MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR

MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR
BAB 36. MEMINTA PENJELASAN


__ADS_3

Saat sang pembawa acara mengumumkan akan kedatangan sang CEO perusahaan terbesar di negara tersebut, Safira langsung berdiri dari duduknya. Sambil tersenyum dia melenggang mendekat ke arah depan dimana sang pembawa acara berbicara. Akan tetapi langkahnya yang baru setengah jalan itu terhenti saat kedua telinganya mendengar jika sang kekasih akan hadir bersama sang istri. 


"Istri….???" 


Hal itu sangat membuat Safira kaget bukan main. Bagaimana mungkin dia tidak mengetahui jika sang kekasih sudah menikah? Bukankah Rama adalah CEO perusahaan terkenal, tapi bagaimana mungkin acara pernikahannya tidak sampai ke telinganya? Lagi pula selama ini setiap hari Rama selalu menemuinya dan laki-laki itu tak pernah membahas tentang pernikahannya. Lalu ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi?


Kedua mata Safira menoleh saat sudut matanya menangkap bayangan dua sejoli yang sedang berjalan sambil bergandengan menuju ke area utama acara. Lagi dan lagi, wanita itu dibuat terkejut bukan main.


"Itu… gadis itu…. Bukankah itu gadis yang aku temui di Bandara saat pertama datang ke kota ini? Tapi bukankah dia saudaranya Rama? Itu kan yang Rama katakan dulu? Aku tidak salah mendengar kan?"


Kedua tangan Safira mengepal dengan sangat keras. Dia merasa jika selama ini dia sudah dibodohi oleh sang kekasih. Pantas saja laki-laki itu tidak mengizinkannya datang ke acara ini. Ternyata agar status pernikahannya tidak dia ketahui, pikir Safira. 


Wanita itu tidak bisa menerima penghianatan ini. Dia berjanji jika Rama dan juga wanita yang katanya istri dari sang kekasih, akan mendapatkan balasan yang setimpal. Safira berjanji kepada dirinya sendiri bahwa dia akan menghancurkan Rama beserta keluarganya.


*** 


Di ruangan yang sama akan tetapi posisi yang berbeda, Samir juga ikut terkejut saat melihat wanita yang mendampingi sang atasan dan yang diperkenalkan oleh pembawa acara sebagai istri sang CEO adalah Kian, bukan Lian. Dahinya mengernyit tajam tanda dia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Dulu saat Rama dan Lian menikah, Samir memang tidak datang secara langsung. Tapi dia sempat melihat foto pernikahan Rama dan juga Lian. Dan Samir yakin jika yang sudah menikah dengan Rama adalah Lian. Tapi kenapa sekarang malah berubah menjadi Kian.


Laki-laki itu terus mengerjap-ngerjapkan matanya bahkan sesekali menguceknya, berharap penglihatannya kali ini adalah salah. Akan tetapi beberapa kali pun dia mencoba, Samir tetap yakin jika wanita itu adalah Kian, bukan Lian. 


Samir mencoba berjalan di samping Kian walaupun terhalang oleh beberapa tamu undangan. Merasa ada yang aneh, gadis itu pun menoleh ke arah samping dan pada akhirnya kedua mata lembutnya bertemu dengan kedua mata Samir. Kian menelan salivanya kasar. Ada raut khawatir dan gelisah yang tiba-tiba saja muncul di wajah gadis itu. Dan itu disadari dengan cepat oleh Samir.

__ADS_1


Tak ingin sang sahabat terus menatapnya, Kian langsung memalingkan wajahnya kembali menghadap ke arah depan. Tangan kanannya yang melingkar di tangan Rama sedikit menguat dan itu berhasil membuat laki-laki itu menoleh. Sorot matanya seakan bertanya ada apa, akan tetapi Kian menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


Setelah kedua sejoli itu berdiri berdampingan di depan, semua orang ramai membicarakan mereka. Banyak diantara para tamu undangan menilai bahwa pasangan ini sangat serasi. Yang satu tampan dan yang satu lagi cantik. Akan tetapi tidak semua tamu undangan yang hadir disana tau jika sang CEO Amarta's Group ternyata sudah menikah. 


Melihat suasana yang mulai ricuh, Kakek Bimo pun menjelaskan jika pernikahan mereka sudah terjadi selama lebih dari dua bulan. Sebuah pesta pernikahan sederhana diadakan oleh kakek Bimo atas keinginan dari Rama. Itu sebabnya, kakek Bimo tidak membuat undangan ataupun pengumuman besar-besaran tentang status pernikahan sang cucu. Waktu itu mereka hanya mengundang beberapa kerabat dekat saja dan hari ini di hari ulang tahun perusahaan Amarta's Group menjadi momen yang baik untuk sekaligus mengumumkan tentang pernikahan mereka.


"Apa? Lebih dari dua bulan? Dan Rama tidak memberitahukan apa-apa kepadaku?" gerutu Safira. Dia memang kesal dengan keadaan yang terjadi akan tetapi dia masih belum berniat untuk pergi dari acara tersebut. Dia ingin tahu sejauh mana dia kehilangan berita tentang Amarta's Group.


Safira terus menatap tajam ke arah Rama. Sedangkan laki-laki itu terus menatap seluruh tamu undangan yang hadir. Sapuan matanya terhenti saat kedua netra Rama menangkap sosok seorang wanita yang sangat dia kenal sedang menatap ke arahnya. Sontak laki-laki itu melepaskan tangan Kian yang berada di lengannya dan itu berhasil membuat Kian menoleh. 


Kian mengikuti arah pandang sang suami dan dia cukup terkejut dengan kehadiran Safira di dalam acara tersebut. Akan tetapi hati kecilnya merasa bahagia melihat wanita itu ada di sini. Apalagi Kian yakin jika wanita itu sudah mendengar status pernikahan Rama. Kian tersenyum kecut lalu dengan sengaja dia kembali melingkarkan tangannya di lengan sang suami. Entahlah apa yang dia lakukan itu benar atau salah akan tetapi hati kecilnya sangat senang ketika melihat rasa kesal yang ditunjukkan oleh Safira.


Setelah acara pengumuman selesai, semua tamu undangan kembali menyebar. Ada yang berjalan menuju stand makanan, ada yang berjalan ke arah taman, dan ada juga yang berjalan ke arah lantai dansa. Melihat Safira yang pergi ke arah taman, membuat Rama dengan cepat melepaskan tangan Kian dan berlari mengejar sang kekasih.


Baru saja Kian akan ikut mengejar sang suami namun langkahnya kembali terhenti saat sebuah tangan menahan lengannya dari arah belakang.


"Kamu berhutang satu penjelasan kepadaku," ucap seorang laki-laki dan Kian pun menoleh.


"Kian…." Lanjut laki-laki itu.


"Samir…" gumam Kian pelan. 

__ADS_1


Kian tidak terlalu terkejut dengan hal ini. Sejak awal dia sudah yakin jika hari ini semua sandiwaranya akan terbongkar di hadapan sang sahabat. Seberapa maksimal pun dia berusaha untuk menjadi seorang Lian, akan tetapi semua akan sia-sia di depan Samir.


Kian menghembuskan nafas dalam. Samir langsung menarik tangan Kian untuk mengikutinya keluar dari pesta itu.


"Samir, kita mau kemana? Aku tidak bisa meninggalkan pesta ini," ucap Kian. Tapi laki-laki itu tak menghentikan tarikannya sehingga mau tidak mau Kian terus mengikutinya.


Samir mengajak Kian masuk ke dalam sebuah kamar hotel yang terletak tak jauh dari aula acara. Di sana laki-laki itu baru melepaskan genggaman tangannya.


"Samir kenapa kamu membawaku kemari? Ini kamar siapa?" tanya Kian.


"Ini kamarku," jawab Samir tegas.


"Aku harus kembali ke pesta. Aku tidak mau Mas Rama mencariku," jawab Kian yang hendak melangkah pergi. Akan tetapi dengan cepat Samir mendahuluinya menutup akses pintu keluar.


"Samir kamu ini kenapa?"


"Aku tidak akan membiarkanmu pergi sebelum kamu menceritakan semuanya kepadaku."


****


****

__ADS_1


****


__ADS_2