
Kian terus memperhatikan interaksi Rama kepada temannya itu dari jarak yang agak jauh. Gerak langkahnya saat mengikuti Rama terhenti saat Kian melihat laki-laki itu memeluk sang gadis. Iya, teman yang sedang ditunggu oleh Rama adalah seorang perempuan dan Kian tidak tau siapa dia. Hanya saja jika dilihat dari interaksi diantara Rama dan wanita itu sepertinya mereka sangat dekat. Apalagi Kian juga melihat ada sebuah senyum kebahagiaan di wajah Rama dan itu tidak pernah pupus dari awal dia melihat wanita itu datang.
Sebenarnya siapa dia? Pertanyaan itu terus berputar di dalam pikirannya. Karena merasa bosan menunggu akhirnya dengan langkah yang agak sedikit gusar, Kian pun berjalan melangkah mendekati sang suami dengan temannya itu.
"Mas," panggil Kian sambil menepuk bahu Rama yang masih tampak nyaman di pelukan wanita itu. Kian ingin menyadarkan laki-laki itu jika dirinya kini sudah menikah dan sungguh tak pantas jika Rama memeluk wanita lain. Apalagi ini di depan istrinya sendiri.
Rama menoleh. Kian dapat melihat dengan jelas jika senyum kebahagiaan yang sejak tadi tergambar di wajah laki-laki itu seketika menghilang. Dia melepaskan pelukannya dan langsung berdiri di samping wanita itu sambil memeluk pinggang rampingnya.
"Apa-apaan itu? Kenapa dia memeluk pinggang wanita itu di depanku? Apa dia sengaja ingin memberitahukan sesuatu kepadaku?" pikir Kian.
"Mas, aku….."
Belum sempat Kian menyelesaikan kalimatnya, akan tetapi wanita itu sudah berbicara memotong. Dan kalimat yang keluar dari mulut wanita itu benar-benar membuat Kian kaget bahkan sampai memelototkan matanya.
"Sayang, dia ini siapa?" ucap wanita itu yang tampak terus bermanja-manja di bahu Rama.
Melihat hal itu, Kian mengepalkan tangannya kuat-kuat. Rasanya dia sangat gatal ingin menjambak rambut wanita itu. Bahkan kalau perlu, Kian ingin sekali mematahkan tangan dan juga menghancurkan wajah wanita itu yang sudah berani menyentuh sang suami.
"Aku…." Lagi- lagi ucapan Kian terpotong. Namun kali ini suara Rama yang menginterupsi.
"Dia adik keponakanku," ucap Rama.
Apa? Adik keponakan? Apa laki-laki ini sudah tidak waras? Kenapa istri sendiri dikenalkan sebagai adik keponakan? Kian benar-benar tidak mengerti dengan apa yang sudah terjadi.
"Oh adik keponakan kamu? Ih cantik banget sih," ucap wanita itu sambil mengusak puncak kepala Kian. Kian dengan segera merapikan rambutnya kembali.
__ADS_1
"Sepertinya kamu saudara jauhnya Rama ya? Soalnya aku baru lihat kamu sekarang. Padahal semua saudara Rama, aku sudah lihat," ucap wanita itu lagi sambil tersenyum.
Wanita itu mengulurkan tangannya dan ingin berkenalan dengan Kian.
"Kenalkan namaku Safira. Aku adalah kekasih kakakmu, Rama. Dan sebentar lagi aku akan menjadi istrinya. Yang berarti sebentar lagi aku akan menjadi kakak iparmu. Senang bisa bertemu dan berkenalan denganmu. Semoga kita bisa akrab ya," ucap wanita itu yang ternyata bernama Safira.
"Apa???" gumam Kian. Bibirnya mendadak kelu dan tubuhnya tiba-tiba saja tak bisa bergerak. Apa dia tidak salah dengar? Wanita ini, wanita di depannya ini adalah kekasih sang suami dan berencana akan menikah dengan laki-laki itu dalam waktu dekat. Apa dia tidak tahu jika Rama sudah menikah dengannya, eh maksudnya menikah dengan kakaknya?
Tak ingin Kian berbicara lebih jauh lagi, Rama langsung mengajak Safira pergi dari sana.
"Ayo!" ajak Rama. Dan dia langsung mengangkat tas besar milik wanita itu kemudian mereka melangkah bersama meninggalkan Kian yang masih terdiam di tempatnya.
Pandangan mata Kian masih tertuju kepada wanita itu. Iya, wanita bernama Safira yang berkata kalau dia adalah calon istri Rama. Tubuhnya yang tinggi, kulitnya yang putih halus, badannya yang langsing, rambut hitamnya yang panjang, lurus dan sangat rapi, benar-benar menjadikan wanita itu sangat sempurna. Jangankan laki-laki, dia saja sebagai wanita merasa kagum kepada wanita itu.
Dengan segera Kian berlari mengejar pasangan sejoli itu. Kondisi bandara yang cukup ramai membuat Kian sempat kehilangan mereka untuk sesaat. Akan tetapi kakinya kembali melangkah saat kedua matanya menemukan Rama dan Safira yang sudah hampir mendekati mobil.
"Mas kenapa kamu meninggalkan aku?" tanya Kian dengan nafas yang masih ngos-ngosan.
"Salah sendiri kenapa sangat lambat," jawab Rama acuh.
Baru saja Kian akan membuka pintu mobil bagian depan akan tetapi suara Rama kembali menginterupsi.
"Kamu duduk di belakang. Biar Safira yang duduk di depan," ucap laki-laki itu tegas.
"Tapi Mas." Kian kembali terdiam saat tangan Rama terangkat ke depannya memberi isyarat agar wanita itu diam, seperti biasa.
__ADS_1
Dengan wajah yang cemberut, Kian berjalan ke arah belakang lalu masuk dengan cepat. Pintu mobil bagian belakang bahkan dia tutup dengan kuat dan kasar. Membuat Rama menoleh kepadanya dan memelototkan matanya ke arah Kian.
"Hmm menyebalkan.." batin Kian.
Rama tampak membukakan pintu mobil untuk Safira. Dan lalu gadis itu masuk dengan tangan Rama yang berada di atas kepalanya. Menjaga wanita itu agar tidak terbentur. Setelah dirasa wanita itu sudah merasa nyaman di mobilnya, Rama pun menaikkan semua barang ke bagasi mobil lalu ikut masuk ke dalam mobil di belakang kemudi.
Mobil itu pun mulai berjalan pelan. Selama di dalam perjalanan Kian terus disuguhan adegan romantis dari sepasang kekasih yang tak halal itu. Dan itu benar-benar membuat dirinya kesal.
"Hmm menyebalkan. Jika pasangan suami istri ini sama-sama sudah memiliki kekasih, kenapa juga harus aku yang terjebak diantara mereka. Sang istri berselingkuh dengan pria lain. Dan sekarang suaminya bermesraan dengan wanita lain. Sedangkan aku? Aaahhh menyebalkan.. Kapan semua sandiwara ini akan berakhir," batin Kian terus bermonolog.
"Sayang, kota ini gak ada yang berubah ya, padahal sudah satu tahun aku pergi untuk melanjutkan pekerjaanku di luar negeri," ucap Safira sambil menggelayut manja di lengan Rama.
Kian mendelik. Dengan kesal dia memajukan tubuhnya lalu sedikit mendorong tubuh wanita itu agar menjauh dari Rama.
"Mbak maaf ya, mas Rama sedang menyetir. Jika posisi Mbak seperti ini, akan sangat berbahaya bagi kita semua disini. Aku masih muda dan belum mau mati," ucap Kian ketus. Safira tersenyum kecut lalu kembali ke posisi duduknya semula. Sedangkan Rama menatap sang istri dari kaca spion dengan kesal.
"Sayang, antar aku ke apartemenmu saja ya, aku boleh kan tinggal disana lagi?" tanya Safira. Rama mengangguk sambil tersenyum.
"Apa? Lagi? Itu artinya selama ini wanita keganjenan ini tinggal di apartemennya Mas Rama? Hmm, ini gak bisa dibiarin. Enak saja mau menginap di apartemen suami orang," pikir Kian.
****
****
****
__ADS_1