MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR

MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR
BAB 44. MENGAMBIL HAK


__ADS_3

Rama akhirnya terjatuh tak sadarkan diri tepat saat safira mengajaknya masuk ke dalam kamar. Laki-laki itu tergeletak di atas tempat tidur dengan posisi terlentang. Melihat mangsanya sudah masuk ke dalam jebakan, membuat Safira tersenyum.


"Hmm, Rama… Rama… Ternyata cintamu padaku begitu tulus dan begitu besar. Sampai-sampai kamu masih mau menemuiku setelah kejadian kemarin di pesta ulang tahun perusahaanmu. Tapi, aku senang. Sayangnya sejak awal kita bertemu aku tak pernah mencintaimu," Safira masih berdiri di depan Rama. Senyum di wajahnya berubah menjadi raut amarah dan penuh dengan dendam.


"Kamu dan juga kakek Bimo harus membalas semuanya. Kalian sudah menghancurkan perusahaan milik keluargaku. Gara-gara kakek Bimo, ayahku harus masuk ke dalam penjara, perusahaan kami hancur, dan ibuku menjadi sakit-sakitan dan akhirnya mati. Aku harus menjual diriku sendiri kepada seorang produser kaya raya agar dia mau membebaskan ayah dari dalam penjara dan memberikan karier modelku yang cemerlang. Aku harus selalu tunduk dan menuruti semua keinginannya. Aku pikir setelah aku kaya raya, aku bisa menghancurkan Amarta's Group. Apa kamu tau betapa hancurnya aku saat melakukan semua itu?" Safira sedikit berteriak dengan amarah yang terus bergejolak.


"Ternyata dia hanya laki-laki tua yang menginginkan daun muda dengan bermodalkan harta kekayaan yang dia miliki. Aku harus berurusan dengan istrinya dan juga keluarganya. Aku pusing. Aku bingung. Mereka hampir saja menjebloskan aku ke dalam penjara. Tapi bukan Safira namanya jika hanya dengan gertakan seperti itu langsung takut. Kamu tau, Ram. Aku selingkuh dengan anggota model lainnya. Dia jauh lebih tampan dan tentu saja memiliki usia yang lebih muda. Iya, mau bagaimana lagi. Akhirnya aku bisa bersenang-senang dengan kekasih mudaku dan mendapatkan banyak uang dari kekasih tuaku," Safira tertawa terbahak-bahak.


"Sayangnya si bodoh itu malah mengetahui perselingkuhanku. Dia menarik kembali semua aset yang dia berikan kepadaku. Dan ya, seperti yang kamu tau. Aku kembali ke sini dan melanjutkan percintaanku denganmu."


Safira mulai merangkak di atas tubuh Rama. Jari jemari tangannya mulai menyentuh wajah laki-laki itu.


"Kamu tau Ram. Kamu memang orang yang tampan dan juga kaya raya. Tapi sayangnya kamu hanya menjadi kunci untuk menghancurkan kakek Bimo."


Jari tangan Safira terus meluncur di setiap jengkal wajah Rama. Dia terus menikmati kelembutan kulit laki-laki itu. Sampai pada saat jarinya hendak mendekat ke arah mata, kedua mata Rama terbuka. Safira kaget dan langsung meloncat mundur dari tubuh Rama.


"Kamu? Kamu sadar?" tanya Safira.


"Iya. Sangat sadar sampai aku bisa mendengar curhatanmu dari awal sampai akhir," jawab Rama tersenyum.


Laki-laki itu berdiri dan menatap Safira dengan penuh kebencian. Mendapatkan tatapan membunuh dari laki-laki itu membuat Safira sedikit bergetar.


"Rama aku…"


Ucapan Safira terpotong saat salah satu tangan Rama terangkat ke atas. 

__ADS_1


"Aku sudah merekam semua pengakuanmu. Kali ini aku bukan hanya akan membuat perusahaanmu bangkrut. Tapi aku juga akan membuat perusahaan kalian lenyap sampai tak bersisa. Dan kamu serta ayahmu akan mendapatkan balasan dari keluarga Amarta," ancam Rama.


"Tidak Rama. Aku bisa jelaskan semuanya. Kita bisa bicarakan baik-baik. Aku minta maaf."


Safira berlari berlutut memegang kaki Rama akan tetapi laki-laki itu hempaskan dengan kasar sehingga Safira terjengkang ke belakang. Dengan cepat Rama meninggalkan apartemen itu.


Rama menjalankan mobilnya masih dalam keadaan setengah pusing. Karena sebenarnya tadi dia memang sempat tak sadarkan diri. Akan tetapi saat Safira menceritakan semuanya, Rama mulai tersadar. Akan tetapi dia terus berpura-pura pingsan untuk mendengar semua yang ingin dikatakan oleh wanita itu. Dan akhirnya Rama mengetahui alasan sebenarnya sang kakek sangat membenci Safira.


Di tengah perjalanan, entah kenapa tiba-tiba tubuh Rama terasa panas. Dia merasakan panas di sekujur tubuhnya. Rama tidak tau apa yang sudah terjadi akan tetapi dia merasa sesuatu miliknya menegang di bawah sana.


"Sial. Obat apa yang dicampurkan Safira ke dalam minuman itu?" gumam Rama.


Keringat mulai mengucur deras di sekujur tubuhnya. Dengan cepat dia membuka dasinya dan membuka satu persatu kancing kemejanya. 


Rama semakin mempercepat laju mobilnya. Hatinya sudah semakin gelisah dan jantungnya berdetak sangat cepat. Dia benar-benar butuh seseorang untuk melampiaskan hasrat yang sedang dia rasakan ini. Dia butuh seorang wanita yang bisa membantunya membuang semua tekanan batin ini. Dia butuh seseorang yang halal dia sentuh. Dan dia butuh istrinya Lian.


Setelah melewati beberapa menit perjalanan, mobil yang ditumpangi Rama pun telah sampai di halaman rumahnya. Dengan segera dia berjalan dengan cepat menuju ke dalam rumahnya walaupun dengan langkah yang sedikit sempoyongan.


BRAK


Rama membuka pintu kamar dengan kasar. Kian yang sedang berdiri di dekat jendela menatap langit malam pun terkejut dan langsung membalikkan badan ke arah pintu masuk.


"Mas… mas kamu kenapa?" tanya Kian panik. Bagaimana tidak? Dia melihat laki-laki itu dalam keadaan yang sudah kacau. Rambutnya acak-acakan, pakaiannya berantakan dengan kancing kemeja yang hampir semua terlepas. Dan juga keringat yang mengalir sangat deras di sekujur tubuhnya.


Kian berlari mendekati laki-laki itu. Dia khawatir telah terjadi sesuatu kepada Rama.

__ADS_1


"Mas ada apa?" tanya Kian.


Wanita itu sangat terkejut saat dengan secara tiba-tiba laki-laki itu langsung memeluknya dengan sangat erat.


"Lian… Lian aku…" ucap Rama dengan suara parau dan sedikit terengah-engah.


"Mas lepas mas. Kamu kenapa?" Kian berusaha melepaskan pelukan itu akan tetapi Rama malah mempererat pelukannya. Tubuh Kian semakin gemetar saat dia merasa sesuatu yang keras menusuk pahanya. Dan Kian mengerti apa itu.


"Mas…"


"Maafkan aku Lian."


Dengan cepat Rama mengangkat tubuh Kian dan membaringkannya di atas tempat tidur. 


"Mas kamu mau apa?" tanya Kian. Jantungnya semakin berdebar kencang dan tubuhnya bergetar sangat kuat. Dia benar-benar takut jika laki-laki di depannya itu akan mengambil hak nya sebagai seorang suami. Tapi… bagaimana ini??? Dia bukan istrinya? 


"Mas…"


Tanpa menghiraukan racauan dan penolakan dari Kian, Rama langsung melepas seluruh pakaiannya dan mulai mencumbu gadis yang kini sedang berada di bawahnya itu. Tangan Rama mulai merobek pakaian Kian satu persatu hingga tak tersisa sedikit pun. Air mata terus jatuh mengalir dari kedua sudut mata Kian. Dia tidak pernah menyangka jika hal ini akan dia alami. Seberapa kuat dia berusaha untuk lepas dari cengkraman Rama akan tetapi kekuatan laki-laki itu begitu besar. Akhirnya Kian hanya bisa pasrah menerima semua ini.


****


****


****

__ADS_1


__ADS_2