokter mengatakan jika Kian sedang hamil, sejak hari itu juga hidup Samir hancur. Dia seperti kehilangan semangat untuk tetap menjalani hidup. Tubuhnya memang masih selalu pergi bekerja setiap hari. Otaknya masih bisa digunakan untuk menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk. Akan tetapi hatinya kosong. Hatinya hampa. Samir tidak tahu apa yang sudah terjadi. Dia tidak mengerti. Sekilas dia ingin bertanya kepada Kian, akan tetapi hatinya masih belum kuat untuk berhadapan dengan gadis itu.
"Aku tidak tahu apa yang sudah terjadi di dalam rumah keluarga Amarta. Dan aku juga tidak tahu apa yang sudah terjadi padamu Kian. Kamu tahu nomor ponselku tapi kenapa kamu tidak menghubungiku sama sekali. Padahal, jika saja ada hal buruk terjadi padamu di rumah itu, aku akan dengan siap untuk menjadi pelindungmu," gumam Samir. Laki-laki itu kemudian tersenyum.
__ADS_1
"Hmm pelindung. Pelindung? Kamu sudah memiliki pelindung. Aku tahu kalau Rama sangat melindungimu. Apalagi sekarang ada calon anaknya di dalam rahimmu. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana bisa anak itu ada di dalam perutmu sedangkan kalian bukan suami istri. Aku benar-benar tidak mengerti." Samir terdiam. Dia terus menatap langit gelap seolah mencari sesuatu disana.
"Tapi aku percaya padamu, Kian. Kamu bukanlah wanita yang seperti itu. Kamu bukanlah wanita yang rela melakukan apa saja demi untuk mendapatkan apa yang kamu mau. Kamu bukan Lian. Kamu berbeda darinya. Kalian berdua memang kembar tapi kalian memiliki sifat yang jauh berbeda."
"Tapi aku juga tahu kalau Rama bukanlah tipe laki-laki yang pemaksa. Iya, mungkin dia akan berubah menjadi dingin dan sedikit kasar tapi laki-laki itu tidak pernah mau memaksakan kehendaknya apalagi kepada seorang wanita."
Samir mengangkat gelas kopi di sampingnya lalu menyeruputnya dengan perlahan. Saat ini hanya secangkir kopi yang bisa menemaninya melewati hari yang penuh dengan kegelisahan. Sebuah ponsel di tangannya terus diputar-putar menggambarkan dirinya yang masih belum bisa tenang. Sesekali dia membuka kontak di ponsel tersebut. Menatap sebuah nama yang disimpan di sana. Siapa lagi kalau bukan Kian.
"Apa aku hubungi Kian saja dan bertanya apa yang terjadi? Tapi apa ini baik? Apa aku harus mencampuri urusannya lagi?"
Lalu Samir teringat dengan kejadian dimana Rama terus bermesraan dengan Kian di depannya seolah dia ingin menunjukkan bahwa gadis itu adalah miliknya seorang. Samir mengerti jika sampai dirinya menghubungi sang sahabat, maka Rama pasti tidak akan suka. Dia juga tidak mau jika sampai harus berurusan dengan Rama. Apalagi sekarang Rama adalah atasannya. Dia tidak mau kenyamanan pekerjaannya terganggu hanya karena masalah pribadi yang sebenarnya bukanlah urusannya. Apalagi posisinya saat ini adalah asisten pribadi Rama. Apa jadinya jika sampai Rama marah kepadanya.
"Baiklah!!!"
Samir menarik nafas panjang. Dia akhirnya mengambil keputusan untuk tidak bertanya apa-apa tentang masalah kehamilannya kepada sang sahabat kecuali Kian sendiri yang menghubunginya dan berbicara kepadanya. Tapi walaupun demikian dia akan tetap menjaga Kian dari apapun hal buruk yang akan terjadi kepadanya. Walaupun itu harus dia lakukan secara diam-diam. Seperti halnya rasa cintanya kepada gadis itu yang akan terus ada walaupun hanya diam-diam.
****
****
__ADS_1
****