MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR

MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR
BAB 21. MEMINTA IZIN PADA KAKEK


__ADS_3

Suasana pagi hari di rumah kakek Bimo seperti biasa tampak sangat berisik. Apalagi di daerah dapur dan meja makan. Pasalnya Kian sedang membantu menyiapkan sarapan dua laki-laki berbeda usia yang kini sudah duduk di kursi meja makan tersebut.


"Kakek," panggil Rama di sela tangannya yang masih memeriksa jadwal hari ini yang sudah dikirimkan sang sekretaris ke dalam ponselnya.


"Hmm," jawab Kakek Bimo dengan tanpa mengalihkan pandangannya dari koran pagi itu. Lucu memang, disaat sebagian besar orang sudah beralih membaca berita secara online akan tetapi nyatanya kakek Bimo masih betah dengan halaman surat kabarnya.


"Mulai besok aku menarik salah satu karyawan cabang untuk bekerja di kantor pusat," ucap Rama tenang. Namun itu malah berhasil membuat sang kakek sedikit melirik ke arahnya.


"Siapa? Dan kenapa?" tanya Kakek Bimo.


"Dia teman masa kuliahku. Namanya Samir."


PRANG


Terdengar suara piring jatuh dan pecah dari arah dapur saat Rama mengatakan hal itu. Kakek Bimo dengan segera menyimpan surat kabarnya dan menoleh ke arah dapur yang berada tepat di samping meja makan.


"Ada apa Lian?" Tanya sang kakek saat melihat cucu menantunya itu berjongkok dan hendak membereskan pecahan piring disana.


"Hmm gak.. gak apa-apa kok Kek. Hanya tadi piring yang aku bawa tiba-tiba saja jatuh," jawab Kian sedikit terbata.


"Apa kamu terluka?" Kakek Bimo berjalan mendekati wanita itu.


"Tidak kek. Aku tidak terluka," jawab Kian cepat.


"Sudah kamu bangun saja. Ayo ikut duduk dengan kakek di meja makan. Biarkan pelayan yang menyiapkan semuanya. Bukankah itu adalah tugas mereka?" ajak Kakek Bimo sambil menggenggam tangan Kian. Wanita itu pun mengikuti sang kakek untuk duduk.


"Lagipula kamu ini kenapa? Sudah ada pelayan yang mengerjakan tugas, kenapa juga kamu harus ikut terjun ke dapur?" tanya Kakek Bimo sesaat setelah mereka duduk di kursi meja makan.


"Pelayan hanya bertugas membantu kita saat kita tidak bisa melakukannya sendiri, Kek. Tapi jika kita masih punya waktu dan bisa melakukannya sendiri, kenapa juga kita harus bergantung kepada pelayan? Lagipula aku senang kok melakukan semuanya sendiri," jawab Kian sambil tersenyum. Membuat sang kakek menggeleng-gelengkan kepalanya sedangkan Rama seperti biasa tidak peduli dengan apapun yang dikatakan oleh Kian.


"Baiklah terserah kamu saja. Oh iya Rama, siapa tadi nama karyawan yang kamu tarik untuk bekerja di kantor pusat?" tanya sang Kakek kepada Rama.

__ADS_1


"Samir. Dia teman kuliahku dulu."


"Di luar negeri?" tanya sang kakek.


"Di sini. Kakek ingat kan kalau aku sempat kuliah disini selama satu tahun sebelum akhirnya pindah ke luar negeri? Nah Samir adalah sahabatku yang paling dekat denganku selama di kampus."


"Hmm," sang kakek bergumam. Sedangkan Kian masih memperhatikan perkataan suami kakak iparnya itu.


"Sebenarnya dari sejak awal aku mengenal dia, aku sudah tau kalau dia memiliki kepintaran di atas rata-rata. Belum lagi kejujuran dan juga rasa tanggung jawabnya. Dan kemarin dia datang ke kantor sebagai karyawan cabang Amarta's Group."


"Lalu?"


"Aku pikir sangat disayangkan jika potensi bagus yang dia miliki hanya membuat dirinya bekerja sebagai karyawan lapangan di perusahaan cabang jadi aku menariknya ke kantor pusat saja."


"Kamu sudah memikirkan posisi apa yang tepat untuk dia?" tanya sang kakek lagi.


"Iya. Aku sudah bilang padanya kalau besok dia akan bekerja di kantor pusat sebagai asisten pribadiku."


"Kenapa Nak? Apa ada sesuatu yang salah?" tanya sang kakek. Kian langsung menundukkan kepalanya kikuk.


"Hmm.. ti.. tidak.. tidak ada apa-apa Kek," jawab Kian. Dia benar menyesal karena sudah memberikan reaksi atas apa yang dikatakan oleh Rama.


"Bagaimana Kek?" Tanya Rama kembali.


"Kalau tentang ini, kakek serahkan sepenuhnya kepadamu. Kamu yang tau sendiri bagaimana temanmu itu. Dan kakek yakin kamu pasti sudah mempertimbangkan baik dan buruknya sebelum mengangkat dia sebagai asisten pribadimu."


Rama tersenyum mendengar jawaban sang kakek. Berbeda dengan Kian yang langsung memasang wajah panik.


"Kalau Samir menjadi asisten pribadi Mas Rama, itu artinya dia akan terus bersama Mas Rama. Dan hanya tinggal menunggu waktu saja sampai kami akhirnya bertemu. Dan aku sangat yakin kalau aku tidak bisa membohongi Samir dengan berpura-pura menjadi Lian. Lalu apa yang harus aku katakan kepadanya jika nanti dia bertanya?" Pikir Kian.


*** 

__ADS_1


Lian mengerjap-ngerjapkan matanya perlahan. Sinar matahari yang masuk melalui celah-celah dinding kamarnya membuat gadis ini terbangun dari tidurnya. Kepalanya masih terasa pusing dan badannya juga serasa hancur. Tak lupa bagian inti tubuhnya yang terasa sangat perih.


Gadis itu mendudukan tubuhnya di atas tempat tidur. Sambil memijat pelan keningnya dia pun mencoba mengingat-ingat apa yang sudah terjadi semalam. Matanya langsung melotot tajam saat dirinya sedikit mengingat adegan malam tadi. Dengan cepat dia melihat tubuhnya yang masih tertutup selimut dan hatinya begitu terasa ngilu saat dirinya melihat tubuh molek itu tak berpakaian sama sekali.


Lian menoleh ke arah samping dimana ada sosok seorang laki-laki yang masih terlelap tidur. Dan dia juga bisa melihat dengan jelas jika laki-laki di sampingnya itu juga dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun. Mata Lian seketika memanas. Air mata mulai mengalir deras membasahi pipinya. Apalagi saat dia melihat ada noda darah yang menempel di atas spreinya. Lian tau apa yang sudah terjadi semalam. Walaupun dia tidak sepenuhnya ingat dengan kejadian semalam akan tetapi semua tanda-tanda ini sudah membuktikan apa yang mereka lakukan semalam.


Suara isak tangis dari Lian membangunkan sang kekasih yang masih tertidur di sampingnya. Vicky mendudukan tubuhnya dan langsung memegang bahu Lian yang tampak naik turun. Sedangkan wajah gadis itu dia sembunyikan diantara dua kakinya yang ditekuk.


"Ada apa sayang?" tanya Vicky.


"Kenapa kamu melakukan semua ini?" tanya Lian di sela isak tangisnya. Dia bahkan belum mengangkat kepalanya untuk menatap sang kekasih.


"Melakukan? Melakukan apa?" tanya Vicky yang masih belum sadar penuh atas apa yang sudah mereka lakukan semalam.


"Aku sudah katakan sejak awal bukan? Kalau aku tidak mau bercinta sebelum kita resmi menikah. Lalu kenapa kamu malah melakukan hal itu semalam?" 


Lian mengangkat wajahnya memandang Vicky. Laki-laki itu bisa melihat dengan jelas wajah sang kekasih yang sudah banjir air mata. Otaknya berpikir sejenak. Mengingat-ingat kejadian semalam. Dan beberapa menit kemudian dia pun mengingat semuanya.


Vicky panik. Dia langsung memeluk sang kekasih. Akan tetapi Lian terus memberontak.


"Sayang maafkan aku. Aku mohon maafkan aku. Semalam kita sama-sama mabuk dan kita tidak sadar dengan apa yang sudah kita lakukan," jelas Vicky. Tapi itu tidak membuat tangisan Lian berhenti. Gadis itu terus memberontak tak ingin dipeluk oleh laki-laki tersebut.


"Sayang……"


"Pergi!!!!"


****


****


****

__ADS_1


__ADS_2