
"Nak," panggil sang ibu pada akhirnya. Kian menoleh lalu tersenyum. Walaupun masih ada beberapa titik air mata yang jatuh namun wanita itu dengan segera menghapusnya.
"Iya Bu. Kenapa Ibu datang kemari? Seharusnya ibu menunggu saja di depan. Nanti biar aku yang membuatkan minuman untuk kalian."
Lagi dan lagi, ucapan sang anak benar-benar membuat ibu Araya bingung karena sejak dari dulu Lian itu adalah orang yang manja. Dia tidak akan mau membuatkan minum untuk semua orang. Akan tetapi di satu sisi, ibu Araya juga berpikir mungkin Rama yang sudah mengajarinya dan membuatnya berubah seperti sekarang ini. Siapa yang tau bukan? Pikir ibu Araya.
"Ibu…" panggil Kian. Dia bingung karena sejak tadi sang ibu terus memperhatikannya tanpa berkata sepatah kata pun. Sang ibu melonjak kaget.
"Iya Nak," ucap ibu Araya.
"Ibu kenapa?"
"Apa maksudmu?"
"Ibu kenapa menatap aku seperti itu?" Tanya Kian lagi.
"Tidak ada apa-apa Nak. Tidak ada apa-apa," sang ibu menggelengkan kepalanya lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Sang anak pun kembali dengan aktivitasnya semula.
"Nak," panggil ibu Araya tiba-tiba. Kian menoleh.
"Iya bu?" ucap Kian.
"Ibu kemarin memasak jamur. Rasanya sangat enak. Ayah juga makan dan…"
Ucapan ibu Araya terpotong oleh kata-kata Kian.
"Ayah makan jamur? Ibu, semenjak ayah sakit beberapa bulan yang lalu, ayah kan jadi alergi jamur. Jika makan jamur badannya akan gatal-gatal dan….."
Kini ucapan cepat Kian yang langsung berhenti saat melihat sang ibu membalikkan badannya sambil menangis.
"Kian… kamu Kian…." ucap Ibu Araya. Kian terdiam. Kaget karena mendengar sang ayah makan jamur, membuat dirinya lupa jika hanya dia dan ibunya saja yang mengetahui tentang alergi sang ayah.
"Lian tidak tahu tentang alergi ayah. Dia tidak tahu karena dia tidak pernah memperdulikan kesehatan ayah. Kian.. kamu Kian…"
Sang ibu terus meracau sambil menangis. Satu jari telunjuknya dia gerak-gerakkan menunjuk sang anak.
"Ibu…" Tak terasa air mata Kian pun jatuh. Karena kekhawatirannya telah membuat dirinya melakukan sebuah kesalahan yang mengakibatkan sang ibu mengetahui siapa gadis yang ada di depannya kini.
Kian langsung memeluk sang ibu dengan erat. Kedua gadis ini menangis.
__ADS_1
"Ibu maafkan aku. Maafkan aku." Hanya itu yang dapat Kian katakan.
Sang ibu menarik tubuhnya sehingga pelukan mereka pun terurai. Kedua gadis itu saling menghapus air mata masing-masing dengan tangannya. Kian lalu mengajak sang ibu untuk duduk di salah satu kursi yang ada di sana sedangkan dia duduk di lantai dengan kepala yang dibaringkan di pangkuan sang ibu. Tangan ibu Araya mengusap-usap kepala Kian dengan lembut.
"Sejak kapan kalian bertukar tempat? Apa Rama tahu kalau kamu adalah Kian dan bukan Lian?" tanya sang ibu. Kian menjawab tapi dengan tidak merubah posisinya sama sekali.
"Mas Rama tidak tahu apa-apa, Bu. Lian memintaku untuk bertukar identitas dengannya sesaat setelah akad selesai dilakukan. Jadi Mas Rama langsung berpikir kalau aku adalah Lian," jawab Kian.
"Sesaat setelah akad? Itu artinya Lian dan Rama memang sudah menikah bukan?" tanya Ibu Araya.
"Iya bu. Mereka sudah menikah. Pernikahan mereka sah di mata hukum dan juga agama."
"Lalu bagaimana bisa dia berpikir ingin melakukan hal besar seperti ini?" Air mata ibu Araya kembali mengalir. Kian dengan segera mendongak. Kedua tangannya menyentuh pipi sang ibu lalu menghapus air matanya.
"Sudahlah bu, semuanya sudah terjadi. Tak apa."
"Lalu kenapa kamu mau melakukan hal itu? Seharusnya kamu menolak perintah Lian."
"Lian mengancam akan mengakhiri hidupnya sendiri, Bu. Lalu aku harus bagaimana? Aku harus berbuat apa?"
"Seharusnya kamu biarkan saja dia mati. Ibu lebih baik punya anak satu daripada harus memiliki anak seperti dia."
"Tapi Nak, masa depanmu sudah hancur. Masa depanmu malah kamu habiskan bersama laki-laki yang bukan suamimu sendiri. Dan itu artinya kamu menolak jodohmu sendiri untuk datang."
Ibu Araya berdiri lalu menghapus air matanya lagi. Tatapan matanya kini menjadi serius.
"Tidak Nak. Ibu tidak akan pernah membiarkan masalah ini terus berkepanjangan. Ibu akan menghentikan semua permainan Lian ini."
Ibu Araya hampir saja keluar dari dapur akan tetapi langkahnya terhenti oleh ucapan Kian.
"Jangan lakukan itu, Bu. Aku sedang hamil anak Mas Rama."
Ibu Araya mematung. Sungguh ucapan sang anak baru saja bagaikan sebuah petir yang menyambar tubuhnya di siang hari bolong. Wanita paruh baya itu pun berbalik. Perlahan dia berjalan mendekati sang anak kembali.
"Apa yang kamu katakan tadi?" tanya sang ibu lirih saat jarak mereka sudah kembali dekat.
"Aku.. aku sedang hamil anak Mas Rama, Bu!"
PLAK
__ADS_1
Sebuah tamparan keras mendarat mulus di pipi Kian. Sebuah tamparan dari sebuah tangan yang selama ini selalu membelainya dengan lembut. Sebuah tangan yang selama ini selalu mendekap erat tubuh Kian dengan kasih sayang. Tapi kali ini tangan tersebut malah menamparnya dengan kuat.
"Apa yang kamu katakan, Kian?" teriak Ibu Araya.
"Ibu tolong pelankan suaramu. Jangan sampai orang di luar mendengar apa yang sedang kita bicarakan," pinta Kian di sela isak tangisnya.
Sang ibu terjatuh, terduduk di lantai dapur. Tubuhnya seakan kehilangan semua tenaganya. Air mata yang tadi sempat menghilang, kini kembali mengalir.
"Kenapa semuanya bisa menjadi seperti ini? Kenapa?" ucap sang ibu di sela tangisannya. Kian berjalan mendekati sang ibu dan ikut duduk di lantai.
"Bagaimana bisa kamu hamil Kian? Bukankah kamu tahu kalau Rama itu bukanlah suamimu? Kenapa kamu mau menyerahkan semua milikmu kepadanya?"
Kian pun akhirnya menceritakan semuanya yang telah terjadi diantara mereka saat itu. Mendengar hal itu, ibu Araya benar-benar shock. Dia lalu memeluk sang anak dengan erat.
"Maafkan ibu, Nak. Maafkan Ibu. Ibu yang mengandung kalian. Ibu yang melahirkan kalian. Ibu juga yang mengurus kalian dari sejak bayi. Tapi ibu tidak bisa membedakan kalian setelah dewasa. Seandainya saja ibu bisa membedakan kalian, mungkin kejadian ini tidak akan pernah terjadi. Maafkan ibu. Maafkan ibu."
"Ibu sudahlah. Aku mohon jangan menyalahkan diri sendiri seperti ini. Anggap saja ini memang sudah menjadi takdir yang harus aku jalani, Bu. Aku ikhlas. Sungguh!"
"Nak, apa minumannya sudah selesai?" Suara teriakan dari ruang keluarga menyadarkan kedua wanita ini. Mereka saling menatap lalu Kian yang berteriak.
"Sebentar lagi Kek."
Setelah mengatakan hal itu, Kian kembali menatap sang ibu.
"Ibu berjanjilah demi aku. Ibu harus terus berpura-pura tidak tahu tentang permainan ini," ucap Kian.
"Tapi Nak. Lian…."
"Aku yang akan mengurus Lian. Dia yang memulai permainan ini dan dia sendiri yang harus menghentikannya. Aku tidak mau kalau sampai Lian marah sama Ibu karena sudah merusak rencananya."
"Ibu tidak peduli. Mau dia marah bagaimanapun, ibu tidak akan peduli."
"Tapi aku peduli, Bu. Ayah sudah pergi. Dan aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk kepada ibu."
****
****
****
__ADS_1