
Rama mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang diluar batas wajar. Secepat mungkin dia melajukan mobilnya menuju ke arah rumah sakit. Baru saja penjaga rumahnya menelepon dan mengabari jika nyonya Amarta itu ditemukan tak sadarkan diri di lapangan dekat rumah mereka. Kian ditemukan oleh seorang kakek-kakek yang sedang berolahraga pagi. Kakek itu tidak sengaja melintas dan menemukan seorang wanita sedang tergeletak disana. Kakek itu langsung berlari ke rumah Amarta saat mengetahui jika sosok wanita yang pingsan itu adalah cucu menantu dari Kakek Bimo.
Penjaga rumah yang diberitahu langsung berlari menuju lokasi kejadian. Dan setelah dicek ternyata benar itu adalah nyonya nya, penjaga rumah itu pun langsung menelpon ambulance. Dan disinilah dia sekarang. Rumah sakit, menunggu sang majikan datang.
Dengan setengah berlari Rama terus menyusuri lorong menuju ruang IGD dimana sang istri sedang ditangani oleh dokter. Sesampainya di sana dia melihat sang penjaga rumahnya itu sedang berdiri di depan pintu, Rama terus berjalan dengan cepat tapi kali ini dengan tangan yang mengepal kuat. Emosi dan juga amarah tampak jelas di wajah laki-laki itu. Sang penjaga rumah yang melihat kegarangan sang majikan yang baru saja datang langsung menunduk. Ada sedikit ketakutan di hatinya akan tetapi dia juga sadar jika semua ini terjadi memang akibat kesalahannya.
BUGH
Sebuah pukulan dengan sangat keras mendarat mulus di wajah sang penjaga rumah. Laki-laki itu sampai termundur beberapa langkah dengan sudut bibir yang mengeluarkan darah akibat kerasnya pukulan dari sang majikan.
"Bagaimana bisa semua ini terjadi, hah?" bentak Rama. Penjaga rumah itu terdiam sambil menunduk.
"Sudah aku bilang jaga istriku baik-baik. Aku tidak ingin terjadi apa-apa pada Lian juga anak kita. Lalu bagaimana bisa Lian ditemukan tak sadarkan diri di lapangan? Kemana kamu sampai tidak tahu kalau Lian keluar dari rumah?" Rama terus membentak. Emosinya sudah di puncak. Seandainya saja dia tidak sadar jika dirinya sedang berada di rumah sakit, mungkin dia sudah berteriak-teriak dan menghancurkan semua barang yang ada disana.
"Maaf Pak." Hanya itu yang bisa penjaga rumah itu katakan.
Baru saja Rama akan kembali melayangkan pukulannya saat pintu ruang IGD dibuka dari dalam. Seorang dokter umum dan seorang dokter kandungan keluar dari dalam ruangan tersebut. Saat mengetahui bahwa pasien yang sedang ditangani itu sedang hamil, dokter umum itu langsung memanggil dokter kandungan untuk mendampinginya.
"Bagaimana keadaan istri saya, dok?" tanya Rama dengan panik.
Dokter umum memberitahukan pada Rama bahwa dokter kandungan saja yang akan menjelaskan tentang kondisi sang pasien. Lalu dokter kandungan yang bernama dokter Selia itu mengajak Rama untuk masuk ke dalam ruangannya.
"Bagaimana dokter?" tanya Rama lagi saat mereka sudah ada di dalam ruangan dokter Selia. Dokter cantik itu duduk di kursinya lalu menjelaskan semuanya.
__ADS_1
"Usia kandungan pasien sudah menginjak waktu 4 minggu dan perlu anda ketahui bahwa di usia itu, janin masih sangat rawan lepas karena masih sangat rapuh. Apalagi kondisi pasien yang sepertinya kurang istirahat membuat janin di dalam perutnya menjadi semakin lemah."
Rama terdiam mendengarkan penjelasan dokter Selia.
"Benturan yang terjadi pada pasien hampir saja membuat janin di dalam kandungannya berada dalam kondisi berbahaya."
"Benturan?" tanya Rama tidak mengerti.
"Betul, saya melihat ada bekas benturan. Mungkin pasien tergelincir lalu terjatuh? Hal seperti itu biasa terjadi. Oleh karenanya biasanya bagi wanita yang sedang hamil muda sangat diwajibkan untuk selalu berhati-hati dalam melangkah," jelas dokter Selia.
Rama bingung. Sang istri terjatuh? Tergelincir? Tapi itu kan lapangan terbuka. Dan kondisi saat itu tidak selepas hujan jadi tidak ada genangan air ataupun jalanan licin di lapangan itu. Lalu bagaimana bisa istrinya terjatuh atau terbentur sesuatu?
"Lalu bagaimana kondisi istri dan juga anak saya, dok?" tanya Rama kembali.
"Kondisi anak dan juga istri anda saat ini sudah stabil. Tapi saya akan terus melakukan pengontrolan. Selalu bawa istri anda kemari setiap satu bulan sekali agar saya bisa terus memantau perkembangannya," jawab sang dokter. Rama mengangguk.
"Baik dokter. Mulai hari ini, saya yang akan menjaga istri saya secara langsung."
"Tapi hati-hati, jangan sampai dikekang juga. Buatlah istri anda senyaman mungkin dalam menjalani kehamilannya. Jangan biarkan dia terlalu banyak pikiran juga. Karena kondisi ibu yang stress juga akan dirasakan oleh si bayi."
Rama terus mengangguk mendengarkan penjelasan dari dokter Selia. Dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa mulai hari ini dia akan terus menjaga sang istri dan juga bakal calon anak mereka. Dia tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada sang istri maupun janin di dalam kandungan wanita itu.
"Baiklah saya harus segera menangani pasien lain. Oh iya jika anda mau berkonsultasi atau membutuhkan bantuan saya, ini kartu nama saya. Anda bisa menghubungi saya kapan saja," ucap dokter Selia. Tangannya menyerahkan satu lembar kartu nama yang langsung diterima oleh Rama.
__ADS_1
"Terima kasih dokter."
"Sama-sama."
***
Setelah berkonsultasi dengan dokter Selia, Rama melangkahkan kakinya ke arah IGD dimana sang istri sedang terduduk. Dengan cepat dia masuk dan memeluk wanita itu dengan erat.
"Syukurlah kamu baik-baik saja, sayang. Aku sangat mengkhawatirkanmu," ucap Rama tapi sang istri hanya diam saja.
"Bagaimana aku bisa sampai di rumah sakit, Mas?"
Kian gelisah bagaimana bisa dia sampai ke sini? Apa mungkin Lian kembali dan membawanya ke rumah sakit ini? Karena seingat Kian, Lian pergi meninggalkannya saat dirinya masih tersadar walaupun dengan meringis kesakitan.
"Penjaga rumah kita yang membawamu ke rumah sakit. Seorang kakek tua menemukan kamu tergeletak tak sadarkan diri di lapangan. Apa yang kamu lakukan disana?" tanya Rama. Kian terdiam lagi. Bagaimana dia menjelaskan semuanya kepada laki-laki itu. Jika Rama tahu kalau dia datang ke tempat itu bersama dengan Lian, sudah dipastikan laki-laki itu pasti akan sangat marah. Secara Rama sudah mengultimatum sang istri untuk tidak berhubungan lagi dengan Lian. Tapi bagi Kian melakukan hal itu sangat berat. Apalagi Lian adalah saudara kembarnya sendiri. Mereka tidak bisa dipisahkan begitu saja.
"Hey sayang, apa kamu mendengar kata-kataku?" tanya Rama lagi. Kian mengangguk.
"Mas, apa kita bisa pulang sekarang? Aku ingin segera pulang," ucap Kian. Dia sengaja memotong Rama yang sebelumnya hendak mengeluarkan kata-katanya lagi yang sudah bisa ditebak oleh Kian. Rama membatalkan pertanyaannya. Dia ingat perkataan sang dokter, agar istrinya ini tidak boleh terlalu cape.
"Baiklah. Ayo kita pulang!"
****
__ADS_1
****
****