
"Tiga hari lagi adalah ulang tahun kakek. Aku tahu kalau kita pasti akan mengundang ibu dan juga Kakek Dul. Apa menurutmu kita juga harus mengundang Kian?" tanya Rama. Dia ingin tahu bagaimana reaksi sang istri jika mereka membahas adik kembarnya itu.
"Mengundang?" tanya Kian lirih.
"Iya. Tapi itu juga kalau kamu mau. Bukankah kamu pernah bilang jika kalian adalah saudara kembar yang tidak bisa dipisahkan? Jadi aku pikir apa kita juga akan mengundang Kian ke acara ulang tahun kakek nanti?"
Kian tampak sedikit merenung. Otaknya berpikir apa baik jika mengundang Lian di acara ulang tahun kakek Bimo? Tapi sejujurnya dia memang ingin melihat saudara kembarnya itu. Apalagi setelah ancaman Vicky tadi siang. Setidaknya dia jadi bisa tau kalau saudara kembarnya itu baik-baik saja atau tidak.
"Hmm baiklah," jawab Kian lirih.
"Jadi mau kita undang saja?" tanya Rama kembali memastikan.
"Iya. Kita undang saja. Lagipula aku gak enak sama Ibu kalau sampai Kian tidak diundang."
"Baiklah kalau begitu. Kita akan mengundang Kian. Hanya saja tolong pastikan kalau dia tidak akan membuat ulah kali ini," ucap Rama. Kian mengangguk.
***
BRAK
Suara pintu rumah dibuka secara paksa membuat Lian yang hampir saja memejamkan matanya harus kembali tersentak dan terbangun dari tempat tidurnya. Jantungnya berdetak sangat cepat karena merasa kaget dengan suara kerasnya pintu yang didobrak tadi.
Lian menyibakkan selimut yang sudah menutupi tubuhnya. Dia turun dari atas tempat tidur dan berjalan ke arah pintu kamar untuk melihat apa yang sebenarnya sudah terjadi. Dia sedikit mengintip dari balik pintu kamar karena bagaimanapun juga dia takut jika seseorang yang masuk ke dalam rumahnya adalah orang jahat atau mungkin pencuri. Tapi kemudian dia kembali berpikir mana mungkin pencuri masuk ke dalam rumah dengan berisik?
Wajah Lian tampak sedikit lega saat kedua matanya melihat jika orang yang masuk itu adalah sang kekasih Vicky. Tapi Lian heran kenapa laki-laki itu masuk dengan cara kasar seperti itu.
"Mungkin dia sedang mabuk," pikir Lian melihat mata sang kekasih yang berwarna merah.
Wanita itu pun akhirnya membuka pintu kamar dengan lebar lalu menyambut kekasih hatinya itu.
__ADS_1
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Lian sembari berjalan mendekati laki-laki itu. Vicky menatap tajam ke arah sang kekasih. Saat jarak mereka sudah dekat, tiba-tiba
PLAK
Satu tangan Vicky menampar keras pipi Lian. Saking kerasnya sampai membuat wanita itu jatuh tersungkur ke lantai dengan darah yang mengalir dari sudut bibirnya.
"Apa-apaan ini? Kenapa kamu menamparku?" teriak Lian. Kedua matanya sudah mulai berkaca-kaca menahan sakit dan perih di pipinya.
"Tanyakan saja pada adik kembar kesayanganmu itu. Ini semua terjadi karena ulah dia yang sok jagoan di depanku," jawab Vicky dengan nada yang tak kalah tinggi.
"Adik kembarku? Maksudmu Kian?" tanya Lian.
"Iya. Kian. Adik kembarmu yang sombong itu."
"Kamu bertemu dengan Kian? Dimana?"
"Di toko perhiasan."
"Kenapa kamu cerewet sekali? Tentu saja aku kesana untuk menjual semua perhiasanmu."
"Apa? Kamu mencoba untuk menjual semua perhiasanku? Tapi kenapa?" Lian bangkit lalu menggoyang-goyangkan lengan Vicky meminta jawaban. Laki-laki itu menghempaskan tubuh Lian dengan keras sehingga wanita itu kembali terdorong ke belakang.
"Aku kan sudah bilang kemarin kalau aku butuh uang untuk melunasi hutangku pada bos Roni. Kalau aku tidak membayar hutang itu maka anak buah bos Roni akan menghabisiku."
"Tapi kenapa harus menjual perhiasan itu? Tanpa seizin dariku? Apa kamu tahu kalau semua itu adalah perhiasan kesayanganku?"
"CUKUP!!! Aku muak mendengar kalimat itu. Bahkan adik kembarmu tadi mengatakan hal yang sama kepadaku. Perhiasan itu adalah perhiasan kesayanganmu. Menyebalkan sekali," gerutu Vicky.
"Apa? Jadi Kian masih ingat jika semua itu adalah perhiasan yang paling aku sayangi. Jadi ternyata dia tidak pernah melupakan hal sekecil apapun dariku?" gumam Lian dalam hati.
__ADS_1
"Apa karena itu kamu marah? Apa karena Kian berkata jika perhiasan itu adalah kesayanganku lalu kamu menamparku? Sekarang dimana perhiasan itu?" tanya Lian lirih.
Vicky berjalan mendekati Lian dengan langkah tegas. Tatapan matanya sangat tajam dan penuh dengan kebencian. Setelah jarak mereka dekat, Vicky mencengkram lengan Lian dengan kuat, membuat wanita itu meringis kesakitan.
"Vicky.. Vicky lepaskan.. ini sakit.." rintih Lian.
"Kamu ingin tahu apa yang membuat aku melakukan semua ini kepadamu? Karena adik kembarmu itu sudah berani menamparku di tempat umum. Dan aku tidak bisa membalasnya karena dia bersama seorang pengawal yang selalu melindunginya."
Satu tangan Vicky yang lain mulai mencekik leher Lian. Mendorong gadis itu hingga punggungnya menempel di dinding.
"Dan aku sudah katakan kepada adik kembar kesayanganmu itu kalau kamu yang akan mendapatkan balasan atas apa yang sudah dia lakukan kepadaku."
Amarah di hati Vicky semakin memuncak. Dia tidak sadar jika cekikannya di leher Lian semakin kuat. Wanita itu sudah mulai kehabisan nafas.
Dalam ketidakberdayaannya, salah satu tangan Lian terus merayap ke arah samping, mencoba mengambil apapun yang bisa dia sentuh. Dan ternyata tangan itu menyentuh sebuah gelas yang ada di atas meja. Dengan keras Lian memukulkan gelas kaca itu ke kepala Vicky hingga pecah dan kepala Vicky pun mengeluarkan darah.
Untuk menghentikan darah yang keluar dari kepalanya, dengan terpaksa Vicky melepaskan cengkraman kedua tangannya di tubuh Lian. Dan kejadian ini dijadikan kesempatan oleh Lian untuk melarikan diri. Walaupun dengan nafas yang masih tersengal dan pandangan yang masih buram, Lian terus mencoba lari keluar dari rumah itu untuk menjauh dari Vicky. Dia bahkan tidak sadar sedang menggunakan pakaian tidur tipis layaknya pakaian tidur pengantin baru.
Rasa dingin mulai terasa sangat menusuk kulit tubuhnya akan tetapi Lian tidak memperdulikan hal itu. Dia terus berlari agar tidak tertangkap oleh Vicky.
Malam sudah semakin larut dan tak ada seorang pun yang dilihat oleh Lian untuk dimintai pertolongan. Sekarang Lian baru menyesal kenapa dia mau saja menerima saran dari Vicky untuk menyewa rumah yang jauh dari rumah penduduk. Seandainya saja rumah sewanya berdekatan dengan rumah orang lain, mungkin suara pecahan gelas kaca di kepala Vicky, serta teriakan-teriakan mereka saat bertengkar tadi, bisa membuat para tetangga datang dan menolongnya.
Lian terus berlari bahkan dia tidak sempat menggunakan alas kaki saat tadi keluar dari rumah. Lian takut jika Vicky akan membunuhnya. Karena merasa kelelahan dan sakit di telapak kakinya, akhirnya Lian pun berhenti berlari. Dia bersembunyi di salah satu gang kecil yang gelap karena tidak ada lampu di sana. Lian pikir dia bisa bersembunyi di sana. Akan tetapi tiba-tiba….
TAP
Sebuah tangan menarik lengan Lian.
****
__ADS_1
****
****