MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR

MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR
BAB 30. KEMBALILAH SEPERTI DULU


__ADS_3

"Maaf Ram, aku tidak bermaksud untuk menyembunyikan sesuatu apapun darimu. Aku hanya ingin bertanya apakah kamu punya nomor ponsel Kian?" ucap Samir pada akhirnya.


"Kian?" Rama sedikit mengerutkan keningnya.


"Iya Kian. Sahabatku sekaligus adik iparmu."


Pikiran Rama seketika tertuju pada seorang gadis yang memiliki wajah yang sama dengan sang istri. Iya Kian, adik kembar Lian istrinya. Bibir Rama langsung tersenyum kecut saat dirinya mengingat tentang kejadian di club malam waktu itu dimana dia melihat sang adik ipar sedang bercumbu dengan seorang laki-laki yang Rama yakini sebagai kekasih dari adik iparnya itu.


"Untuk apa kamu menanyakan nomor ponselnya?" tanya Rama yang seketika terlihat menjadi sangat acuh.


"Tidak ada apa-apa. Aku hanya sudah lama saja tidak bertemu dan berbicara dengannya," jawab Samir. 


"Aku tidak punya nomor ponselnya," jawab Rama dingin. Pandangannya kembali menatap layar ponsel.


"Masa? Bukankah dia itu adik iparmu?"


"Hanya adik ipar, Samir. Hanya adik ipar. Dan aku tidak perlu nomor ponsel adik iparku."


Samir terdiam. Dia tidak mengerti kenapa wajah sang sahabat berubah menjadi kecut saat mereka membicarakan tentang Kian. Apakah ada masalah diantara mereka?


Samir kembali berpikir sepertinya ada banyak rahasia yang terjadi pada pernikahan mereka yang dia tidak tau. Dan sejujurnya laki-laki itu sangat tertarik untuk mengetahui semuanya. Setidaknya dia memiliki satu tujuan yaitu melindungi sang wanita idaman agar tidak terluka. Dari sejak dulu Samir sudah tau bagaimana watak seorang Lian dan juga Kian. Dan Samir yakin jika kali ini Lian pasti sedang berulah. 


*** 


Di sebuah cafe sederhana tampak seorang wanita sedang duduk di salah satu bangku yang terdapat di halaman cafe. Sebuah minuman dingin tergeletak di atas meja di depannya. Akan tetapi wanita itu tak sedikitpun menyentuhnya. Pandangannya kosong menatap ke arah depan. Sepertinya wanita itu sedang melamun.


Selang beberapa menit kemudian, datanglah seorang laki-laki dengan menggunakan setelan baju seenaknya seperti biasa. Celana robek dan kaos tipis berwarna hitam. Laki-laki itu muncul dari arah belakang dan dengan tanpa diaba-aba langsung mengecup pipi sang wanita dari belakang. Membuat wanita yang sedang melamun itu kaget dan langsung menoleh.


"Selamat siang sayang," ucap laki-laki itu sambil tersenyum dan lalu duduk di kursi di depannya. Wanita itu hanya tersenyum sedikit, tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

__ADS_1


"Hey, apa aku boleh memesan makanan disini? Dari sejak pagi, aku belum makan sesuatu," tambah laki-laki itu lagi. Sang wanita hanya menjawab dengan anggukan dan lagi-lagi tak ada sepatah katapun yang ingin dia ucapkan.


Setelah beberapa saat menunggu, seorang pelayan datang membawa pesanan laki-laki itu. Sebuah makanan dan minuman dengan porsi yang besar. Laki-laki itu langsung melahap semuanya sampai habis tak bersisa.


"Terima kasih sayang, sarapan plus makan siangnya," ucap laki-laki itu sambil membelai pipi wanita yang sedang duduk di depannya itu.


Menyadari sejak tadi sang wanita hanya diam saja, akhirnya laki-laki itu menarik nafas panjang dan mulai berbicara dengan nada serius.


"Ada apa, Lian?" tanya Vicky. Wanita itu menggelengkan kepalanya.


"Tidak ada apa-apa," jawabnya lirih.


"Apa kamu masih memikirkan kejadian malam itu?" tanya Vicky kembali.


"Bagaimana mungkin aku bisa melupakan hal itu," jawab Lian lirih. Vicky menyandarkan tubuhnya dengan kasar.


"Lalu aku harus bagaimana? Semua itu sudah terjadi. Jika saja waktu bisa diputar kembali, aku pasti akan memutarnya untukmu. Ayolah Lian, jangan terus seperti ini. Aku tidak suka. Kamu adalah Lian, kekasih Vicky. Yang kuat, yang sombong, dan terkadang sedikit arogan. Aku suka sama kamu yang ambisius. Bukan Lian yang murung seperti ini." ucap Vicky dengan nada agak sedikit tinggi.


"Apa kamu menyesal telah melakukan hal itu untuk pertama kali denganku?" tanya nya lagi. Tapi Lian tetap diam.


"Apa kamu lebih suka memberikan dirimu untuk suami kayamu itu daripada kepadaku?" desak Vicky. Dan kali ini berhasil membuat Lian bereaksi.


"Tidak. Bukan seperti itu, sayang," jawab Lian.


"Kalau begitu sudahlah. Bukankah kita berencana akan menikah bukan? Lalu apa bedanya jika melakukan hal itu sekarang atau nanti?"


"Vicky…." ucapan Lian terpotong saat dengan cepat sang kekasih menggenggam tangannya dengan erat.


"Dengarkan aku sayang. Jika kamu terus murung seperti ini terus, aku tidak kuat. Aku sedih. Aku ingin Lian kekasihku yang selalu ceria. Aku ingin Lian kekasihku yang ambisius dan terkadang menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkan apa yang dia mau. Aku ingin Lian kekasihku yang selalu bersemangat dalam menghadapi sesuatu. Aku mohon jangan pernah berubah sayang."

__ADS_1


Vicky mencium kedua tangan Lian yang berada di dalam genggamannya.


"Berjanjilah kepadaku sayang kalau kamu akan kembali seperti dulu. Berjanjilah kepadaku kalau kamu akan kembali  menjadi Lian kekasih Vicky yang selalu kuat," ucap Vicky tanpa sedikitpun menolehkan pandangannya ke arah sang wanita. Kepalanya dia terus tundukkan di tangan Lian.


"Aku mohon Lian," ucap Vicky lagi.


"Baiklah," jawab Lian lirih. 


Mendengar suara merdu sang kekasih, membuat Vicky mendongakkan wajahnya menatap ke arah Lian.


"Benarkah?"


"Iya. Aku berjanji akan melupakan semua kejadian itu. Aku berjanji hubungan kita akan kembali seperti dulu. Dan aku juga berjanji akan kembali menjadi Lian sang kekasih Vicky yang kuat," ucap Lian. 


"Terima kasih sayang. Terima kasih."


Vicky bangkit dari duduknya dan lalu berlutut di bawah Lian agar tubuh mereka bisa sejajar. Laki-laki itu membingkai wajah sang kekasih dan mengecup keningnya begitu dalam. Lian sampai menutup matanya untuk merasakan sentuhan sang kekasih.


*** 


Malam sudah menunjukkan pukul 10 akan tetapi Rama masih juga belum pulang. Rupanya laki-laki itu memang melakukan apa yang dia katakan tadi pagi. Dia pergi mengajak Safira berjalan-jalan selepas pulang kerja. Dia benar-benar tidak peduli dengan wanita yang masih belum tidur karena terus menunggunya sejak tadi.


Malam itu Kian sengaja menunggu sang suami kakak iparnya itu di dalam kamar. Dia tidak mau menunggu di ruang bawah karena takut ketahuan oleh sang kakek seperti dulu. Kian bingung harus menjawab apa jika sang kakek bertanya kenapa suaminya itu belum pulang juga.


Beberapa kali Kian melihat ke arah ponselnya, berharap Rama menelepon atau setidaknya mengirimkan pesan kepadanya. Akan tetapi semuanya nihil. Tak ada apapun yang masuk ke dalam ponselnya yang berhubungan dengan laki-laki itu.


"Mas, kamu dimana? Mau sampai kapan kamu menemani selingkuhan kamu itu? Apa kamu tidak ingat kalau di rumah sekarang ada aku yang selalu menunggu dan mengkhawatirkanmu? Cepatlah pulang, Mas. Aku mohon!"


**** 

__ADS_1


****


****


__ADS_2