MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR

MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR
BAB 69. DATANG KE KANTOR


__ADS_3

Vicky duduk di teras rumah Indra bersama dengan Lian. Wanita itu melingkarkan tangannya di lengan sang kekasih dan menyandarkan kepalanya di bahu Vicky. Sebuah senyum terukir di bibir Lian. Pada akhirnya dia bisa juga melepaskan rindu dengan memeluk sang kekasih yang sudah lama tak berjumpa. 


Sayangnya senyum kebahagiaan itu hanya terjadi pada satu pihak saja. Iya, hanya Lian saja yang tampak sangat bahagia dengan pertemuan ini. Sedangkan Vicky, walaupun apa yang dia inginkan sudah diberikan oleh Lian akan tetapi laki-laki itu masih tetap saja acuh. Dia seperti kehilangan gairah terhadap wanita itu. Tak ada sedikitpun senyum di bibir Vicky. Laki-laki itu hanya diam dengan mata yang terus menatap fokus ke arah ponselnya dimana terpampang jelas mobile banking.


"Oh iya sayang," Lian menarik nafas panjang lalu berbicara pada Vicky dengan mata yang terpejam. Menikmati setiap wangi tubuh laki-laki itu yang sudah lama tidak dia hirup.


"Kemarin ayahku meninggal," ucap Lian dingin. Tak ada sedikitpun raut wajah sedih mengingat orang yang sudah berjasa dalam kehidupannya itu telah pergi untuk selamanya.


"Oh iya?" kata Vicky.


"Hmm. Dia terkena serangan jantung."


"Ooh…" Hanya itu yang diucapkan oleh Vicky. Tidak ada doa ataupun turut berbela sungkawa dari mulut laki-laki itu.


Mereka berdua kembali terdiam. Suasana pagi yang sudah mulai ramai nyatanya tidak membuat kedua pasangan sejoli ini merasa terganggu.


"Sayang, sepertinya setelah ini aku agak sulit untuk memberikanmu uang," ucap Lian. Dan kali ini berhasil merebut perhatian Vicky.


"Apa maksudmu?" dia memiringkan badannya agak keras sehingga pelukan tangan Lian ikut terlepas. Matanya menatap tajam wanita di depannya itu.


"Iya sayang. Sebelumnya perusahaan kami memang sedang mengalami down. Dan karena kemarin aku mencuri uang itu, jadinya perusahaan kami sekarang benar-benar hancur. Apalagi ayah sudah tidak ada. Dan tidak ada lagi yang bisa mengurus perusahaan keluarga selain ayah. Aku tidak tahu apa kami dengan terpaksa harus menutup perusahaan kami atau tidak," jelas Lian.


Vicky kembali terdiam. Dahinya sedikit meninggi menandakan jika dirinya sedang berpikir. Akan tetapi entah apa yang sedang dia pikirkan.


"Sayang, kamu tidak apa-apa kan? Kamu tidak marah kan?" tanya Lian dengan memandang wajah sang kekasih. Vicky hanya diam. Dia tidak menjawab apa-apa.


Setelah beberapa saat saling diam, secara tiba-tiba Vicky berdiri. Pandangannya kembali dingin dan tak menoleh ke arah Lian sama sekali.


"Ini sudah siang. Sebaiknya kamu segera pulang."

__ADS_1


Singkat, padat, jelas. Itulah kata terakhir yang diucapkan oleh laki-laki itu sebelum akhirnya dia kembali masuk ke dalam rumah Indra tanpa menunggu sang kekasih menjawabnya. Lian melihat ke arah Vicky yang hilang setelah pintu ditutup. Sangat jelas terbaca jika laki-laki itu tidak menginginkan dirinya untuk menyusulnya masuk ke dalam rumah. 


Lian menarik nafas dalam. Dia masih sangat bersyukur sudah bisa bertemu dan memeluk lagi sang kekasih setelah sekian lama tidak bertemu. Iya walaupun dalam waktu yang singkat. Tapi gadis itu tidak peduli. Yang jelas dia sudah sangat senang sekarang.


Lian pun berdiri dan melangkahkan kakinya keluar dari halaman rumah itu. Menaiki motor maticnya. Dan sesaat sebelum kendaraan itu dipacu, Lian sempat melihat ke arah rumah Indra. Dia masih berharap sang kekasih kembali keluar untuk mengecup dahinya dan mengucapkan sampai bertemu lagi. Atau setidaknya menampakkan wajahnya dari balik jendela dan melambaikan tangannya dengan senyuman. Akan tetapi semuanya kosong. Semua khayalan yang ada di pikiran Lian hanya tetap menjadi khayalan. Menyadari semua keinginannya tak akan terjadi akhirnya Lian pun melajukan motornya pergi dari rumah itu.


***


Kantor utama perusahaan Amarta's Group. Hari ini tampak sangat ramai. Para pekerja tampak lebih sibuk daripada hari-hari sebelumnya. Ada yang mengetik, ada yang mengumpulkan file, bahkan ada juga office boy yang bolak-balik mengantarkan pesanan minuman kepada para pegawai yang sibuk itu.


Seorang wanita muda berjalan masuk ke dalam lobi. Dia berjalan ke arah resepsionis dengan senyum cantik yang terukir di bibirnya yang merah. Melihat siapa yang datang, resepsionis itu langsung berdiri.


"Nyonya, anda datang kemari?" tanyanya dengan sedikit membungkukkan badan.


"Iya. Apa suamiku ada?" tanya wanita itu.


"Nyonya Lian, sedang apa anda disini?" ucapan Samir yang baru saja keluar dari lift, menarik perhatian Kian. Ada senyum di wajah Kian saat melihat laki-laki itu. Akan tetapi ada juga rasa tegang, takut dan juga gelisah yang menggerogoti hatinya. Samir berjalan mendekati Kian.


"I.. iya," jawab Kian gugup.


"Baiklah. Ayo aku antar ke atas ke ruangannya," ajak Samir mempersilahkan diri. Wanita itu pun mengangguk dan mulai mengikuti laki-laki itu.


Tak ada kata-kata lagi setelah itu. Bahkan ketika mereka hanya berdua di dalam lift pun, mereka sama-sama diam. Sesekali Kian mencuri pandang ke arah Samir yang kini sedang berada di sisinya. Akan tetapi laki-laki itu tampak sangat acuh. Kedua matanya fokus menatap ke depan. Dan sikapnya juga terasa begitu canggung. Berbeda dari biasanya.


"Dia kenapa? Kenapa dia diam saja seperti ini?" ucap Kian dalam hati.


Kian berdehem kecil lalu dia pun mulai membuka suara.


"Samir apa kamu baik-baik saja?" tanya Kian lirih. 

__ADS_1


"Saya baik Nyonya," jawab Samir tanpa menoleh ke arah Kian sama sekali.


"Samir. Kenapa kamu tidak mau melihatku? Apa kamu marah padaku? Aku tahu aku salah tapi aku bisa jelaskan semuanya kepadamu," ucap Kian.


"Sebentar lagi kita sampai di ruangan suami anda, Nyonya." ucap Samir tidak mau merespon apa yang dikatakan oleh Kian.


Dan benar saja, sesaat kemudian pintu lift pun terbuka. Kian melangkah keluar akan tetapi dia kembali membalikkan badannya saat dirinya sadar jika laki-laki itu tidak ikut keluar.


"Kamu tidak ikut?" tanya Kian lagi.


"Tidak Nyonya. Anda akan bertemu dengan suami anda, bukan? Lalu untuk apa saya ada disana?"


"Tapi…"


"Lagipula saya masih banyak pekerjaan. Saya permisi, Nyonya," ucap Samir lalu dengan segera dia menekan tombol untuk menutup pintu lift itu.


Kian masih terdiam mematung menatap pintu lift yang sudah tertutup rapat. Dia sadar jika sahabatnya itu pasti sangat kaget dan juga kecewa setelah mendengar jika dirinya sedang hamil. Tapi bagaimana dia akan menjelaskan semuanya jika sikap Samir kepadanya seperti ini.


Kian kembali melangkah pelan menuju ruangan sang suami. Sedikit mengetuk pintu sampai terdengar suara perintah untuk masuk dari dalam, lalu dia pun membuka pintu ruangan tersebut.


"Mas," ucap Kian. Rama yang saat itu sedang mengetik, langsung menoleh ke arah pintu. Dia sangat terkejut saat mengetahui sang istri datang kesana. 


Rama langsung berdiri dan berjalan cepat ke arah Kian.


"Sayang kamu datang kesini? Ada apa?"


****


****

__ADS_1


****


__ADS_2