
Pagi itu Lian berdiri di depan gerbang rumah keluarga Amarta. Dia bersembunyi di balik pohon yang ada disana. Semenjak Rama melarang Kian untuk berhubungan dengan Lian kembali, gadis itu selalu menolak panggilan yang dilakukan oleh Lian. Dan hal itu tentu saja membuat sang kakak kembarnya itu marah.
Cukup lama wanita itu berdiri akan tetapi rumah itu tampak sepi. Hanya ada seorang penjaga dan juga beberapa tukang kebun yang sedang membersihkan taman di depan rumah itu. Sekilas Lian sangat terpesona dengan rumah tersebut. Akan tetapi cintanya kepada sang kekasih Vicky tetap tidak membuatnya gentar.
Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya yang ditunggu-tunggu pun tiba. Lian melihat pintu utama rumah itu terbuka dan keluarlah tiga orang dari sana yang tentu saja sangat Lian kenal. Siapa lagi jika bukan Kakek Bimo, sang suami Rama, dan tentu saja adik kembarnya Kian.
Raut wajah ketiga orang itu tampak sangat bahagia. Mereka tersenyum dan sesekali tertawa seperti sedang bercanda di pagi hari. Lian melihat Kian mencium punggung tangan Kakek Bimo lalu setelah itu sang kakek pergi masuk ke dalam mobil. Membiarkan pasangan itu berduaan.
"Hmm, mau-maunya Kian mencium tangan kakek tua itu. Gara-gara dia masa depan aku hancur. Dan sekarang aku tinggal jauh dari keluargaku sendiri. Seandainya saja laki-laki tua itu tidak datang dengan membawa lamaran, mungkin aku akan segera membawa Vicky ke rumah dan memaksa ayah untuk merestui hubungan kami," gumam Lian.
Selepas sang kakek pergi dan naik ke dalam mobil, Lian melihat saudara kembarnya itu berdua dengan sang suami. Lian melihat wajah Kian yang selalu tersenyum. Entah apa yang mereka bicarakan, Lian tidak tahu, dia tidak bisa mendengar. Wanita ini hanya bisa melihat gestur tubuh mereka saja.
"Bahagia sekali kamu tinggal disini adikku? Pantas saja belakangan ini kamu tidak pernah menghubungiku dan mengeluh lagi. Padahal biasanya kamu selalu menangis dan meminta kita bertukar identitas lagi. Hmm, dasar wanita licik. Ternyata setelah kamu bahagia tinggal bersama suamiku, sekarang kamu melupakan aku?"
Tangan Lian semakin mengepal kuat saat kedua matanya melihat tangan dari Rama menyentuh perut Kian dan lalu laki-laki itu mencium kening sang adik. Lian bukan marah karena cemburu. Akan tetapi dia marah karena dia merasa jika Kian bahagia dengan permainan yang telah dia ciptakan sendiri. Lian marah karena dia merasa jika karena kebahagiaan ini telah membuat sang adik menjadi sombong dan tak ingin berhubungan dengan dirinya lagi.
"Padahal seharusnya kamu bisa menuruti semua yang aku minta karena jika bukan karena diriku, kamu tidak akan bisa merasakan kebahagiaan ini. Kamu benar-benar tidak bisa membalas budi, Kian. Kamu bagaikan kacang yang lupa dengan kulitnya. Lihat saja aku akan membuat perhitungan denganmu."
Lian semakin dalam bersembunyi saat mobil yang ditumpangi oleh kakek Bimo dan juga Rama berjalan keluar dan melewati posisi dimana dia berada sekarang. Lian tidak ingin mereka, terutama Rama tahu akan keberadaannya di rumah itu. Karena jika sampai itu terjadi, bisa Lian pastikan jika dirinya tidak akan bisa bicara dengan Kian lagi, bahkan untuk selamanya.
Setelah dirasa cukup aman, Lian segera berlari ke arah gerbang yang hampir saja ditutup oleh penjaga. Dengan sekuat tenaga, dia berteriak.
__ADS_1
"KIAN"
Sang adik menoleh ke arah sumber suara. Dia merasa terkejut saat kedua matanya melihat siapa sosok yang sudah memanggilnya.
"Lian," gumam Kian.
"KEMARILAH! AKU INGIN BICARA DENGANMU!" teriak Lian lagi.
Kian bingung apa yang harus dia lakukan sekarang. Apakah dirinya harus berjalan menemui sang kakak? Tapi jika itu dia lakukan artinya dia sudah melawan perintah Rama. Tapi jika dia mengabaikan Lian dan langsung masuk ke dalam rumah, Kian tidak tahu apa yang akan saudara kembarnya itu lakukan. Kian tahu jika Lian bisa menghalalkan segala cara demi untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
Kian memejamkan matanya dan menarik nafas dalam. Akhirnya dia memutuskan untuk menemui Lian saja. Sang kakak tersenyum licik saat melihat adik kembarnya itu berjalan mendekatinya.
"Ada apa Lian?" tanya Kian saat jarak diantara mereka sudah dekat.
Karena sang adik hanya diam saja, senyuman di wajah Lian pun seketika menghilang. Berubah menjadi tatapan yang penuh dengan kebencian.
"Aku ingin bicara denganmu!" ucap Lian kembali.
"Tapi aku tidak bisa mengizinkan kamu masuk, maaf. Aku tidak mau Mas Rama marah dan…"
"Wahh jadi suamiku yang sudah melarangmu untuk menemuiku? Berani sekali dia menjauhkan seorang adik dari kakaknya sendiri. Memangnya siapa dia?"
__ADS_1
Kian tak banyak bicara. Sejujurnya di dalam hatinya dia sedang merasa gelisah. Dia takut jika saat dirinya sedang berbicara dengan sang kakak, Rama kembali dan melihat ini semua. Kian tidak bisa membayangkan bagaimana marahnya laki-laki itu kepadanya jika dia melihat hal ini.
"Baiklah. Bagaimana jika kamu ikut denganku? Kita akan bicara di luar." ajak Lian lagi. Kian kembali berpikir. Apakah tidak apa-apa jika dirinya pergi bersama Lian?
Melihat ada keraguan di wajah Kian, lagi dan lagi Lian mengeluarkan jurus andalannya. Apalagi jika bukan sebuah ancaman.
"Jika kamu tidak ingin ikut dan bicara denganku, maka aku akan memberitahukan kepada ayah dan juga Rama jika kamu yang sudah memaksaku untuk bertukar identitas karena kamu sangat mencintai Mas Rama dan kamu tidak rela jika Mas Rama bersanding denganku," ancam Lian.
Kian kaget. Dia tidak pernah menyangka jika sang kakak bicara seperti itu.
"Bagaimana? Kamu sudah tahu kan jika apa yang aku katakan bukan hanya sekedar isapan jempol belaka. Aku akan selalu melakukan segala cara agar aku bisa mendapatkan apa yang aku mau. Dan bukanlah perkara yang sulit bagiku untuk meyakinkan ayah, kakek Bimo bahkan Mas Rama agar mereka percaya jika dalang dibalik pertukaran identitas ini adalah kamu. Apa kamu bisa bayangkan apa yang akan terjadi pada ayah jika dia tahu semua ini. Dan apa kamu bisa bayangkan juga apa yang bisa dilakukan Mas Rama dan juga Kakek Bimo jika mereka mengetahui ini?"
Kian masih terdiam. Tapi Lian yakin jika ancamannya kali ini seperti biasa selalu mempengaruhi pikiran sang adik.
"Bagaimana adikku sayang? Keputusan mana yang akan kamu ambil? Aku tidak punya waktu banyak hanya untuk menunggu kamu mengambil keputusan. Pergi denganku sekarang atau akan kuakhiri semua permainan pertukaran identitas ini? Bukankah selama ini memang itu kan yang kamu inginkan?"
Kian terdiam. Iya dia memang menginginkan identitasnya kembali. Tapi jika harus dengan alasan seperti itu? Belum lagi bagaimana nasib janin yang sedang dia kandung? Kian berpikir dengan tangan yang memegang perutnya.
****
****
__ADS_1
****