
"Cukup Kian. Aku bilang cukup. Jangan pernah mencoba menjelaskan apapun lagi. Karena sekarang semua kata yang keluar dari dalam mulutmu, aku pasti meragukannya," ucap Rama.
Sakit. Itulah yang dirasakan oleh Kian. Mendengar ucapan keraguan dari laki-laki yang selama ini selalu ada di sisinya, membuat hati Kian hancur.
"Mas," gumam Kian dengan air mata yang terus saja mengalir.
"Mas," ucap Lian. Tangannya hampir saja menyentuh tangan Rama dan berharap laki-laki itu akan memperlakukannya dengan baik setelah mengetahui semuanya.
Akan tetapi semuanya salah. Dengan cepat Rama menarik tangannya sehingga wanita itu hanya menangkap udara saja.
"Dan kamu, aku juga tidak semudah itu bisa percaya kepadamu. Walaupun kamu adalah Lian yang asli, istri sah yang sudah aku nikahi, tapi aku tidak akan semudah itu merubah sikapku kepadamu. Kalian berdua adalah sepasang gadis kembar yang tidak tau diri. Aku kecewa. Terutama kepadamu," ucap Rama sambil menunjuk tubuh Kian.
"Mas.." Kian bergumam lagi.
Karena dirasa sudah semakin marah dan dia tidak mau jika sampai melakukan hal di luar kendalinya, maka Rama pun memutuskan untuk keluar dari ruangan itu, pergi dari rumah sakit itu.
"Mas," Kian berlari mencoba mengejar Rama. Akan tetapi langkah pria itu terlalu cepat. Apalagi saat sedang mengejar sang suami, Kian merasa perutnya sedikit sakit. Sehingga dirinya akhirnya hanya bisa terduduk di lobi rumah sakit. Dia ingin sekali terus berlari mengejar Rama dan menjelaskan semuanya akan tetapi dia juga sadar jika dirinya sedang hamil. Dan bagi Kian, anak di dalam kandungannya jauh lebih penting dari apapun juga.
***
Rama menjalankan kendaraannya dengan sangat cepat. Sesekali dia memukuli kemudi mobil tersebut. Matanya merah menandakan dia sedang dalam kondisi sangat marah. Hatinya terasa sakit, kecewa, saat dirinya mengetahui yang sebenarnya. Rama tidak tahu kecewa mana yang paling besar dia rasakan. Apakah dirinya kecewa karena kedua wanita kembar itu telah menipunya ataukah dia kecewa karena wanita yang sangat dia cintai yang selalu berada di sampingnya saat ini ternyata bukanlah istrinya.
__ADS_1
"Kian.. Lian.. Kalian benar-benar keterlaluan." gumam Rama.
Sebenarnya tadi Rama memang sudah berpamitan kepada wanita kembar itu. Dia berencana akan kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya yang sempat dia tunda tadi. Hanya saja saat dirinya sudah sampai di lobi rumah sakit, dia teringat jika dirinya belum mencium sang buah hati. Mungkin memang hal yang sepele tapi kegiatan itu sudah menjadi sebuah rutinitas bagi Rama sebelum dirinya pergi kemanapun, mencium kening sang istri dan mencium perut Kian.
Rama berjalan balik sambil tersenyum dan sesekali menepuk dahinya sendiri pelan merasa sangat lucu dengan apa yang dia lakukan. Akan tetapi saat dirinya sampai di ambang pintu ruangan dimana Lian dirawat, langkahnya terhenti. Suara perdebatan di dalam ruangan tersebut berhasil mencuri perhatian laki-laki itu. Dia sedikit membuka pintu agar dia bisa melihat kedua wanita kembar itu. Rama mencoba bersembunyi di sana sambil mengintip apa yang terjadi di dalam ruangan tersebut. Sayangnya Lian bisa melihat kehadirannya di sana dan pada akhirnya wanita itu pun kembali membuat sebuah rencana.
Rama terus menjalankan kendaraannya tak tentu arah. Kantor yang awalnya menjadi tujuannya untuk pergi nyatanya malah tak ingin dia datangi setidaknya untuk saat ini. Rama ingin pergi ke tempat dimana dirinya bisa menenangkan diri. Awalnya dia ingin pergi ke salah satu cafe dan minum minuman beralkohol disana. Akan tetapi dia ingat janjinya kepada dirinya sendiri saat Kian dinyatakan hamil. Iya, saat itu Rama pun berjanji kepada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan mabuk-mabukan lagi.
Setelah melewati beberapa jam perjalanan akhirnya mobil yang dikendarai oleh Rama pun tiba di sebuah kedai di sekitar pegunungan. Dia turun dan memesan secangkir kopi hitam. Suasana kedai yang berada di outdoor itu menambah kesan indah bagi siapa saja yang datang kesana. Kita bisa melihat pemandangan pegunungan yang sangat apik dan kita juga bisa menghirup udara segar khas pegunungan yang masih terasa sejuk tanpa ada polusi udara sama sekali.
***
Dengan marah Kian setengah berlari kembali ke kamar dimana Lian sedang dirawat. Gadis itu membuka pintu ruangan dengan kasar akan tetapi sang penghuni kamar tidak tampak kaget sama sekali. Lian dengan tenang berbaring di atas tempat tidur. Kedua tangannya dia lipat di bawah kepalanya dan menjadikannya tumpuan. Sedangkan kedua matanya dengan tenang menonton layar televisi yang menyala di depannya. Tidak ada raut menyesal di wajah wanita itu. Dan hal itu menambah geram Kian.
"Melakukan apa?" ucap Lian berlagak tak memiliki dosa.
"Kenapa kamu mengatakan kebohongan seperti tadi di depan Mas Rama? Kamu sengaja kan mengatakan itu semua karena kamu tau kalau Mas Rama ada di belakang pintu? Kamu mengatakan semua kebohongan itu agar Mas Rama bisa mendengar semuanya, iya kan?" ucap Kian.
"Kalau iya memang kenapa?" Lian menatap tajam sang adik.
Sorot mata sang kakak kembali seperti semula. Sorot mata yang licik, kejam dan juga egois. Sekarang Kian sadar jika sorot mata halus serta tutur kata yang lembut tadi hanyalah topeng. Topeng di depan Rama. Agar laki-laki itu mau bersimpati kepadanya.
__ADS_1
"Lian? Kenapa kamu selalu seperti ini? Kenapa kamu tidak pernah berubah? Kenapa kamu selalu menghancurkan kehidupanku?" lirih Kian.
"Menghancurkan? Aku pikir bukan menghancurkan. Tapi mendapatkan kembali apa yang seharusnya menjadi milikku. Yang selama ini sudah kamu curi."
"Aku tidak pernah mencurinya. Kamu sendiri yang menolaknya. Kamu sendiri yang membuangnya. Kamu sendiri yang memberikannya kepadaku dengan paksaan."
"Tapi buktinya kamu menyukainya bukan? Kamu bahkan bahagia menjalani pernikahan palsu itu. Bahkan lihatlah sekarang! Di dalam perutmu sedang ada janin dari suamiku. Kamu benar-benar wanita murahan. Kamu sudah tahu kalau di antara kalian tidak ada hubungan apa-apa. Tapi kamu dengan ikhlas menyerahkan tubuhmu kepada kakak iparmu sendiri. Cuih!!" ucap Lian dengan memasang tatapan jijik kepada adik kembarnya itu.
"Aku tidak pernah menyerahkan tubuhku pada Mas Rama?"
"Oh iya? Kalau begitu janin yang ada di dalam perutmu itu anak siapa?"
" Ini.. ini anak Mas Rama. Maksud aku…."
"Aku tidak butuh penjelasanmu Kian. Aku tidak butuh. Yang aku butuhkan saat ini adalah Mas Rama. Jadi bagaimanapun caranya akan aku pastikan kalau aku akan mendapatkan Mas Rama kembali. Mas Rama hanya milikku. Dia suamiku. Dan selamanya akan menjadi milikku," ucap Lian.
"Kamu gila Lian. Kamu sudah gila," ucap Kian. Wanita itu pun keluar dari ruangan itu meninggalkan Lian yang tertawa dengan lantang.
****
****
__ADS_1
****