
Lian masih terus menatap Indra dengan intens. Laki-laki itu sungguh terlihat sangat berbeda dengan Indra yang selama ini dia kenal. Lian sadar jika selama ini dia sangat jarang berkomunikasi dengan Indra. Dari semua teman-temannya Vicky yang dikenalkan kepadanya, Indra adalah laki-laki yang paling misterius. Dia tidak banyak berbicara, tapi peminum yang kuat. Beberapa botol bisa dia habiskan akan tetapi laki-laki itu tidak pernah mabuk sedikitpun.
Dan tentang wanita? Setiap mereka berkumpul, Indra belum pernah sekalipun membawa ataupun bersama seorang wanita. Akan tetapi dia tetap menghargai teman-temannya yang selalu bermain wanita. Sesekali Lian pernah bertanya kepada sang kekasih kenapa Indra seperti itu. Akan tetapi Vicky hanya menjawab iya Indra memang seperti itu dari dulu.
Indra yang sejak tadi terus menatap ke arah depan, seketika menoleh saat dia merasakan wanita yang kini sedang berada di sampingnya itu terus menatapnya dari tadi. Gerakan Indra yang tiba-tiba membuat Lian terlambat untuk bergerak. Akhirnya pandangan mereka pun saling bertemu untuk beberapa saat. Sampai akhirnya Lian memalingkan wajahnya ke arah lain dengan gugup. Sedangkan Indra malah tersenyum melihat tingkah gadis itu.
"Kenapa dari tadi aku perhatikan, kamu terus menatapku seperti itu? Apa ada yang salah dengan wajahku?" tanya Indra sambil tersenyum. Lian menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Tidak ada apa-apa?" jawab Lian lirih.
"Lalu?"
"Aku.. aku hanya… hanya…" Lian terbata.
Indra dengan sengaja mendekatkan wajahnya ke arah Lian dan itu sedikit membuat wanita itu menjadi gugup.
"Kenapa?" tanya Indra setelah wajah mereka cukup dekat.
"Hanya ingin bertanya," ucap Lian pada akhirnya. Dan itu berhasil membuat Indra mundur dan duduk di tempatnya seperti semula.
"Oh iya? Memangnya apa yang mau kamu tanyakan?" ucap Indra santai. Dia mulai meminum es teh manisnya lagi.
"Kamu dari mana? Apa kamu bekerja?" tanya Lian pada akhirnya. Indra kembali menatapnya. Sebuah tatapan yang nyatanya terasa menembus sampai ke jantung. Membuat Lian kembali gugup.
"Hmm, maaf kalau aku salah bertanya." Ucap Lian lagi. Indra tersenyum lalu mengalihkan pandangannya lagi ke arah jalan di depannya.
"Aku bukanlah anak seorang pengusaha Lian. Aku hanya seorang penulis," jawab Indra.
"Penulis?" Lian tidak mengerti.
"Iya penulis. Terkadang aku menulis artikel untuk website, menulis berita untuk surat kabar, dan terkadang aku juga menulis cerita di platform online," jawab Indra. Sekarang Lian yang tertawa.
"Hey kenapa tertawa seperti itu? Apa kamu tidak percaya?"
"Tidak. Bukan seperti itu. Aku hanya tidak habis pikir saja. Aku kira para penulis cerita di platform online itu hanya wanita. Ternyata penulis pria juga ada ya," tanya Lian di sela tawanya.
__ADS_1
"Ada. Hanya saja sebagian besar penulis cerita pria itu lebih suka kepada cerita perang, system, bahkan horror. Berbeda dengan penulis wanita yang sangat menyukai adegan sedih."
"Memangnya jadi penulis itu bisa dapat uang banyak?"
"Hmm, tidak semua."
"Kamu sendiri?"
"Penghasilanku?" tanya Indra. Lian mengangguk.
"Iya lumayanlah. Setidaknya ada yang masih bisa aku sisihkan untuk membantu orang-orang yang tidak mampu."
"Membantu?"
"Iya. Setiap Jumat, biasanya aku selalu datang ke panti asuhan untuk berbagi sebagian rezeki yang sudah aku dapatkan."
"Kenapa harus Jumat?"
"Iya gak kenapa-kenapa sih. Mungkin karena Jumat adalah hari lahirku," jawab Indra seenaknya. Lian tersenyum. Kini dia mulai merasa nyaman bisa berbicara dan semakin dekat dengan Indra.
"Indra apa kamu tidak malu?" Tanya Lian lirih.
"Malu? Malu kenapa?"
"Karena hanya menjadi seorang penulis?"
"Kenapa harus malu? Pekerjaanku baik, tidak menyusahkan orang lain, bukan juga mencuri atau merampok. Dan yang pastinya aku mendapatkan semua uang itu dari hasil jerih payahku sendiri. Bukan meminta pada orang lain, orang tua, atau juga pacar sendiri," ucap Indra sambil tersenyum.
Perkataan Indra barusan berhasil membuat Lian terperangah dan sedikit terpesona. Akan tetapi kesadarannya kemudian kembali dan akhirnya dia ingat kepada sang kekasih Vicky yang selalu meminta uang kepadanya padahal dia sendiri masih meminta uang kepada orang tuanya. Memikirkan Vicky membuat Lian jadi termenung.
"Ada apa Lian?" tanya Indra. Lian langsung melonjak kaget. Dia berdiri lalu menyimpan gelas es teh yang masih tersisa setengahnya.
"Maaf Indra tapi aku harus segera kembali," ucap Lian. Gadis itu hampir saja mengeluarkan uang akan tetapi Indra menahannya. Laki-laki itu pun berkata jika minumannya kali ini akan dibayar olehnya. Setelah mengucapkan terima kasih, Lian pun segera pergi dari sana. Dia berjalan ke arah motornya yang terparkir di mini market lalu dengan cepat melajukan kendaraan tersebut.
Indra menatap kepergian Lian masih dengan senyuman.
__ADS_1
***
Rama dan juga Kian duduk di sebuah kedai es krim buah yang ada di ujung kota. Hari ini Kian benar-benar menguji kesabaran Rama. Setelah laki- laki itu memarkirkan mobilnya di kios es buah, ternyata sang istri malah mengatakan hal yang di luar dugaan.
"Aku tidak ingin makan es sop buah. Aku ingin makan es krim saja tapi di kedai es krim yang ada di ujung kota," ucap Kian saat itu. Dan dengan sangat terpaksa, Rama pun mulai melajukan kendaraan mereka kembali.
"Aku tidak mengerti dari mana kamu tahu ada kedai es krim di ujung kota. Padahal aku belum pernah mengajakmu kemari," ucap Rama. Kian tersenyum kikuk.
Gadis itu pun bercerita jika dirinya dan juga saudara kembarnya selalu diajak untuk berjalan-jalan ke kedai es krim ini. Itu sebabnya dia tahu tempat ini. Walaupun dia sedikit ragu juga apa kedai ini masih ada atau tidak.
"Mas coba ini deh. Ini es krim tiramisu yang sangat enak yang pernah aku makan." Kian mengarahkan sendok es krim itu ke mulut Rama. Mengingat jika sang istri sedang mengidam akhirnya dia pun menuruti semua perkataan sang istri.
"Gimana? Enak bukan?" Tanya Kian. Rama mengangguk sambil menutup mulutnya dengan tangan.
"Kamu kenapa?" tanya Lian lirih.
"Aku tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa selalu begini jika sudah makan atau minum yang dingin."
"Apa kamu alergi terhadap dingin?"
"Iya sedikit,"
"Syukurlah kalau sudah terbiasa karena masalahnya aku sangat menyukai es tiramisu ini." ucap Kian. Laki-laki itu hanya tersenyum.
"Iya sayang. Apapun yang kamu mau, aku pasti akan menurutinya."
"Hmm gombal. Tumben suamiku ini bisa ngegombal juga."
"Bukan gombal tapi bukti rasa cintaku dan rasa sayangku kepada orang yang sudah menjadi istriku. Aku sangat mencintaimu sayang," ucap Rama.
"Aku juga. Aku juga sangat sangat sangat mencintaimu, Mas." jawab Kian. Lalu dia kembali kepada beberapa mangkok es krim berbagai rasa yang sudah berjajar dengan rapi di atas meja di depannya.
****
****
__ADS_1
****