
"Tunggu! Siapa wanita itu?" tunjuk Kakek Bimo. Sang operator langsung menghentikan video dan lalu memperbesar gambar tersebut. Kening kakek Bimo kembali berkerut saat dia melihat wajah dari wanita yang dia tunjuk itu sangat mirip dengan wajah cucu menantunya.
"Kian?" gumam kakek Bimo.
"Sedang apa dia disini? Bukankah dia bekerja di luar kota?" pikir laki-laki tua itu.
Kakek Bimo lalu memerintahkan sang operator untuk kembali melanjutkan rekamannya. Adegan demi adegan pun terpampang jelas di mata kakek tua itu. Dan pada akhirnya rekaman itu pun kembali dihentikan saat mereka melihat seorang anak berlari mendekati Kian dan memberikan sebuah minuman kepada wanita itu.
"Anak siapa lagi itu?" gumam Kakek Bimo. Walaupun gambarnya sudah diperbesar akan tetapi laki-laki tua itu tidak mengenal siapa anak yang dimaksud. Dia berpikir mungkin itu adalah anak atau saudara jauh dari salah satu kliennya.
Mata tua sang kakek seketika melotot tajam saat melihat Kian yang langsung tumbang setelah minum air dari gelas yang diberikan oleh sang anak tadi. Atas perintah orang nomor satu di Amarta's Group itu, sang operator kembali memundurkan rekamannya untuk mengetahui dari mana anak itu berasal. Dan hasilnya, kedua orang di ruangan itu pun sama-sama terkejut saat mereka melihat wanita dengan wajah yang sama dengan istri sang CEO yang melakukan hal tersebut.
"Kian? Apa yang sebenarnya dia lakukan? Dan kenapa dia bersembunyi seperti itu? Pasti ada yang tidak beres. Cukup. Aku tidak ingin menunggu lagi. Tadinya aku sangat percaya pada Rama kalau dia sudah memeriksa semuanya. Ternyata aku salah. Baiklah, sekarang akan aku selidiki sendiri masalah ini," pikir sang Kakek
Setelah memeriksa semua rangkaian cctv dan menemukan sebuah fakta yang terjadi, kakek Bimo tidak langsung memberitahu Rama. Dia tahu jika saat ini istrinya lebih membutuhkan kehadiran Rama di sisinya. Oleh karena itu, kakek Bimo memutuskan untuk menyelesaikan masalah ini sendiri.
Tanpa menunggu waktu lama lagi, dia menghubungi orang kepercayaannya dan memerintahkan untuk mulai menyelidiki apa yang terjadi dengan si kembar. Tidak tanggung-tanggung, Kakek Bimo hanya memberi waktu dua hari kepada mereka untuk melaporkan hasil yang real dan juga akurat. Dia sadar selama ini kebahagiaannya karena Rama sudah menikah dan akhirnya dia menyayangi sang cucu menantu, sudah membuat dirinya sedikit lemah dan juga lengah. Sehingga kejadian ini bisa terjadi. Padahal selama ini sang kakek lah yang selalu menjadi pelindung bagi keluarganya. Tapi sekarang?
***
"Ayo makan dulu sayang!" ucap Rama berusaha menyuapi Kian.
Sejak dari pagi buta mereka sudah terbangun. Rama yang baru saja selesai membersihkan diri, melihat sang istri sedang duduk di atas tempat tidur rumah sakit sambil melamun. Kedua matanya kemudian tertarik kepada nampan berisi makanan yang diletakkan oleh suster di atas nakas. Makanan itu masih tertutup rapat dan belum tersentuh sama sekali.
__ADS_1
Dengan lembut, laki-laki itu pun duduk disisi tempat tidur lalu menyuapi sang istri. Melihat tangan Rama yang memegang sebuah sendok berisi bubur, Kian menggelengkan kepalanya.
"Kenapa sayang? Ayo makan dulu. Sejak dari kemarin Mas lihat kamu belum makan apapun sama sekali. Mas gak mau kalau kamu sampai sakit," ucap Rama membujuk.
Kian menatap wajah Rama. Wanita itu bisa melihat juga mata laki-laki itu yang sedikit sayu. Entahlah mungkin karena dia lelah atau menangis, Kian tidak tahu.
"Mas," ucap Kian lirih.
"Iya sayang.".
"Maaf… maaf," ucap Kian dan kini air matanya kembali mengalir.
Rama meletakkan makanan itu ke atas nakas lalu mengusap pipi sang istri yang basah. Dia mencium kening Kian kemudian memeluknya.
"Tapi aku tidak bisa menjaga anak kita," kata Kian di sela isak tangisnya.
"Bukan tidak bisa tapi memang belum waktunya. Kamu tenang saja ya. Semua akan baik-baik saja." balas Rama. Kian menarik tubuhnya pelan dan akhirnya pelukan sang suami pun terlepas. Pandangan mereka pun saling bertemu.
"Apa Mas marah sama aku?" tanya Kian pelan. Rama tersenyum.
"Kenapa Mas harus marah sama kamu? Gak lah. Mas gak marah kok sama kamu."
"Beneran?"
__ADS_1
"Iya sayang. Jadi Mas minta sama kamu tolong jangan pikirin hal ini lagi ya," ucap Rama. Kian mengangguk.
Setelah mereka berbincang sederhana sebentar, akhirnya Kian pun mau makan disuapi oleh sang suami.
"Mas gak pergi kerja?" tanya Kian setelah dia selesai sarapan.
"Gak. Mas kan CEO perusahaan. Jadi Mas bebas mau masuk kerja atau tidak," canda Rama sambil tertawa.
Bukannya ikut tertawa, Kian malah cemberut. Dan itu berhasil membuat Rama menghentikan tawanya.
"Ada apa sayang?" tanya laki-laki itu.
"Kita sudah membahas sebelumnya tentang ini. Aku gak suka kalau Mas mengandalkan jabatan Mas di kantor dengan seenaknya. Nanti kalau perusahaan hancur gara-gara Mas yang gak disiplin, berapa banyak orang yang akan menerima dampak negatifnya? Belum lagi…" ucapan bawel Kian terhenti saat dengan cepat Rama mencium bibirnya.
Sebuah ciuman yang lama kelamaan mulai dinikmati oleh keduanya. Sehingga ciuman itu perlahan mulai memanas menjadi saling memagut. Mengeksplor rongga mulut keduanya dengan lidah pasangannya. Rama dan juga Kian sudah mulai terlena dengan setiap belaian yang diberikan oleh mereka. Namun gerakan panas mereka terhenti saat tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka lalu muncullah seseorang dari sana.
"Mas…."
****
****
****
__ADS_1