
Dengan keadaan tidak bersemangat, Rama pada akhirnya melajukan mobil tersebut ke rumah sakit. Walaupun di satu sisi sebenarnya dia ingin menguji apakah ancaman yang diungkapkan oleh Lian itu adalah benar atau hanya isapan jempol belaka. Tapi di sisi yang lain, dia juga merasa khawatir jika Lian benar-benar berbuat nekat. Bagaimanapun dia tidak mau terjadi sesuatu yang buruk kepada gadis itu. Seperti yang selalu Lian katakan belakangan ini, bahwa wanita itu adalah istri sah nya dan sudah menjadi kewajibannya untuk mengurus dan juga menjaganya mau ataupun tidak.
"Mas….." teriak Lian. Tangannya terbuka ke depan berharap laki-laki itu segera memeluknya.
Rama yang melihat hal itu sempat menghentikan langkahnya sejenak.
"Mas?" panggil Lian tanpa menurunkan uluran kedua tangannya.
Rama kembali melangkah mendekati Lian. Dan pada akhirnya wanita itu pun bisa memeluk erat sang suami. Lian tidak peduli walaupun dia tau jika hanya dia yang memeluk Rama, sedangkan kedua tangan laki-laki itu tidak bergerak sama sekali berada di samping tubuhnya sendiri.
"Mas, aku sangat merindukanmu. Sangat… sangat… sangat… merindukanmu," ucap Lian. Dan dengan tanpa rasa malu wanita itu menciumi perut Rama yang masih terhalang kemeja putih itu. Lian sangat berharap jika apa yang dia lakukan bisa meningkatkan gairah pada diri laki-laki itu. Akan tetapi semua percuma. Rama masih tetap saja diam bak patung.
"Mas kenapa kamu diem aja? Apa kamu gak seneng ketemu sama aku?" Ucap Lian. Wajahnya mendongak ke atas menatap wajah Rama akan tetapi lingkaran tangannya di tubuh laki-laki itu tidak dia lepaskan.
"Bukan begitu Lian. Aku hanya sedang memikirkan pekerjaanku saja. Hari ini di kantor, pekerjaanku sangat banyak. Dan aku terpaksa meninggalkannya gara-gara kamu mengancam seperti tadi," ucap Rama berbohong.
Lian tidak menanggapi alasan sang suami. Dia tidak peduli dengan semua pekerjaan Rama yang katanya menumpuk itu. Yang dia pedulikan saat ini hanya satu yaitu sang suami bisa datang dan menemani dirinya di rumah sakit.
Rama melepaskan pelukan Lian dengan pelan. Laki-laki itu kemudian duduk di kursi di samping wanita itu.
"Mas, kenapa duduk disitu. Ayo duduk disini!" rengen Lian. Wanita itu setengah memaksa sang suami untuk duduk di sampingnya di atas ranjang rumah sakit.
"Tapi ini tempat tidur rumah sakit Lian. Gak enak kalau sampai ketahuan dokter," tolak Rama.
"Mas, kok kamu takut sama dokter sih. Kamu ini CEO Amarta's Group. Kalau kamu mau, kamu bisa membeli rumah sakit ini. Dan aku yakin gak akan ada satu dokter pun yang akan mau mencari masalah denganmu," ucap Lian dengan sombong.
"Ayo Mas…"
__ADS_1
Lian terus merengek dan salah satu tangannya menarik kemeja laki-laki itu. Mau tidak mau akhirnya Rama kembali berdiri dan naik ke atas tempat tidur rumah sakit. Duduk di samping Lian. Wanita itu melingkarkan kembali tangannya di lengan Rama dan menyandarkan kepalanya di bahu laki-laki itu.
"Mas, mas tau gak tadi pagi dokter yang meriksa kondisi aku bilang katanya besok aku udah boleh pulang," ucap Lian yang berhasil membuat Rama terkejut.
"Pulang?" tanya Rama. Pandangannya menoleh ke arah wanita di sampingnya.
"Iya pulang. Kok Mas terkejutnya kayak gitu sih? Seharusnya kan Mas senang mendengar istrinya mau pulang."
Lian terus saja mengatakan jika dirinya adalah istri dari laki-laki itu. Dia tidak pernah merasa bosan untuk mengatakan hal itu. Karena dia ingin terus menyadarkan Rama jika istri sah nya itu adalah Lian, bukan Kian.
"Bukan begitu. Hanya saja, kenapa dokter tidak memberitahuku?" tanya Rama.
"Aku yang menyuruhnya. Aku menyuruhnya untuk tidak mengatakannya pada Mas. Soalnya aku ingin mengatakannya sendiri kepada Mas. Aku ingin memberikan kejutan kepada Mas."
Rama terdiam. Sedangkan Lian kembali menyandarkan kepalanya di bahu Rama. Mata wanita itu terpejam mencoba menikmati aroma tubuh laki-laki itu.
"Kok Mas bicara gitu sih? Tentu saja pulang ke rumah keluarga Amarta. Aku kan istrimu, Mas."
Lian melepaskan pelukannya di lengan sang suami. Dia sedikit menggeser posisi duduknya sehingga kini mereka saling berhadapan.
"Memangnya Mas mau buang aku kemana?" tanya Lian dengan emosi.
"Bukan begitu Lian. Kamu tau sendiri jika di rumah ada kakek dan juga Kian. Dan kakek tidak tau yang sebenarnya," jelas Rama.
"Iya kalau begitu katakan saja yang sebenarnya pada Kakek. Aku yakin kakek pasti akan mau menerimaku. Bukankah dari awal kakek juga setuju untuk menikahkan kita?" ucap Lian sedikit mengotot.
"Tapi sekarang kondisinya berbeda. Kakek sudah sangat menyayangi Kian. Dan aku takut jika kakek tau yang sebenarnya, dia tidak akan bisa menerima kenyataan ini."
__ADS_1
"Hmm aku tidak peduli. Bahkan jika kakek itu mati karena hal ini juga aku tidak peduli," pikir Lian.
"Baiklah kalau begitu, Mas pindahkan saja Kian. Jangan biarkan Kian tinggal di rumah. Dan tanpa sepengetahuan kakek, Mas bisa membawaku pulang. Dan semuanya bisa berjalan seperti biasa. Itu mudah bukan?"
"Tidak semudah itu Lian," ucap Rama. Sebenarnya dia sudah ingin sekali membentak wanita di depannya ini. Mendengar Lian menyuruhnya untuk mengusir Kian, membuat emosi di dalam diri Rama bangkit.
"Apanya yang tidak semudah itu sih Mas? Semuanya mudah. Atau mungkin karena kamu yang sudah mencintai Kian jadi Mas tidak mau aku tinggal di rumah Mas?"
"Lian, bukankah kamu sudah tau jika Kian sedang hamil? Bagaimana bisa kamu bertukar tempat di rumah disaat kondisi kalian berbeda?"
"Jadi karena kehamilan Kian yang membuat semuanya jadi sulit?" tanya Lian lagi. Wajahnya kecut dan dia tidak suka jika ada sesuatu yang menghalangi jalannya untuk mendapatkan apa yang dia mau.
"Iya. Kian hamil sedangkan kamu tidak. Itu kendalanya." jawab Rama tegas. Dia sangat berharap jika wanita di depannya ini mengerti jika semua yang terjadi sudah terlalu jauh untuk dimulai kembali dari awal.
"Jadi kalau Kian tidak hamil maka aku bisa masuk ke dalam rumah keluarga Amarta sebagai istrimu?" tanya Lian lagi. Dengan sedikit ragu Rama pun mengangguk. Dia tidak pernah tau jika gerakan kepalanya yang sangat sederhana itu nyatanya akan membuat sebuah masa depannya hancur.
***
Tepat pukul empat sore, Rama sampai di rumah keluarga Amarta. Seperti biasa sebuah senyum manis di bibir Kian selalu menyambutnya. Sebuah senyum yang biasanya selalu meluluhkan segala lelah di tubuhnya akan tetapi kali ini senyum tersebut malah membuat sakit di dalam hatinya.
"Mas, kamu sudah pulang?" ucap Kian berbasa-basi. Dia mengulurkan tangannya untuk mencium punggung tangan sang suami. Kian kembali tersenyum saat Rama menjawab uluran tangan tersebut.
"Mas, aku harap kamu tidak akan pernah berubah karena kejadian ini," gumam Kian dalam hati.
****
****
__ADS_1
****