MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR

MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR
BAB 80. BERCANDA


__ADS_3

Kian masuk ke dalam kamarnya masih dengan wajah yang cemberut. Dia duduk di atas tempat tidur lalu membuka tasnya. Hatinya kembali luluh saat melihat seperangkat perhiasan milik Lian yang tadi ditinggalkan oleh Vicky begitu saja, bisa dia selamatkan. Sampai sekarang Kian yakin jika apa yang diucapkan oleh laki-laki itu tentang kondisi keuangan sang kakak, itu adalah bohong. Bagaimana mungkin Lian seperti itu, sedangkan dia baru saja pergi dari rumah kemarin. Dan sang Ibu mengatakan jika Lian baik-baik saja. 


Semakin memikirkan hal itu, Kian merasa jika semua ini ada yang tidak beres. Ada sesuatu hal yang terjadi kepada Lian yang dia tidak tahu. Kian pun sempat berpikir ingin meminta tolong kepada Rama untuk menyelidiki Lian, akan tetapi sepertinya itu adalah hal yang mustahil untuk dilakukan. Jika Rama menyelidiki Lian maka semua permainan ini akan berakhir. Dan Kian tidak tahu apa yang akan dilakukan Rama kepadanya jika dia tahu kalau Kian bukanlah Lian. Kian bukanlah istri yang sejak awal dia ikat dalam sebuah pernikahan. Bayangan Rama akan mengusirnya, membuat Kian sangat takut jika sampai permainan mereka terbongkar.


Sesekali juga Kian berpikir, apa baik jika dirinya meminta tolong kepada Samir? Kian menghela nafas panjang. Di dalam otaknya dia berpikir bagaimana bisa dia meminta tolong kepada laki-laki itu. Samir sudah berubah menjadi asisten pribadinya Rama. Dan laki-laki itu bukan lagi sahabatnya. Memanggil namanya saja sudah berubah menjadi Nyonya, bukan lagi Kian.


"Haaaahhh panggilan macam apa itu?" gumam Kian lalu dia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Tapi apa yang akan terjadi pada Lian?" Kian terus berpikir. Ancaman Vicky benar-benar berhasil membuat dirinya gelisah. Wanita itu terus membayangkan hal-hal negatif yang akan terjadi kepada saudara kembarnya itu. Karena terlalu fokus berpikir dan juga rasa lelah di tubuhnya yang sudah berbelanja, membuat Kian pun akhirnya malah tertidur.


***


Benar seperti yang sudah diucapkan oleh Samir. Beberapa saat setelah Samir dan Kian datang, mobil yang ditumpangi oleh Rama pun tiba. Dia memarkirkan mobilnya terlebih dahulu lalu berjalan masuk ke dalam rumah dengan tenang. Dahinya sedikit berkerut saat melihat orang yang sudah menyambutnya datang adalah Samir dan bukan istrinya.


"Kalian sudah kembali?" tanya Rama.


"Sudah Pak," jawab Samir.


"Hey, jam kantor sudah selesai," ucap Rama sambil tersenyum. Begitupun dengan Samir. 


"Maaf Ram, sudah keenakan," ucap Samir. Rama tertawa.


"Hahaha kamu ini," ucap Rama di sela tawanya.


Kedua laki-laki ini kembali duduk di sofa ruang keluarga. Rama tampak melonggarkan dasinya dan membuka jas kerjanya. Seorang pelayan berjalan mendekati mereka dan menyimpan sebuah minuman hangat untuk sang majikan. Setelah selesai, pelayan itu kembali lagi ke dapur.


"Dimana Lian?" tanya Rama kepada Samir.

__ADS_1


"Tadi sepulang dari toko perhiasan, dia langsung masuk ke kamar. Dan sampai sekarang aku belum melihat dia keluar lagi," jawab Samir lebih santai. Dia meminum teh lemon yang sedari tadi menemaninya menunggu sang atasan datang. Seperti yang sudah dikatakan oleh Rama sebelumnya bahwa mereka sudah tidak berada di jam kerja lagi. Jadi cara bicara mereka pun kini kembali layaknya sahabat biasa.


"Sepertinya istrimu itu kelelahan lalu tidur, hehehe," ucap Samir lalu tersenyum.


"Memangnya kalian dari mana saja? Aku mengijinkan kamu menemani Lian untuk menemaninya membeli perhiasan, bukan untuk jalan-jalan. Apalagi berpacaran," ucap Rama sedikit menyindir.


Samir tertawa mendengar ucapan Rama. Ternyata benar jika sahabatnya itu masih saja memiliki rasa cemburu kepadanya. 


"Cemburu?" tanya Samir sambil menyipitkan matanya.


"Gak! Siapa yang cemburu?" elak Rama. Walaupun sebenarnya di dalam hatinya memang sedang merasakan panas ketika pikirannya berkhayal tentang kedekatan sang istri dengan sahabat masa kecilnya itu.


"Yakin?" canda Samir lagi.


"Yakin lah!" lagi-lagi Rama mengelak.


Ucapan Samir berhenti saat Rama melemparkan sebuah bantal kursi ke wajah sahabatnya itu.


"Hey, kamu ini kenapa?" tanya Samir dengan memasang wajah polos.


"Dasar pembohong," ucap Rama cemberut. Samir tertawa lagi.


"Bagaimana mungkin kamu tahu kalau aku sudah berbohong? Kamu kan tidak ada disana saat semua yang aku katakan itu terjadi."


"Aku percaya penuh kepada istriku." ucap Rama. Mendengar hal itu tawa Samir pun langsung terdiam. Ada rasa nyeri di hatinya saat mendengar Rama berkata seperti itu. Akan tetapi dia terus berusaha mencoba selalu bersikap biasa-biasa saja.


"Lagipula jika saja apa yang kamu katakan itu benar, aku tidak akan melempar bantal kursi ke wajahmu. Tapi akan aku lemparkan gelas berisi minuman panas ini ke wajahmu," ucap Rama lagi tapi kali ini sambil tersenyum.

__ADS_1


Samir kembali tersenyum mendengar ucapan Rama. Iya setidaknya dengan mendengar semua ini akhirnya Samir tahu jika Kian berada di tangan yang tepat. Setidaknya selama rahasianya tidak terbongkar.


Samir menatap Rama dengan intens. Hati kecilnya ingin berbagi cerita tentang yang terjadi di toko perhiasan kecil tadi. Iya, pertemuan mereka bersama Vicky sang kekasih Lian. Akan tetapi di satu sisi, Samir juga ragu. Dia bingung bagaimana dia akan mengatakannya. Samir takut jika perkataannya mengundang amarah sang sahabat dan akhirnya membongkar rahasia kedua gadis kembar itu.


"Hey jangan menatapku seperti itu. Aku masih normal tau," ucap Rama. Samir terdiam sebentar sampai akhirnya dia pun terperangah saat mengerti maksud dari kata-kata sahabatnya itu.


"Sial. Aku juga masih normal. Aku masih suka wanita tau. Sembarangan!" ucap Samir memanyunkan bibirnya. Kini Rama yang tergelak.


Kedua laki-laki ini terus bercanda dan sesekali berbincang santai baik tentang kantor ataupun tentang masa lalu mereka. Sampai pada akhirnya malam pun tiba dan Samir berpamitan untuk pulang.


Setelah kepulangan sang sahabat, Rama mulai melangkah masuk ke dalam kamar. Sejujurnya dia sangat heran mengapa sang istri belum juga terbangun. Akan tetapi saat dia melihat wajah Kian yang sedang terlelap, laki-laki itu pun malah tersenyum.


Rama masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan badannya. Setelah semuanya selesai, laki-laki itu duduk sebentar di sofa dan lalu membuka laptop untuk memeriksa kembali laporan pekerjaan hari ini. Saat Rama sedang fokus dengan pekerjaannya, tiba-tiba terdengar suara gumaman seorang wanita. Dengan segera Rama menoleh kepada sang istri.


"Tidak… Tidak… Jangan sakiti dia… Vicky jangan sakiti dia… jangan…" gumam Kian namun dengan mata yang masih menutup.


Rama dengan segera mendekati sang istri. Dia melihat wajah Kian penuh dengan keringat. Dan kepalanya terus bergerak ke kiri dan ke kanan. Akan tetapi kedua matanya masih tetap menutup.


"Sayang," Rama duduk di samping sang istri. Tangannya hendak mengelus dahi Kian yang dipenuhi dengan keringat. Akan tetapi saat jari tangannya menyentuh kulit wajah Kian, Rama pun langsung terkejut saat merasakan tubuh sang istri yang panas.


"Sayang… Sayang…"


****


****


****

__ADS_1


__ADS_2