
"Sayang, aku ingin bicara serius denganmu," ucap Rama dengan terus menatap wajah Kian. Wanita itu menghela nafas dalam lalu menutup bukunya dan menyimpannya di atas nakas. Kian menyandarkan tubuhnya dan melipat kedua tangan di depan dadanya. Mata wanita itu menatap intens laki-laki di depannya akan tetapi tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Sayang, sebelumnya Mas minta maaf. Karena.. karena Mas tahu kalau Mas udah ngelakuin kesalahan. Mas, kemarin Mas udah berbohong sama kamu. Mas bilang kalau Mas pergi ke luar kota bersama Samir."
Rama mulai berbicara dan Kian masih terus diam mendengarkan. Wanita itu belum berniat untuk menyela sedikitpun. Rama menelan salivanya agak keras sebelum akhirnya melanjutkan ceritanya. Dadanya sedikit berdebar dengan kencang karena dia akan berbicara masuk ke dalam inti permasalahan dimana sejak dari tadi selalu membuat dirinya bimbang. Akan tetapi kali ini dia sudah mengambil keputusan. Rama hanya berharap jika apa yang akan dia lakukan ini tidak akan membuat dirinya menyesal di masa depan.
"Sebelum Mas mengatakan yang sebenarnya, Mas sangat berharap kamu bisa menyingkapi semua perkataan Mas dengan hati yang tenang. Kamu harus ingat jika kamu sedang hamil. Jadi Mas harap kamu bisa mengontrol dirimu sendiri."
"Sudah cukup basa basinya. Sudah terlalu lama," ucap Kian yang pada akhirnya memotong perkataan laki-laki itu. Dia sudah mulai merasa bosan dengan kata-kata pembuka dari laki-laki itu.
Rama kembali menatap wajah sang istri dalam diam. Dia sedang berusaha menghapus rasa ragu yang masih menyelimuti dadanya.
"Sebenarnya semalam Mas menginap di rumah sakit," ucap Rama lirih. Akan tetapi hal ini berhasil mencuri perhatian Kian. Wanita itu pun kini mulai merespon perkataan laki-laki itu.
"Rumah sakit?" tanya Kian dengan dahi mengerut. Rama menganggukkan kepalanya.
"Iya," jawab laki-laki itu singkat.
"Memangnya siapa yang sedang dirawat di rumah sakit? Bukankah kakek baik-baik saja? Samir juga. Lalu siapa yang sedang dirawat di rumah sakit? Sampai-sampai Mas harus menginap disana? Jangan katakan kalau itu Safira?" ucap Kian.
"Hey, jangan membahas Safira lagi. Bab tentang wanita itu sudah berakhir. Dan aku tidak mau kita membahasnya lagi. Ok?"
"Lalu kalau bukan Safira terus siapa?" tanya Kian lagi. Rama berhenti sebentar untuk menarik nafas dalam.
"Kian!!!" jawab Rama singkat. Kian mengerutkan keningnya bingung.
"Kian?" tanyanya lirih. Sekejap dia masih terbengong dengan kata-kata laki-laki itu. Akan tetapi sekejap kemudian matanya melotot dan raut wajahnya mulai khawatir.
"Apa yang terjadi dengan Kian, Mas? Apa yang terjadi dengannya?"
__ADS_1
Kian panik. Air matanya mulai mengalir. Wanita itu malah menggoyang-goyangkan tubuh suaminya agar laki-laki itu mau menjelaskan apa yang terjadi. Dan sejujurnya pemandangan seperti inilah yang tidak ingin dilihat oleh Rama. Kepanikan, ketidaktenangan juga air mata yang terus membasahi pipi mulus sang istri.
"Sayang tenanglah. Aku sudah katakan padamu bukan agar kamu tetap tenang. Kamu harus ingat ada jabang bayi yang sedang tumbuh di rahimmu."
Bukannya Kian tidak ingat jika dirinya sedang hamil. Dia ingat. Dia bahkan selalu ingat jika kini dirinya sedang berbadan dua. Akan tetapi dia juga ingat ancaman dari Vicky beberapa hari yang lalu. Kian berpikir apakah mungkin laki-laki itu yang sudah menyiksanya sampai saudara kembarnya itu masuk rumah sakit? Tapi bagaimana Lian bisa bertemu dengan Rama?
"Bagaimana kondisi Kian, Mas?" Tanya Kian masih dengan panik.
"Dia baik-baik saja. Hanya perlu istirahat saja di rumah sakit."
"Apa yang terjadi padanya? Apa seseorang telah menganiayanya? Atau berusaha membunuhnya?" tanya Kian. Rama mengerutkan keningnya.
"Dari mana kamu tau jika Kian sedang terancam dianiaya oleh seseorang?" tanya Rama tegas.
Kian langsung terdiam. Kepanikannya telah membuat dirinya kembali membuat kesalahan dengan mengatakan sesuatu hal yang seharusnya tidak dia katakan. Wanita itu menundukan wajahnya. Dan Rama tahu persis jika sang istri sudah melakukan hal itu berarti dia sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Lian, apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku?" ucap Rama tegas.
"Lian, kamu tahu sendiri kalau aku paling tidak suka dibohongi. Jangan sampai aku mencari tahu sendiri apa yang sudah terjadi. Karena kamu tahu persis apa yang akan aku lakukan jika sampai aku mendapatkan info dari orang lain dan bukan darimu," ucap tegas Rama dan setelah sekian lama, akhirnya Kian bisa melihat mata tajam membunuh lagi. Wanita itu menelan salivanya keras.
"Aku.. sebenarnya.. kemarin.. sewaktu aku pergi ke toko perhiasan bersama Samir, aku…."
Kian pun pada akhirnya menceritakan apa yang terjadi di toko perhiasan waktu itu.
"Vicky?" gumam Rama bingung.
"Vicky adalah kekasih Kian," jawab Kian
"Kekasih? Oh mungkin laki-laki itu." Rama mengingat saat dirinya pernah melihat wanita yang mirip dengan istrinya itu sedang bermesraan di sebuah club malam.
__ADS_1
Laki-laki itu pun berpikir mungkin memang Vicky lah yang sudah menyiksa sang adik ipar dan hendak menjualnya. Memikirkan hal itu, rasa emosi di dalam dadanya mulai bergemuruh hebat. Selain sudah menghina sang istri, laki-laki itu juga sudah berani menyakiti adik iparnya. Dan Rama tidak akan pernah bisa tinggal diam.
"Aku akan membuat perhitungan kepada laki-laki bernama Vicky itu. Karena dia sudah berani menghina menantu keluarga Amarta dan juga sudah berani menyakiti adik iparku," ucap Rama penuh dengan amarah.
"Tapi Mas, Vicky bukanlah orang sembarangan. Aku takut kalau dia melakukan sesuatu yang buruk kepadamu," ucap Kian lagi.
"Memangnya sebahaya apa dia sampai-sampai bisa membuat CEO Amarta's Group takut? Justru seharusnya dialah yang berpikir dua kali ketika akan berurusan dengan keluarga kita."
"Tapi Mas…"
"Sudah cukup sayang. Bagianmu sudah selesai. Sekarang biar aku yang mengakhiri semuanya."
Rama menatap tajam pada satu titik. Otaknya berpikir apa yang akan dia lakukan kepada laki-laki bernama Vicky itu untuk memberinya pelajaran yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya. Laki-laki itu pun bergumam dalam hati jika dia akan bekerja sama dengan Samir untuk membuat laki-laki itu jera. Dan Rama yakin jika sang sahabat akan sangat bersemangat jika diberitahu akan membuat perhitungan dengan Vicky.
"Mas," panggil Kian membuyarkan lamunan Rama.
"Iya?" ucap Rama singkat.
"Mas aku ingin pergi ke rumah sakit. Aku ingin menjenguk Kian," ucap Kian lirih.
"Iya ayo. Mas akan antar kamu ke rumah sakit sekarang. Lagipula tadi Kian menghubungi Mas, katanya dia juga ingin bertemu denganmu," jelas Rama.
"Benarkah?"
"Iya. Kian bilang kalau dia ingin meminta maaf kepadamu atas semua yang sudah dia lakukan kepadamu."
Kian termenung. Otaknya berpikir sejak kapan saudara kembarnya itu memiliki niat untuk meminta maaf? Apakah Lian benar-benar sudah berubah? Ataukah ada permainan lainnya yang sedang dia siapkan?
****
__ADS_1
****
****