MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR

MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR
BAB 113. MENIKAHLAH DENGANKU (Tamat)


__ADS_3

"Tunggu!" ucap tegas Rama menghentikan kedua polisi wanita itu yang sedang menyeret tubuh Lian. Wanita itu tersenyum.


Perlahan Rama berjalan mendekati Lian. Dia berdiri di depan wanita itu dan menatap wajahnya dengan lekat dalam diam.


"Mas, syukurlah kamu masih mau menolongku. Aku istrimu, Mas. Aku istri sah mu. Jadi kalau sampai aku masuk ke dalam penjara, bukankah itu akan merusak nama baik keluarga Amarta bukan?" ucap Lian. Rama tersenyum.


"Lian Putri Sahara, mulai detik ini kita sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi. Ikatan suami istri diantara kita sudah aku akhiri. Aku Rama Amarta menjatuhkan talak kepadamu," ucap Rama dengan tegas. 


Semua orang yang ada di sana sangat terkejut dengan keputusan yang sudah diambil oleh laki-laki itu. Kian bankan sampai melongo dan Samir mematung. Akan tetapi berbeda dengan kakek Bimo. Laki-laki tua itu justru malah tersenyum dan merasa bangga dengan apa yang sudah dilakukan oleh cucu kesayangannya itu.


"Mas, apa yang kamu ucapkan? Aku gak mau bercerai denganmu, Mas," teriak Lian.


"Aku akan segera mengurusi semua dokumen tentang perpisahan kita. Sementara kamu boleh bersantai di dalam penjara. Bawa dia!" Kedua polisi wanita itu kembali menarik paksa Lian.


Suara teriakan gadis itu sempat membuat gaduh seisi rumah sakit. Akan tetapi semua tidak ada yang mau ikut campur ataupun berkomentar. Mereka semua tahu siapa Bimo Amarta. Dan mereka semua tidak mau mencari masalah dengan keluarga itu.


Setelah semuanya selesai, kakek Bimo dan juga Samir pun pamit. Mereka akan kembali ke kantor sekaligus menyiapkan berkas untuk kasus Lian.


"Cepat sembuh ya, Ki," ucap Samir kepada sahabatnya itu. Kian hanya mengangguk saja.


"Samir, terima kasih," ucap Rama. Laki-laki itu mengulurkan tangannya dan disambut oleh Samir. Mereka pun berpelukan.


"Sama-sama," jawab Samir singkat.


"Aku titip Kian. Tolong jaga dia dengan baik. Dan jangan pernah membuatnya menangis. Karena satu tetes air saja jatuh dari mata Kian, maka jangan salahkan aku jika aku terpaksa akan merebut kembali sahabatku dari tanganmu," tambah Samir lagi. Keduanya tersenyum.

__ADS_1


"Kakek pulang dulu, Nak. Ingat, terlepas dari kamu adalah Kian atau Lian, kamu tetaplah cucu menantu kesayangan kakek. Jadi jangan pernah takut atau merasa canggung kepada kakek tua ini," ucap Kakek Bimo kepada Kian. Wanita itu pun mengangguk sambil sedikit tersenyum.


"Terima kasih, Kek," ucap Kian lirih.


"Hmm. Segeralah pulang ke rumah. Kakek sangat rindu masakanmu."


"Iya kakek," jawab Kian. Semua orang disana tertawa.


*** 


Suasana malam hari yang cukup sepi. Rama berbaring di atas tempat tidur pasien sambil memeluk Kian. Cuaca saat itu yang terasa lebih dingin dari biasanya, membuat mereka terpaksa berbagi ranjang rumah sakit.


"Mas," panggil Kian. Kepalanya bertumpu di dada bidang Rama.


"Apa aku boleh meminta sesuatu?" tanya Kian hati-hati.


"Jangan membenci Lian?" tanya Rama yang sudah bisa menebak apa yang akan diucapkan oleh wanita pujaannya tersebut. 


"Bagaimana Mas bisa tau?" Kian mendongak. Rama membuka matanya lalu menatap wajah cantik wanita yang ada di pelukannya itu.


"Memangnya apa yang tidak aku tau tentang kamu? Kita sudah lama tinggal bersama dan aku sudah tau semuanya tentang kamu. Luar dan dalam," bisik Rama. Wajah Kian seketika merona karena malu. Rama tertawa.


"Mas ih, jangan bercanda kenapa?" rengek wanita itu. Tangannya mencubit kecil perut laki-laki tersebut.


"Hehe iya.. iya.."

__ADS_1


Candaan mereka berhenti setelah kedua pasang mata itu bersitatap dengan penuh cinta. Tangan Rama mengelus pipi Kian.


"Baik. Aku tidak akan membenci Lian. Aku akan memaafkannya demi kamu. Tapi ada dua syarat," ucap Rama kemudian.


"Dua syarat? Apa itu?" tanya Kian.


"Pertama, aku tidak akan ikut campur tentang masalah kepolisian Lian karena itu ada di wilayah tangan kakek." Kian terdiam namun sejurus kemudian dia mengangguk walaupun sedikit terpaksa.


"Dan yang kedua, setelah aku resmi bercerai dengan Lian, kamu harus siap menjadi istri sahku. Bagaimana?"


Syarat kedua yang diajukan oleh Rama berhasil membuat Kian terpaku. Dia tidak pernah menyangka jika apa yang selama ini dia impikan, sebentar lagi akan menjadi kenyataan. Akhirnya dia akan memiliki hubungan yang sah dan resmi bersama laki-laki yang sangat dia cintai itu. 


Tanpa berpikir lama, Kian langsung mengangguk tanda setuju. Rama sangat senang dengan jawaban wanita itu. Dia sampai mempererat pelukannya terhadap Kian. 


"Terima kasih Kian. I love you."


"I love you too, Mas."


****


****


****


~Tamat~

__ADS_1


__ADS_2