MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR

MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR
BAB 43. SIAPA ITU SAFIRA


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul lima sore. Sudah waktunya semua orang pulang ke rumah masing-masing. Akan tetapi Rama masih belum juga beranjak dari tempatnya. Dia masih nyaman tidur di kursi kebesarannya itu. Tubuhnya dia sandarkan dan kedua matanya dia pejamkan.


Tok.. tok… tok…


Beberapa kali suara ketukan di pintu terdengar akan tetapi laki-laki itu mengabaikannya. Hingga akhirnya sosok Samir pun membuka pintu dan lalu masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Apa yang sedang kamu lakukan, Ram?" tanya Samir.


Laki-laki itu membuka matanya dan lalu menegakkan tubuhnya.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanyanya lagi.


"Aku gak apa-apa," jawab Rama. Matanya melihat ke arah jam yang melingkar di tangannya.


"Apa kamu mau pulang?" tanya Samir kembali.


"Iya tentu saja. Ayo."


Rama pun berdiri, memakai jasnya yang tadi sempat dia lepaskan dan lalu keluar begitu saja. Meninggalkan Samir yang menatapnya aneh.


Di dalam mobil, Rama masih terus melamun. Dia melajukan kendaraannya dengan sedikit lambat dan itu pun hanya berputar-putar saja. Sejak tadi dia masih merasa bimbang apakah dirinya harus menemui Safira ataukah langsung pulang sesuai dengan janjinya kepada sang istri.


Saat sedang bimbang, ponsel di saku jasnya berbunyi. Memberikan tanda ada sebuah pesan yang masuk. Rama mencoba menepikan kendaraannya sebentar.


"Sayang, kamu jadi datang ke apartemen kan?" pesan dari Safira.

__ADS_1


Kembali. Rama kembali terdiam. Dia menatap layar ponselnya dengan lekat.


"Apa yang harus aku lakukan?" gumam Rama.


Akhirnya setelah lama menunggu, Rama pun mengambil keputusan juga. Dia membuka kembali ponselnya dan nomor ponsel sang istrilah yang dia tuju.


"Aku pulang sedikit terlambat. Ada urusan yang harus aku selesaikan dulu," ketik Rama yang dia kirimkan kepada Kian.


Tanpa menunggu lama lagi, laki-laki itu langsung melajukan kendaraannya menuju apartemen Safira. Sepanjang jalan pandangannya masih terus saja bolak-balik dengan layar ponselnya. Dia masih menunggu informasi tentang Safira dari orang suruhannya. Akan tetapi walaupun hari sudah semakin sore, tetap saja kabar itu belum juga datang.


Rama sudah sampai di pelataran parkir apartemen. Dia langsung berjalan menuju unit milik Safira yang berada di lantai empat. Sempat berdiri diam untuk beberapa saat di depan pintu, namun akhirnya dirinya menekan bel juga.


"Akhirnya kamu datang juga, sayang," ucap Safira sambil tersenyum. Sebuah senyum yang cukup manis dan menggairahkan awalnya akan tetapi kali ini malah membuat dirinya merasa gelisah.


Gelisah? Iya, karena sejak kejadian marahnya sang kakek di pesta ulang tahun perusahaan kemarin, dia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menemui Safira sebelum dirinya mengetahui siapa Safira sebenarnya. Akan tetapi lihatlah sekarang? Dia malah datang ke apartemen wanita itu.


Safira mengajak Rama duduk di sofa dan dirinya pun duduk di sampingnya dengan menyandarkan tubuhnya di tubuh laki-laki itu.


"Sayang apa kamu masih marah kepadaku karena insiden di pesta ulang tahun perusahaan kemarin?" ucap Safira dengan nada manja seperti biasa. Rama hanya diam tak menjawab.


"Sayang, aku minta maaf. Kemarin aku hanya merasa kesal saja saat tau kalau kamu membohongi aku. Aku pikir kalau cintamu kepadaku hanya main-main saja. Jadi aku marah. Apalagi kakek Bimo juga kelihatan banget kalau dia sangat tidak menyukai aku. Aku merasa sendirian kemarin. Aku minta maaf. Tapi setelah sampai di apartemen, aku berpikir kalau kamu pasti memiliki alasan kenapa merahasiakan semua ini dariku. Dan aku mengerti kalau kamu hanya mengikuti perintah kakek Bimo saja untuk menikah dengan Lian. Tapi cintamu dan juga hatimu hanya milikku seorang, bukan. Akhirnya aku pun mengambil keputusan, bahwa aku tidak peduli dengan statusmu sekarang, aku akan selalu ada di sampingmu." ucap Safira panjang lebar. 


Wajahnya mendongak menatap wajah sang kekasih dan berharap laki-laki itu sedang menatapnya sambil tersenyum. Akan tetapi semuanya salah. Nyatanya Rama masih menatap ke arah depan dan tanpa melirik ke arah wanita itu sedikitpun. Hal itu tentu saja membuat Safira geram.


Wanita itu pun berdiri dan berjalan ke arah dapur dan beberapa saat kemudian dia kembali datang dengan membawa dua buah gelas berisi air jus. Salah satu gelas tersebut, dia berikan kepada Rama dan satunya lagi dia pegang.

__ADS_1


"Ayo minum dulu sayang. Kamu pasti sangat lelah setelah seharian bekerja," ucap Safira.


"Nanti saja," jawab Rama. Dia hampir saja menyimpan gelas jus itu di atas meja namun dengan cepat tangan Rama dihentikan oleh Safira.


"Ini adalah jus spesial yang aku buatkan untukmu sayang. Apa kamu tidak mau minum bersama denganku? Lihat aku juga minum."


Safira meminum jus miliknya dan sedikit memaksa agar Rama pun ikut minum bagiannya. Karena merasa tak enak hati kepada Safira, akhirnya Rama pun minum jus tersebut. Ada sebuah senyum kecil tersungging di bibir Safira saat Rama meminum jus itu hingga tandas.


"Oh iya sayang, ngomong-ngomong kapan kamu akan menceraikan istrimu dan menikah denganku? Aku harap jangan terlalu lama ya. Karena aku sudah tidak sabar ingin menjadi milikmu seutuhnya."


Sambil berjalan ke arah dapur untuk menyimpan dua gelas kosong, Safira tak henti-hentinya bicara. Sedangkan Rama yang duduk di sofa mulai merasakan pusing di kepalanya. 


"Sial. Kenapa tiba-tiba saja kepalaku sangat pusing?" gumam Rama.


Saat laki-laki itu berusaha untuk memijat-mijat kepalanya, sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Dengan setengah sadar, laki-laki itu pun membacanya.


"Pak, Safira Lidya Saksila adalah anak tunggal dari Doni Saksila. Pemilik perusahaan Saksila yang hancur karena pemutusan kerja sama sepihak yang dilakukan oleh Amarta's Group. Waktu itu tuan Bimo memutuskan kerja sama karena Doni Saksila terbukti melakukan penggelapan dana proyek yang mengakibatkan perusahaan Amarta's Group hampir saja rugi jika saja Tuan Bimo tidak bergerak dengan cepat."


"Safira Lidya Saksila berpacaran dengan seorang produser ternama yang membuat kariernya di bidang model melejit. Dan satu tahun ke belakang, dia pun mengadakan tour modelingnya di luar negeri. Akan tetapi dia dipecat karena terbukti selingkuh dengan sesama modeling lainnya. Dan akhirnya dia kembali ke dalam negeri."


Rama sangat terkejut mendengar semua informasi yang didapatkan oleh orang suruhannya tentang Safira. Jadi inilah yang dimaksud oleh sang kakek. Jadi inilah alasan kenapa sang kakek tidak pernah merestui hubungan mereka. Sekarang Rama mengerti. Semuanya sudah jelas. Akan tetapi semuanya sudah terlambat. Saat dirinya hendak berdiri, pusing di kepalanya semakin menjadi. Dan pada saat itulah Safira kembali muncul dengan wajah yang berpura-pura panik.


"Sayang kamu kenapa?"


****

__ADS_1


****


****


__ADS_2