MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR

MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR
BAB 45. KAKEK PULANG


__ADS_3

Kian masih menangis di tepi ranjang. Dia berbaring dengan membelakangi Rama yang juga masih tertidur lelap. Selimut tebal berwarna putih masih menyelimuti tubuh mereka berdua yang polos. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 3 subuh dan aktivitas suami istri mereka baru saja selesai. Rama benar-benar melahap habis Kian sampai tak bersisa. Dia terus menggempur pertahanan wanita itu sampai efek dari obat di dalam tubuhnya hilang. Entah berapa kali mereka melakukan hal itu. 


Rasa sakit dan perih Kian rasakan di sekujur tubuhnya terutama di area pusat tubuhnya. Seluruh badannya dipenuhi warna merah bekas tanda yang diciptakan oleh Rama. Namun dari semua itu, Kian paling merasakan rasa sakit di hatinya. Iya, hatinya. Hatinya hancur berkeping-keping sampai rasanya dia tidak sanggup lagi untuk menatap matahari yang akan segera terbit sebentar lagi. Dia malu, dia hancur. Semua kebanggaan miliknya telah hilang, direnggut paksa oleh kakak iparnya sendiri.


Kian tau kalau kejadian ini tidak seratus persen kesalahan Rama. Karena bagaimanapun juga dia tidak tahu kalau wanita yang sudah dia sentuh adalah adik iparnya, bukan istrinya. Dia malah menyalahkan dirinya sendiri yang sejak awal mau melakukan hal ini. Sekarang dia bingung. Apa yang harus dia katakan kepada Lian? Bagaimana dia bisa mengatakan jika dirinya sudah berhubungan badan dengan suami kakaknya itu?


Belum lagi masa depannya yang sudah hancur. Seandainya saja kedepannya Rama akan kembali bersama Lian lalu bagaimana dengan dirinya? Dia sudah kehilangan segalanya. Akankah dia juga akan kehilangan Rama?


Terdengar suara Rama menggeliat pelan. Dengan cepat Kian menghapus air matanya dan berpura-pura tidur. Dan benar saja, Rama terbangun. Dia duduk bersandar di atas ranjang dengan dada yang terbuka karena posisi selimut yang hanya bisa menutup area bawahnya saja.


Rama melihat ke arah samping dimana sang istri sedang tidur membelakanginya. Dia menatap tubuh wanita itu yang masih berbalut selimut hingga ke leher. Perlahan tangan Rama pun terangkat dan menyentuh puncak kepala Kian. Dia membelai rambut hitam yang terurai itu lembut. 


"Maaf Lian," gumam Rama.


Laki-laki itu lalu menarik tangannya dari rambut Kian. Dia menyandarkan kepalanya di atas tempat tidur lalu menatap kosong ke depan. Rama menarik nafas pelan sebelum akhirnya berbicara sendiri. 


"Kemarin sepulang kerja, aku menemui Safira kembali. Aku minta maaf karena aku tidak jujur kepadamu tentang ini. Aku hanya ingin tau siapa Safira sebenarnya dan apa yang membuat kakek sangat membencinya."


Rama terus berbicara seolah dia sedang mengobrol dengan sang istri. Iya, Rama berpikir jika sang istri tertidur dan tidak mendengarkannya. Itu sebabnya dia berbicara seperti ini. Rama tidak tahu jika sebenarnya Kian masih belum tidur dan bisa mendengar semua ucapannya dengan jelas.


"Dan apa kamu tau Lian? Aku mengetahui semuanya. Aku mendengar semua rencana busuk yang sudah diciptakan oleh Safira dengan ayahnya yang ingin menghancurkan Kakek Bimo. Dan dia juga berusaha menjebakku dalam sebuah skandal. Dia mencampurkan sesuatu ke dalam minumanku. Awalnya aku pikir kalau obat itu hanya obat tidur biasa. Tapi semakin lama aku merasakan panas di sekujur tubuhku. Dan aku baru sadar jika itu adalah obat….."

__ADS_1


Rama menghentikan ucapannya. Dia menutup matanya sejenak untuk menarik nafas dalam.


"Karena pengaruh obat itu, aku terpaksa melakukan semua ini kepadamu. Aku tidak punya cara lain lagi. Aku tidak mau melampiaskannya dengan wanita asing, sedangkan aku memiliki wanita yang sudah resmi menjadi istriku. Aku gak bisa bayangkan gimana marahnya kakek kalau aku sampai bermain bersama wanita lain. Jadi sekali lagi aku minta maaf karena aku terpaksa melakukan hal itu semalam. Aku berharap kamu bisa memaafkanku."


Obrolan Rama terhenti. Kian yang mendengar semua pengakuan dari laki-laki itu lagi dan lagi hanya bisa mengeluarkan air matanya. Sekuat tenaga dia menahan agar isak tangisnya tidak terdengar oleh Rama. Karena dia tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya kepada laki-laki itu sekarang. Dia sedang tidak ingin bicara apa-apa sekarang. 


*** 


Tepat pukul lima subuh, Kian bangun. Perlahan dia membalikkan badannya dan melihat ternyata Rama sudah kembali tidur. Wanita itu menghembuskan nafas kasar. Dengan perlahan dia mencoba bangkit walaupun sekujur tubuhnya masih terasa nyeri. Tangannya mencoba meraih pakaiannya yang teronggok di bawah lantai setelah dipaksa lepas oleh Rama dan dilemparkan begitu saja. Kian melihat semua kancing bajunya putus. Tapi dia tetap memakainya karena dia butuh sesuatu untuk menutupi tubuhnya yang hendak pergi ke kamar mandi.


Kian menenggelamkan seluruh tubuhnya di bawah air sabun di dalam bathup. Lagi dan lagi air mata jatuh mengalir dengan deras. Rasa sakit di hatinya terasa semakin menusuk. 


"Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan sekarang?" gumam Kian di sela isak tangisnya.


Tak ada senyum di wajah Kian. Tak ada raut bahagia terukir di wajah wanita itu seperti sebelumnya saat dirinya menatap wajah Rama. Kini setiap kali dia melihat wajah laki-laki itu hanya luka yang dia rasakan. Dan itu sangat perih. Tak ingin berlama-lama di sana, Kian pun langsung keluar kamar tersebut.


Kian berjalan menuruni anak tangga hendak menuju ke dapur saat suara seorang laki-laki tua menginterupsi.


"Jam segini baru bangun? Tumben? Biasanya kamu paling rajin," ucap laki-laki tua itu. Kian menoleh ke arah sumber suara dan sedikit terkejut saat melihat kakek Bimo sedang duduk di sofa.


"Kakek," ucap Kian sambil tersenyum seperti biasa. Wanita itu berjalan mendekati sang kakek, mencium punggung tangannya dan lalu duduk disampingnya.

__ADS_1


"Kapan kakek datang? Kenapa aku tidak tahu?" tanya Kian lagi. Dia berusaha untuk terlihat ceria di hadapan sang kakek.


"Tadi pagi," jawab sang kakek.


"Pagi?" tanya Kian tidak mengerti. Pasalnya dia melihat ke arah jam di dinding yang baru menunjukkan pukul 6 pagi. Sang kakek tertawa.


"Maksud kakek tadi jam 5 pagi. Kakek datang pagi-pagi sengaja ingin sarapan masakan cucu kakek. Hmm, tapi ternyata cucu kakek masih tidur."


Kian tersenyum melihat raut wajah sang kakek yang cemberut seperti anak kecil.


"Iya, semalam aku sangat lelah jadinya bangunnya kesiangan."


"Lelah? Memangnya kamu sudah melakukan apa? Sampai kelelahan seperti itu? Apa Rama menyuruhmu yang tidak-tidak selama kakek pergi?"


"Bukan Kek. Aku.. aku hanya kelelahan saja. Mungkin karena habis berkebun di taman belakang," jawab Kian beralasan.


"Hmm, jangan terlalu capek sayang. Jaga kondisi badanmu. Kalau kamu terus-terusan kecapean, lalu kapan kakek akan menimang buyut?"


****


****

__ADS_1


****


__ADS_2