
"Apa kamu benar-benar akan menunggu di kantor sampai aku pulang?" tanya Rama pada sang istri. Kian mengangguk.
"Memangnya gak boleh ya? Atau ada peraturan jika keluarga terutama sang istri tidak boleh menunggu di kantor sampai suaminya pulang?" tanya Kian.
"Apa? Peraturan macam apa itu? Tentu saja tidak ada peraturan seperti itu," jawab Rama.
"Apa Mas sibuk? Atau Mas menganggap kalau aku akan mengganggu kerja Mas."
"Tidak sayang."
"Lalu kenapa Mas melarang aku untuk menunggu disini?" rengek Kian. Air matanya sudah mulai merembes keluar. Memang semenjak hamil, rasanya wanita ini tampak lebih manja daripada biasanya.
Melihat sang istri yang menangis, Rama pun langsung memeluk Kian.
"Hey kenapa jadi nangis sih? Yang bilang ngelarang kamu menunggu di kantor itu siapa? Aku hanya takut kalau kamu ngerasa bosan. Ini masih siang loh. Jam pulang masih lama. Bagaimana nanti kalau kamu merasa bosan?"
"Kalau bosan ya pulang aja. Gitu aja kok repot."
Kian memajukan bibirnya cemberut. Melihat tingkah sang istri, Rama pun tertawa terbahak-bahak. Akan tetapi itu hanya sebentar. Karena sekilas setelahnya…
CUP
Sebuah kecupan mendarat mulus di bibir Kian. Wanita itu memegang bibirnya dengan tangannya.
"Mas kenapa cium aku?"
"Habisnya kamu lucu sih. Lagipula memangnya gak boleh ya cium istri sendiri?"
Kian terdiam. Setiap kali laki-laki ini menanyakan hal seperti itu, hati di dalam tubuh Kian selalu saja merasa gelisah. Hati kecil Kian sangat ingin mengakhiri permainan ini. Akan tetapi sifat egois Kian menginginkan semua ini selalu ada, bahkan jika perlu untuk selamanya. Kian sangat mencintai Rama dan dia sangat takut jika harus kehilangan laki-laki itu.
"Ya sudah kalau kamu mau menunggu, kamu tunggu saja disini. Aku akan menyelesaikan dulu pekerjaanku dengan cepat agar kita bisa segera pulang. Sudah lama aku tidak menengok anak kita," ucap Rama sambil mengedipkan matanya. Kian terdiam mematung dengan tubuh yang bergetar. Dia tidak mau melakukan hal itu lagi dengan Rama. Cukup mereka melakukan hubungan suami istri itu satu kali. Dan Kian tidak mau melakukannya lagi sebelum mereka resmi menikah. Iya sepertinya otak Kian harus kembali berpikir untuk mencari alasan yang tepat agar nanti malam dia bisa selamat.
Terus memandang sang suami yang sedang bekerja dengan serius ternyata benar membuat Kian bosan. Sesekali dia berdiri lalu berjalan ke arah jendela untuk melihat pemandangan di luar sana. Sesekali juga dia berjalan-jalan bahkan sampai mengelilingi bangku yang sedang ditempati oleh Rama. Akan tetapi laki-laki itu terus fokus pada pekerjaannya.
"Mas…." panggil Kian sesaat setelah dia duduk kembali di sofa.
"Hmm…" jawab Rama tanpa mengalihkan pandangannya dari arah laptop.
__ADS_1
"Bosan," rengek Kian.
"Tadi aku sudah bilang bukan?"
"Tapi kan tadi Mas bilang mau kerja cepat. Biar kita cepat pulang."
"Maaf sayang. Ini aku sudah berusaha secepat yang aku bisa."
Kian kembali terdiam. Dia menyandarkan tubuhnya di atas sofa lalu ujung jarinya yang lentik menelusuri lembutnya sofa yang sedang dia duduki itu.
"Mas…"
"Apalagi sayang? Kamu mau pulang?"
"Bukan."
"Lalu?"
"Lapar!"
"Tapi kan ini belum waktunya makan siang, sayang," ucap Rama lagi.
"Tapi perutku lapar, Mas. Emang gak bisa ya kalau kita makan sekarang?"
Rama menarik nafas panjang.
"Ya sudah kamu mau makan apa? Mau pesan di kantin dan minta diantar kemari? Atau kamu mau langsung ke kantin di lantai bawah?"
"Aku gak tahu. Aku bingung."
"Ya sudah. Kita pesan dari sini saja ya. Biar nanti pegawai kantin yang mengirimkan makanannya kemari. Kamu mau makan apa?"
"Gak tau," jawab Kian singkat.
"Loh kok gak tahu?" tanya Rama bingung.
"Kan aku belum pernah makan di kantin kantor, Mas. Jadi mana aku tahu di kantin ada menu apa aja," jawab Kian sambil sedikit marah.
__ADS_1
Rama terus berusaha bersikap normal walaupun sebenarnya dia ingin sekali membentak sang istri. Akan tetapi dia tahu jika itu adalah gejala orang hamil. Yang setiap saat bisa berubah emosi. Kadang sedih, kadang marah, kadang senyum dan masih banyak lagi.
"Ya sudah. Aku yang pesan ya. Nanti kamu yang makan," ucap Rama pada akhirnya. Kian pun mengangguk.
Rama lalu mengangkat teleponnya untuk menghubungi restoran di bawah. Laki-laki itu memesan banyak sekali makanan di atas menu hanya karena dia sendiri bingung makanan apa yang akan dimakan oleh ibu hamil.
Setelah selesai dengan semua pesanannya, dia pun mulai kembali fokus kepada pekerjaannya di dalam laptop.
"Kamu tunggulah dulu. Mungkin ini agak sedikit lama tapi pasti sampai kok," ucap Rama.
Beberapa menit telah berlalu. Kian sudah tidak sabar ingin makan sesuatu. Terkadang dia berdiri, berjalan bolak-balik di depan sofa, lalu duduk lagi, menghadap ke kiri dan ke kanan. Melihat hal itu Rama hanya bisa tersenyum sambil menahan emosinya. Karena sesungguhnya tingkahnya yang seperti itu benar-benar mengganggu konsentrasinya. Seandainya saja kejadian ini terjadi dulu, mungkin Rama sudah membentaknya. Sayangnya sekarang dia tidak mungkin melakukan hal itu. Selain ada calon anaknya di perut sang istri, dia juga sudah sangat mencintai wanita itu.
Selang beberapa saat kemudian, Samir pun datang dan membawa pesanan yang dikirimkan oleh salah satu pelayan restoran itu. Dengan cepat Kian mengambilnya lalu menyimpannya di atas meja. Sedangkan Samir kembali lagi ke ruangannya.
"Mas, kamu mau makan apa?" tanya Kian dengan tangan yang masih membuka bungkusan itu satu per satu.
"Tidak. Kamu saja yang makan. Aku belum lapar," jawab Rama yang masih fokus pada pekerjaannya. Kian melihat semua makanan yang sudah berjejer rapi di atas meja.
"Tapi ini kebanyakan Mas? Kenapa Mas pesan makanan banyak sekali?"
"Iya mau bagaimana lagi. Aku bingung kamu mau makan apa. Iya sudah aku pesan saja semua."
Kian masih menatap semua makanan itu. Dia bingung, dari semua makanan yang ada di atas meja, tak ada satu pun makanan yang menggugah selera untuk dia sentuh. Tapi jika tidak dia makan, Kian takut sang suami akan marah kepadanya.
"Jangan ditatap terus. Ayo makan!" ucap Rama yang kini menoleh ke arah sang istri.
Dengan perlahan Kian mengambil salah satu makanan itu. Dan dengan rasa ragu satu suapan pun masuk ke dalam mulutnya. Baru saja dia mengunyah makanan tersebut, rasa mual muncul. Di dalam perutnya seolah ada yang mengaduk-aduk.
Dengan cepat Kian berlari menuju ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya disana. Rama yang melihat hal itu kaget. Dia lalu menghentikan pekerjaannya dan berlari menyusul sang istri.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Rama sambil memijat leher belakang Kian.
****
****
****
__ADS_1