MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR

MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR
BAB 46. SADAR


__ADS_3

Rama turun dari kamarnya sudah dalam keadaan bersih dan rapi. Dia berjalan menuju ke ruang makan hendak melakukan sarapan pagi seperti biasanya. Wajah Rama sedikit terkejut saat kedua matanya melihat disana tengah duduk sosok seorang laki-laki tua yang selalu dia hormati. Siapa lagi kalau bukan sang kakek.


"Kakek… kakek sudah pulang," ucap Rama yang langsung setengah berlari menghampiri laki-laki tua itu, mencium punggung tangannya dan lalu memeluknya.


"Iya, kakek baru datang tadi subuh. Saat kalian masih terlelap tidur," sindir sang kakek.


Rama melirik ke arah Kian yang menunduk akan tetapi kedua tangannya aktif memasukkan makanan ke dalam piring sang kakek lalu memberikannya kepada laki-laki tua itu. Wanita itu sama sekali tidak mau menatapnya apalagi bicara kepadanya. Dia malah lebih terlihat menghindar. Dan perubahan sikap Kian disadari oleh Kakek Bimo.


"Apa kalian sedang bertengkar?" tanya Kakek Bimo setengah berbisik kepada Rama saat mereka melihat Kian berjalan menjauh ke arah dapur.


Rama menggelengkan kepalanya lalu menunduk. Sebuah sikap yang bisa dengan mudah dimengerti oleh sang kakek jika kedua cucunya itu sedang ada masalah.


Saat sedang memperhatikan Rama tiba-tiba saja sang kakek tertarik dengan pakaian yang dipakai oleh sang cucu laki-lakinya itu. Keningnya sedikit berkerut.


"Apa kamu tidak bekerja hari ini?" tanya sang kakek sambil memperhatikan sang cucu yang hanya memakai sebuah kaos dan celana panjang santai padahal biasanya jam segitu Rama sudah berpakaian rapi khas orang kantoran.


Pertanyaan yang dilontarkan oleh sang kakek menarik perhatian Kian untuk ikut menoleh ke arah laki-laki itu. Batin Kian juga bertanya-tanya kenapa sang suami tidak memakai baju kerjanya.


"Hari ini badanku rasanya sakit semua Kek. Jadi aku putuskan untuk istirahat di rumah saja," jawab Rama.


"Apa kamu sakit?" tanya sang kakek khawatir. Akan tetapi Rama hanya terdiam. Dia malah memijat keningnya sendiri dengan pelan.


"Sudah pergi ke dokter?" tanya sang kakek lagi. Rama menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Tidak apa-apa Kek. Aku hanya butuh istirahat saja. Mungkin aku sangat kelelahan," jawab Rama kembali.


Setelah menyiapkan semuanya, kakek Bimo, Rama dan juga Kian duduk bersama untuk menikmati sarapan mereka. Dan kali ini mereka menikmati hidangan dengan tenang dan tanpa berisik sama sekali. 


Sebuah keadaan yang sangat tidak biasanya terjadi. Kian masih mencuri pandang ke arah Rama yang sedang sarapan. Wajah laki-laki itu tampak sedikit lebih pucat dari biasanya. Kian berpikir apakah mungkin karena pengaruh obat yang dicampurkan oleh Safira kemarin? 


Sejujurnya muncul rasa khawatir di hati Kian akan kondisi laki-laki itu. Sebenarnya ingin sekali dia menyapanya dan membantu memulihkan kondisinya. Akan tetapi kejadian semalam benar-benar membuat dirinya kini takut untuk berdekatan dengan laki-laki itu.


"Kakek," ucap Rama setelah mereka selesai sarapan.


"Iya," jawab sang kakek. Laki-laki tua itu menoleh ke arah sang cucu yang sedang menatapnya dengan sendu. Kian yang juga masih duduk di meja makan masih mendengarkan apa yang kedua laki-laki itu bicarakan.


"Minta maaf? Untuk apa?" tanya kakek Bimo tidak mengerti.


"Untuk perlakuanku selama ini yang tidak pernah mendengarkanmu agar menjauhi Safira."


Kakek Bimo dan juga Kian menatap ke arah Rama secara bersamaan. Laki-laki itu masih menunduk. Sang kakek menggenggam tangan sang cucu.


"Nak, apa yang terjadi?" tanya Kakek Bimo. Rama masih terdiam. Dia malu untuk mengatakan yang sebenarnya. Akan tetapi dia memang harus mengatakan semuanya bukan?


Rama pun menceritakan semua yang dia alami kemarin sore di apartemen Safira. Awalnya ada rasa marah di hati sang kakek karena lagi dan lagi cucu laki-lakinya itu kembali menuruti wanita itu dengan datang ke apartemennya. Akan tetapi saat dirinya mendengarkan apa alasan Rama datang, akhirnya Kakek Bimo pun mengerti. Dia malah semakin emosi saat mendengar jika Safira telah mencampurkan sebuah obat ke dalam minuman Rama sehingga membuat laki-laki itu tak sadarkan diri.

__ADS_1


Kian berdehem lalu mengangkat gelas di depannya untuk minum. Hal itu membuat perhatian Rama sedikit terbagi kepada gerakan wanita itu. Rama mengerti apa maksud dari sang istri. Dia pun tidak menceritakan semua yang terjadi kepadanya. Adegan dirinya bersama sang istri sengaja tidak dia ceritakan kepada sang kakek.


"Jadi bagaimana sekarang?" tanya Kakek Bimo. Dia ingin tahu keputusan apa yang akan diambil oleh sang cucu.


"Aku janji Kek. Aku janji demi kakek kalau aku tidak akan pernah berhubungan lagi dengan Safira. Justru aku akan membuat perhitungan kepada mereka. Mereka harus membalas atas apa yang sudah mereka lakukan kepada kita," jawab Rama menggebu-gebu.


"Tidak perlu," ucap Kakek Bimo tenang. Namun itu berhasil membuat Rama bingung.


"Kenapa Kek? Biasanya kakek selalu memberikan pelajaran kepada orang-orang yang hendak berbuat jahat kepada kita bukan?" Tanya Rama. Sang kakek hanya tersenyum.


"Memangnya apa yang akan kamu lakukan kepada mereka? Perusahaan mereka memang sudah hancur dan tidak akan bisa berkembang lagi. Apalagi karena kasus penggelapan dana yang dilakukan oleh ayah Safira kepada perusahaan kita, semua perusahaan manapun tidak akan ada yang mau menjalin kerja sama dengannya. Jadi kakek pikir tidak perlu kita repot-repot melakukan sesuatu. Biarkan saja alam yang bekerja," jelas sang kakek. Lalu Kakek Bimo menatap ke arah Kian.


"Bukan begitu, Lian?" tanya kakek Bimo. Kian yang ditanya secara tiba-tiba oleh sang kakek hanya menjawab dengan senyuman kikuk.


Rama memperhatikan interaksi diantara sang kakek dengan istrinya itu. Wanita itu benar-benar sudah membuat sang kakek menjadi lebih tenang dan tidak ambisius lagi. Ada banyak sekali perubahan di dalam keluarganya menjadi lebih baik dan itu semua terjadi setelah wanita itu masuk ke dalam kehidupannya.


Sekarang Rama sudah mulai menyadari bahwa sebenarnya begitu beruntungnya dirinya memiliki sang istri. Dia tidak pernah mengeluh kepadanya walaupun dirinya selalu menyakiti sang istri. Belum lagi sikap sang istri kepada kakek Bimo. Wanita itu selalu tulus merawat dan menyayangi sang kakek. Padahal dia tahu jika masa depan dan juga impian gadis itu telah hancur akibat perjodohan yang dilakukan oleh sang kakek. Akan tetapi wanita itu seolah tak peduli. Dia tetap menyayangi kakek Bimo seperti kakek sendiri.


Ditambah lagi kejadian semalam. Walaupun itu terjadi karena paksaan, bukan dasar suka dengan suka tapi hal itu tetap saja memberikan rasa nikmat pada diri Rama. Untuk pertama kalinya dia menyentuh seorang wanita sangat dalam seperti itu dan Rama sangat menyukainya. Mungkinkan cinta di hati Rama untuk sang istri sudah mulai tumbuh?


****


****

__ADS_1


****


__ADS_2