MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR

MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR
BAB 76. BERTENGKAR


__ADS_3

Suara-suara kenikmatan menggema di sebuah kamar sederhana di sebuah rumah kontrakan di ujung gang. Siapa lagi jika bukan berasal dari Lian dan juga Vicky. Kedua insan ini sudah dilanda rindu yang sangat menggebu-gebu untuk menuntaskan hasratnya masing-masing.


Tepat pukul 10 malam Vicky sampai di rumah kontrakan Lian. Gadis itu tentu saja menyambutnya dengan riang gembira. Dengan menggunakan pakaian tidur setengah tipis Lian mencoba mencuri perhatian sang kekasih. Laki-laki mana yang tak kan goncah jika disajikan pemandangan seperti itu, pikir Vicky.


Tanpa basa-basi lagi, laki-laki itu langsung memeluk sang kekasih dengan erat. Mereka saling menghirup aroma tubuh satu sama lain yang tidak pernah berubah dari semenjak terakhir kali mereka merasakannya. Adegan panas pun sudah dimulai sejak laki-laki itu datang. Dan berakhir setelah hari menginjak pukul 2 dini hari. Karena kelelahan, mereka berdua pun akhirnya tertidur dengan lelap.


Pagi hari pun tiba. Lian yang bangun lebih awal langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Bayangan tentang adegan panasnya semalam bersama sang kekasih kembali berputar di dalam ingatannya. Membuat gadis ini tersenyum senyum sendiri. Dia tidak pernah menyangka jika setelah sekian lama mereka tidak bertemu, adegan ranjang itu menjadi lebih bergairah dari sebelumnya. Hentakan dan cumbuan sang kekasih terasa lebih kuat dari sebelumnya. Dan itu membuat Lian sangat ketagihan. Vicky memang ahlinya dalam membuat batin seorang wanita senang.


Setelah menyelesaikan ritual kamar mandinya, Lian pun keluar, masih menggunakan handuk untuk menutupi seluruh tubuhnya. Kedua matanya melihat sang kekasih sudah terbangun dan sedang duduk di atas tempat tidur sambil menatap layar ponselnya. Jarinya terlihat bergerak menandakan laki-laki itu sedang mengetik sesuatu. Entahlah Vicky sedang chat dengan siapa. Lian tidak mau terlalu ingin tahu. Karena dia sangat percaya kepada sang kekasih. Dia sangat percaya jika cinta sang kekasih hanya untuk dirinya saja dan tak ada wanita lain di hati Vicky selain dirinya.


"Kamu mau mandi, sayang?" tanya Lian saat melihat sang kekasih sudah menyimpan ponselnya di atas meja kembali. Vicky menoleh ke arah sang kekasih yang tengah duduk di depan meja riasnya.


Laki-laki itu pun berdiri lalu memakai kembali pakaiannya dengan lengkap. Kemudian dia berjalan mendekati sang kekasih.


"Kamu cantik sekali," puji Vicky. Kedua tangannya memegang bahu wanita itu. Wajah Lian tampak merona mendengar rayuan sang kekasih.


"Gombal," ucap Lian sambil tersenyum. Vicky juga tersenyum.


"Lian aku ingin bicara denganmu," ucap Vicky. Dia berjalan ke samping dan duduk di ujung tempat tidur menghadap ke arah wanita itu.


"Bicara apa? Katakan saja?" ucap Lian. Wanita ini pun memutar tubuhnya untuk bisa berhadapan dengan Vicky.


"Hmm," Vicky tampak ragu untuk mengatakannya.


"Ada apa sayang? Katakan saja!" desak Lian. Laki-laki itu menatap kedua mata Lian.


"Sayang, apa aku boleh pinjam uang tabunganmu?" ucap Vicky dengan lugas.

__ADS_1


"Uang tabungan?" tanya Lian lirih.


"Iya. Aku janji untuk kali ini aku hanya meminjam, bukan meminta. Nanti jika aku menang taruhan, pasti aku akan langsung membayarnya."


"Menang taruhan? Kamu masih berjudi?"


Vicky terdiam. Melihat sang kekasih yang terdiam, Lian pun mengerti kalau apa yang dikatakannya adalah benar. Lian pun sedikit kecewa.


"Sayang, bukankah kamu sudah berjanji kepadaku untuk tidak bermain judi lagi? Aku siap membantu keuanganmu sehari-hari asalkan kamu tidak berjudi lagi. Kenapa kamu mengingkari janjimu, sayang?" tanya Lian dengan nada yang kecewa.


"Aku minta maaf. Tapi mau bagaimana lagi. Aku butuh uang sedangkan kamu malah menjauh. Aku bingung."


"Aku tidak menjauh sayang. Aku tidak pernah menjauh. Justru kamu yang menjauh karena aku tidak mau memberikan kamu mobil."


"Iya.. iya.. sudahlah.. anggap saja memang aku yang menjauh. Tapi sekarang aku butuh uang lagi." Vicky terus bersikap tenang tak tahu malu.


"Tapi untuk apa lagi sayang? Bukankah kemarin aku sudah memberikanmu uang sangat banyak. Aku malah sampai harus mengambil uang di perusahaan untukmu. Dan sekarang kamu memintanya lagi?" tanya Lian tidak mengerti.


"Bos Roni? Siapa itu?" tanya Lian.


"Bos Roni pemilik klub malam tempat kita selalu kumpul. Aku meminjam uang kepadanya tapi aku tidak bisa membayarnya."


"Ya Tuhan Sayang. Kenapa kamu sampai meminjam uang sama Bos Roni. Kamu tau sendiri dia itu sangat kejam."


"Aku tau. Itu sebabnya aku minta tolong padamu. Aku ingin meminjam uang tabunganmu."


Lian terdiam. Dia hanya menatap sang kekasih tanpa bisa bicara apa-apa lagi.

__ADS_1


"Bagaimana? Apa bisa?" tanya Vicky lagi.


"Aku minta maaf, sayang. Tapi uang tabunganku sudah habis." jawab Lian lemas.


"Apa? Bagaimana mungkin bisa habis? Uang tabunganmu kan sangat banyak. Bagaimana bisa habis?" tanya Vicky dengan nada sedikit naik.


"Bagaimana? Tentu saja kita yang habiskan bersama. Aku butuh untuk biaya hidup sehari-hari. Dan kamu juga kan selalu meminta ini dan itu. Lalu setiap kali kamu mengajak berkumpul bersama teman-teman, apa kamu lupa kalau semua itu menggunakan uangku? Sekarang uang tabunganku sudah habis. Aku bahkan akan mulai mencari kerja besok. Karena perusahaan keluarga kami hancur dan sekarang berada di tangan Amarta's Group," jelas Lian.


"Jadi maksudmu? Kamu menyalahkan aku? Kamu menyalahkan aku yang sudah menghabiskan uang tabunganmu?" Vicky mulai membentak. Dia berdiri dari duduknya dengan mata yang melotot. 


Berbeda dengan Kian yang selalu terdiam, menunduk, bahkan menangis saat terkena bentakan orang lain, Lian memiliki sikap yang lebih kuat.


"Aku tidak menyalahkanmu sayang. Hanya saja bukankah kamu sendiri tadi yang bertanya bagaimana bisa uang tabunganku yang banyak bisa habis? Iya aku jelaskan rinciannya." ucap Lian masih dengan tenang.


"Tapi dari kata-katamu, sudah sangat jelas kalau kamu menyalahkan aku yang sudah menghabiskan semua uang tabunganmu." bentak Vicky.


"Sayang dengarkan aku. Kenapa kamu selalu membicarakan sesuatu hal dengan menggunakan emosi? Semua bisa kita bicarakan baik-baik tanpa harus kamu marah-marah."


"Aku tidak akan marah kalau kamu juga tidak membuat gara-gara."


"Aku buat gara-gara apa? Seharusnya aku yang marah karena kamu sudah ingkar janji dengan selalu bermain judi. Padahal kamu sudah berjanji padaku tidak akan bermain lagi. Tapi aku tidak marah kan? Terkadang aku bingung dengan cara berpikirmu, sayang. Kenapa kamu malah memilih berjudi, padahal masih banyak cara lain untuk mendapatkan uang. Bekerja, berjualan atau mungkin menulis seperti yang dilakukan Indra."


"Indra?" Dahi Vicky berkerut saat mendengar sang kekasih menyebut nama Indra.


"Sejak kapan kamu berhubungan dengan Indra?" tanya Vicky geram. Kedua matanya sudah mulai merah karena marah dan tangannya mengepal dengan sangat kuat. Lian menelan salivanya agak keras. Dia sadar jika dirinya telah salah berbicara.


****

__ADS_1


****


****


__ADS_2