MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR

MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR
BAB 33. BERTENGKAR


__ADS_3

Pagi itu Kakek Bimo sudah duduk di kursi meja makan bersiap untuk sarapan. Sedangkan Kian masih bolak balik menata makanan di atas meja. Kondisi kakek Bimo sudah lebih baik jika dibandingkan dengan tadi malam.


"Kakek makan dulu ya!" ucap Kian sambil menyimpan piring berisi roti bakar telur dan segelas susu. Kakek Bimo mengangguk sambil tersenyum.


"Dimana Rama?" tanya sang kakek.


"Mas Rama tadi masih mandi. Mungkin sebentar lagi juga turun," jawab Kian.


"Aku disini kakek," ucap Rama yang baru saja turun dari tangga dan berjalan ke arah meja makan. Mencium kening sang kakek lalu duduk. Kian dengan sigap menyiapkan sarapan untuk suaminya itu.


"Bagaimana keadaan kakek sekarang?" tanya Rama di sela sarapannya.


"Baik. Sangat baik," jawab Kakek Bimo dengan semangat.


"Jika kakek masih merasa tidak enak badan, aku akan mengantar kakek ke rumah sakit," ucap Rama lagi.


"Tidak perlu. Sekarang kakek tidak perlu dokter. Kakek sudah punya dokter pribadi yang sangat ampuh menyembuhkan segala penyakit kakek."


"Oh iya?"


"Tentu saja. Jika ada Lian disini, kakek tidak perlu dokter manapun. Lian selalu merawat kakek dengan teliti dan penuh kasih sayang. Tak salah kakek menjadikannya cucu menantu," ucap kakek Bimo dan Kian hanya tersenyum. 


Rama menatap sang istri dengan intens. Wanita itu benar-benar sempurna di mata sang kakek. Kian yang menyadari tengah ditatap oleh laki-laki itu, langsung menunduk dengan wajah yang mulai merah merona.


Melihat interaksi di antara kedua cucunya itu membuat kakek Bimo tersenyum. Dia memegang tangan Rama dan itu berhasil menyadarkan sang cucu. Rama mengerjap-ngerjapkan matanya sebentar lalu kembali beralih menatap sang kakek.


"Jangan menatap istrimu terlalu dalam seperti itu. Nanti kamu bakalan jatuh cinta sama dia," ucap kakek Bimo sambil tersenyum.


Suasana menjadi tenang. Semua orang disana berusaha menikmati sarapan pagi mereka masing-masing.


"Oh iya Ram, bukankah minggu depan adalah ulang tahun perusahaan Amarta's Group?" tanya sang kakek setelah menyelesaikan sarapannya. Dia mengelap bibirnya dengan tisu lalu duduk bersantai sejenak.

__ADS_1


"Iya Kek," jawab Rama singkat.


"Apa kamu sudah menyiapkan semuanya?"


"Sudah. Perayaan, tamu undangan dan lain-lain, aku sudah mengaturnya. Semuanya lancar dan sudah siap. Kakek tinggal memeriksa hasil akhirnya saja."


"Bagus. Baiklah nanti siang kakek akan datang ke kantor untuk mengecek ulang semuanya."


"Baik Kek."


Kakek Bimo menoleh ke arah Kian.


"Lian," panggil sang kakek.


"Iya Kek," jawab Kian. Dia menatap wajah sang kakek.


"Ini adalah pertama kalinya kamu mengikuti acara ulang tahun perusahaan. Kakek harap kamu bisa datang. Dan berdandanlah secantik mungkin. Kamu harus ingat kalau kamu adalah istri dari CEO Amarta's Group."


Kian menarik nafas panjang. Dia berpikir bagaimana bisa dia hadir di pesta itu sebagai Lian sedangkan di sana tentu saja akan ada Samir yang sekarang menjabat sebagai asisten pribadi sang suami. Bersusah payah selama ini dia tidak keluar rumah hanya untuk menghindar agar tidak bertemu dengan sahabat masa kecilnya itu akan tetapi sekarang malah ada acara perusahaan. Lalu bagaimana caranya dia menghindari laki-laki itu jika mereka berada dalam satu tempat yang sama?


*** 


"Oh iya? Jadi minggu depan adalah hari ulang tahun perusahaan Amarta's Group?" ucap Safira dengan riang.


Sore itu seperti biasa, setiap kali pulang bekerja, Rama selalu menyempatkan diri untuk mampir ke apartemen sang kekasih. Iya karena dia tidak mau jika sampai sang kakek tau bahwa wanita itu tinggal di apartemen miliknya, akhirnya Rama membeli apartemen baru untuk ditinggali oleh sang kekasih.


"Hmm," jawab Rama sambil sesekali menyeruput kopi panas yang sudah dibuatkan Safira.


Mendengar akan ada sebuah acara di perusahaan sang kekasih membuat gadis itu sangat senang. Dia berpikir mungkin ini saatnya dia menunjukkan diri ke hadapan kakek Bimo. Dia tidak ingin terlalu lama menunggu untuk bisa bersatu dengan Rama.


"Sayang, menurutmu di pesta nanti, aku harus pakai baju warna apa? Atau nanti kamu pakai baju warna apa? Biar aku pakai warna yang seragam denganmu. Jadi nanti di pesta jika kita berdiri berdampingan maka akan tampak sangat serasi," ucap Safira lagi. Rama mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Kamu mau datang ke acara itu?" tanya Rama bingung. Safira malah tersenyum. Wanita itu bangkit dari duduknya dan lalu berpindah posisi ke samping sang kekasih. Memeluk lengan kekar itu dan menyandarkan kepalanya di sana.


"Tentu saja aku pasti datang. Itu kan acara perusahaan calon suamiku. Bagaimana mungkin aku tidak datang? Kamu tau sayang, ini adalah momen yang tepat untuk kamu memberitahukan kepada semua orang jika aku adalah kekasihmu dan kita akan segera menikah," ucap Safira santai dengan senyum di wajah yang tak pernah luntur sedikitpun.


"Apa kamu gila? Aku belum meminta izin kepada Kakek," senggah Rama.


"Sayang justru itu. Jika kamu meminta izin kepada kakek dulu, aku jamin dia tidak akan pernah mengijinkan kita untuk bersatu. Tapi jika kamu langsung mengumumkan hal ini di depan semua orang, apalagi di depan banyak kolega bisnis, aku yakin mau tidak mau kakek Bimo pasti akan merestui hubungan kita. Iya, mungkin dia akan marah untuk beberapa jam atau mungkin beberapa hari tapi dia tidak akan bisa menolak hubungan kita," jelas Safira.


"Tidak!" tegas Rama. Dia berdiri dengan cepat sehingga Safira yang sedang anteng di bahu sang kekasih, agak sedikit tersentak.


"Tidak??" tanya Safira bingung.


"Aku tidak akan melakukan hal itu. Dan aku juga tidak akan mengijinkan kamu untuk datang ke pesta ulang tahun perusahaan Amarta's Group. Aku tidak mau kalau sampai kamu bertemu dengan kakek disana," ucap Rama.


"Tapi kenapa sayang? Apa kamu tidak mau melanjutkan hubungan kita menjadi lebih serius lagi? Ini adalah satu-satunya kesempatan bagi kita untuk merebut restu dari kakek Bimo. Dia pasti akan terpaksa merestui hubungan kita."


"Itu yang tidak aku mau. Terpaksa! Aku ingin kakek merestui hubungan kita dengan ikhlas, bukan dengan terpaksa," ucap Rama dengan nada suara yang mulai meninggi.


"Kalau begitu kamu harus menunggu kakek Bimo mati baru kita bisa bersama."


"SAFIRA!!!" Tangan Rama sudah mulai terangkat ke atas namun dia tahan agar tidak melayang ke arah wajah wanita di depannya.


"Kenapa? Kamu mau tampar aku? Ayo tampar!" teriak Safira sambil mendekatkan pipinya ke arah Rama. Membuat laki-laki itu menghempaskan tangannya ke bawah dengan kasar.


"Apa aku salah karena ingin segera hidup bersama denganmu? Apa aku salah merasa kesal pada kakek Bimo yang tidak pernah merestui hubungan kita? Apa aku salah karena merasa kesal sama kamu yang gak pernah bisa mengambil sikap? Kamu tau, aku pikir jika suatu saat kakek Bimo menyuruhmu menikah, mungkin kamu akan menurutinya dengan sukarela," ucap Safira lagi. Rama terdiam.


****


****


****

__ADS_1


__ADS_2