
Malam itu, Kian, Kakek Bimo dan juga Rama sedang duduk bersama di meja makan. Mereka menyantap sajian makan malam yang sudah disiapkan oleh Kian dengan tenang. Walaupun tidak seceria biasanya, malah terkesan sangat diam, kali ini Rama mau menerima pelayanan yang dilakukan oleh Kian. Wanita itu tentu saja sangat senang. Setidaknya suaminya itu tidak seperti kemarin lagi.
"Nak, besok kakek harus pergi ke luar kota untuk menemui klien sekaligus untuk melihat situasi kantor cabang kita disana. Apa kamu mau ikut?" tanya Kakek Bimo. Dia sengaja bertanya seperti itu agar sang cucu mau berucap. Dia sangat tidak suka melihat Rama diam saja seperti orang bisu.
"Tidak Kek. Ada sesuatu yang harus aku kerjakan besok," jawab Rama tanpa melihat ke arah sang kakek.
"Oh iya? Memangnya ada urusan apa? Bukankah di kantor pusat sedang tidak ada apa-apa?" tanya Kakek Bimo lagi.
"Ini bukan tentang kantor, Kek. Ini tentang hal lain," jawab Rama lagi. Kian menatap sang suami dalam diam. Dia berpikir mungkin Rama akan mengurus Lian besok.
"Hal lain? Hal apa?" tanya sang kakek lagi.
"Tidak terlalu penting Kek."
"Jika tidak terlalu penting, usahakan selesaikan dengan cepat. Jangan tinggalkan Lian sendirian di rumah. Dia sedang hamil. Kakek tidak mau terjadi sesuatu yang buruk pada cucu menantu dan juga buyut kakek."
"Iya Kek."
Makan malam pun kembali berlanjut dalam keheningan. Sampai acara pun selesai dan mereka masuk ke dalam kamar masing-masing.
***
"Mas," panggil Kian. Rama yang saat itu sedang mengganti pakaiannya, menoleh ke arah Kian yang sedang duduk di samping tempat tidur.
"Mas, apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Kian lagi. Rama sedikit menoleh tapi tidak mengeluarkan sepatah katapun.
__ADS_1
Ada rasa ragu di hati Kian akan menanyakan hal ini. Akan tetapi dia juga penasaran dengan ucapan laki-laki itu saat di meja makan tadi.
"Mas, apa urusan yang akan kamu kerjakan besok adalah Lian?" tanya Kian lirih. Kali ini ucapan wanita itu berhasil menarik perhatian Rama.
Laki-laki itu membuang nafas kasar lalu berjalan mendekati Kian. Rama kemudian duduk di samping Kian. Akan tetapi tatapannya masih terus tertuju ke depan.
"Iya," jawab laki-laki itu singkat. Kian terdiam.
Ada rasa sakit di hati wanita itu saat mengetahui jika besok laki-laki itu akan bersama dengan Lian. Kian sadar jika itu adalah hal yang wajar. Dan dari jauh-jauh hari, Kian juga tau jika hal seperti ini pasti akan terjadi. Karena bagaimanapun Lian adalah istri sah dari Rama. Akan tetapi saat hal ini benar-benar terjadi, kenapa Kian malah merasa cemburu dan tidak ikhlas menerima semuanya?
"Lian sudah diizinkan pulang. Dia akan keluar dari rumah sakit besok," lanjut Rama. Masih dengan tanpa menatap wajah Kian. Wanita itu menunduk.
"Jadi besok Lian pulang? Baguslah," ucap Kian sambil tersenyum. Dia senang karena akhirnya saudara kembarnya itu bisa keluar dari rumah sakit.
"Hmm," gumam Rama. Kian mencoba menggenggam tangan laki-laki itu. Awalnya dia takut Rama hempaskan tapi ternyata tidak. Dia malah membiarkan Kian menyentuh tangannya dan menggenggamnya.
"Aku siap pulang ke rumah Ibu jika Mas mau membawa Lian pulang kemari," ucap Kian dengan nafas yang tercekat.
Ucapan Kian kali ini berhasil membuat Rama menoleh ke arah wanita itu.
"Apa maksudmu?" tanya Rama dengan nada kaget. Kian tersenyum. Sebuah senyum yang terlihat jelas sangat dipaksakan.
"Aku sadar siapa aku di rumah ini. Aku tau posisiku di rumah ini. Aku hanyalah sebagai pengganti saja. Jika tokoh utama akan kembali pulang, bukankah tokoh pengganti harus siap untuk pergi?" ucap Kian lagi. Rama menghempaskan genggaman tangan Kian.
"Apa kamu sudah gila, Kian? Aku tidak mungkin mengusirmu dari rumah ini. Apalagi mengembalikanmu kepada ibumu," ucap Rama. Dia berdiri dengan emosi. Kian ikut berdiri. Dia mengusap lengan laki-laki itu lembut, lalu melingkarkan tangannya di perut Rama. Kian memeluk Rama.
__ADS_1
"Bukan mengusir karena ini adalah keinginanku. Dan bukan pula mengembalikanku karena Mas tak pernah membawaku dari Ibu. Diantara kita tidak memiliki ikatan apapun." ucap Kian masih dengan memeluk laki-laki itu.
Mendengar Kian berkata demikian, Rama semakin tidak terima saja. Dia melepaskan pelukan wanita itu dengan kasar lalu mencengkram kedua bahu Kian. Matanya menatap tajam ke arah mata Kian, membuat wanita itu sedikit gemetar.
"Jangan pernah katakan jika diantara kita tidak ada hubungan apa-apa. Kalau tidak? Kamu akan menyesal Kian," ucap Rama penuh penekanan. Kian terdiam. Seperti biasa jika laki-laki itu sudah mengeluarkan tatapan membunuhnya, wanita itu selalu saja tak bisa berkata apa-apa lagi.
Dengan cepat Rama kembali menarik tubuh Kian ke dalam pelukannya. Dan kini laki-laki itu memeluk Kian dengan sangat erat seolah dirinya tidak mau kehilangan wanita itu.
"Mas…" gumam Kian.
"Aku tidak mau kehilanganmu, sayang. Aku tidak mau kita berpisah. Aku tidak mau kita menjauh. Aku ingin hanya kamu yang selalu ada disisiku kemarin, sekarang, dan selamanya," ucap Rama.
Rama mencium puncak kepala Kian lalu dengan cepat laki-laki itu juga menciumi setiap sudut wajah Kian. Dia seolah tidak peduli dengan status diantara mereka. Begitupun dengan wanita itu. Bukannya menolak, dia malah membiarkan Rama melakukan semua yang dia inginkan. Mereka berdua benar-benar sangat menikmati indahnya cinta terlarang sehingga sudah tidak peduli lagi dengan semua yang terjadi di sekitar mereka.
Ciuman laki-laki di seluruh wajah Kian terhenti di bibir wanita itu. Sebuah ciuman biasa kini berubah menjadi sebuah pagutan. Kedua insan ini terus terlena akan cinta yang begitu indah. Kini Kian pun membalas pagutan dari laki-laki itu. Tak berhenti sampai disana, Rama terus menciumi kembali leher Kian. Dan dalam sekejap mata, laki-laki itu menggendong Kian dan membaringkannya dengan pelan di atas tempat tidur.
Rama melanjutkan aksinya, melepaskan semua getaran rindu dan juga nafsu yang serasa meledak di hatinya. Namun walaupun demikian mereka tetap sadar jika diantara mereka ada sebuah janin yang harus mereka jaga. Maka dari itu mereka pun melakukan cumbuan dengan perlahan.
Untuk yang kedua kalinya mereka melakukan hal tersebut. Akan tetapi dalam kondisi yang berbeda. Jika dulu mereka melakukannya karena terpaksa dan Kian pun menolak akan tetapi kali ini semuanya berbeda. Baik Rama maupun Kian, mereka berdua sama-sama melakukannya dengan sukarela dan penuh kesadaran. Mereka tidak peduli dengan status hubungan terlarang yang melekat. Yang mereka pikirkan dan mereka rasakan sekarang hanyalah cinta, cinta, dan cinta. Dan pada akhirnya malam itu pun berakhir dengan adegan panas di antara Kian dan juga Rama.
****
****
****
__ADS_1