
Kian dan Samir baru saja masuk kembali ke dalam aula ruangan dimana pesta ulang tahun perusahaan Amarta's Group digelar. Agar tidak menarik perhatian para tamu undangan di sana, mereka akhirnya berpisah. Akan tetapi kali ini Samir sudah mendapatkan nomor ponsel Kian.
Mata Kian terus menyapu seluruh ruangan untuk mencari pemeran utama dalam acara ini. Akan tetapi setelah berkeliling beberapa kali dia tidak menemukan sang kakek ataupun Rama.
"Kemana mereka?" gumam Kian pelan. Matanya terus mencari sedangkan bibirnya terus tersungging senyum saat dirinya berpapasan dengan para tamu undangan.
Karena merasa lelah mencari akhirnya Kian pun duduk di salah satu bangku yang ada di dekat pintu menuju ke arah taman. Sesekali dia memijat-mijat kakinya yang terasa pegal akibat sepatu hak tinggi yang dia gunakan hari itu.
Saat sedang asyik memijat akhirnya sudut mata Kian menangkap tiga bayangan seseorang yang dia kenal. Gadis itu pun langsung menoleh dan melihat kakek Bimo, Rama, dan tentu saja Safira sedang berdiri saling berhadapan. Kian tidak bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan hanya saja dia bisa melihat dari ekspresi dan juga gerakan tangan mereka jika mereka sedang membicarakan hal yang cukup serius.
"Apa yang sedang mereka bicarakan?" gumam Kian kembali.
Saat wanita itu berdiri dan akan berusaha mencari tau, saat itu juga Safira pergi dari taman itu. Kian dapat melihat dengan jelas wajahnya yang sangat kesal dan juga marah. Kian langsung bersembunyi ketika Safira mendekat ke arahnya. Dan wanita itu kembali muncul dari persembunyiaannya setelah dipastikan Safira sudah pergi dari gedung itu.
"Apa yang sebenarnya sudah terjadi? Apa kakek Bimo sudah tau tentang hubungan rahasia mereka?" Pikir Kian. Lalu tiba-tiba saja dia memukul kepalanya sendiri.
"Hey bodoh, tentu saja dia sudah tau. Mereka kan barusan kumpul bertiga. Jadi otomatis kakek Bimo sudah tau semuanya. Dan jika wajah kecut dari wanita gila itu benar, berarti kakek Bimo tidak merestui hubungan mereka," pikir Kian bermonolog.
Gadis itu tersenyum saat memikirkan jika sang kakek tidak merestui Safira. Dan itu artinya hubungan pernikahannya aman. Kian masih saja belum sadar kenapa dirinya sangat bahagia jika hubungan ini tetap ada. Dia bahkan memiliki niat untuk terus mempertahankan hubungan pernikahan ini apapun yang terjadi. Semakin lama dirinya bermain sandiwara ini, entah kenapa dirinya menjadi semakin betah memainkan perannya. Iya, mungkin karena kebaikan kakek Bimo yang menjadi salah satu faktor gadis itu bisa nyaman. Sedangkan Rama sang suami kakak iparnya, iya Kian tau dia sedikit jutek dan sesekali galak. Tapi entah kenapa juga Kian tidak memperdulikan hal itu. Dia justru semakin penasaran kepada Rama karena dia yakin ada seorang malaikat baik dibalik tubuh seorang Rama.
Setelah menunggu beberapa menit, Kian pun mulai melangkah masuk ke dalam taman. Gadis itu berpikir mungkin pembicaraan mereka sudah selesai. Itu sebabnya Safira pergi, bukan?
__ADS_1
"Kakek!!!" teriak Kian sambil berjalan mendekat.
Kakek Bimo dan juga Rama menoleh ke arah Kian. Wajah garang sang kakek berubah kembali menjadi senyum manis setelah melihat sang cucu menantu datang.
"Pembicaraan kita belum selesai!" tegas Kakek Bimo pelan. Rama mengangguk.
"Sayang…." sambut kakek Bimo.
"Kakek kemana saja. Dari tadi aku mencari kakek. Kaki aku sampai sakit karena terus berkeliling mencari keberadaan Kakek," ucap Kian. Kakek Bimo tersenyum.
"Memangnya kenapa kamu mencari kakek? Apa ada yang mau kamu katakan?"
"Hey memangnya kakek sakit parah apa? Sampai kamu bilang kumat segala," canda sang kakek. Kian tersenyum.
"Dengar tidak akan ada penyakit apapun yang bisa membuat seorang nomor satu di Amarta's Group ini tumbang," ujar kakek Bimo dengan sombongnya. Kian hanya bisa tertawa melihat gerakan sang kakek yang membusungkan dadanya.
Nomor satu di Amarta's Group? Iya, kakek Bimo sengaja berkata demikian untuk menyadarkan Rama. Walaupun dia adalah CEO Amarta's Group akan tetapi masih ada kakek Bimo sang pemilik. Rama sendiri dia mengerti dengan ucapan sang kakek. Laki-laki itu terus menatap sang istri yang begitu akrab dengan kakek Bimo. Wanita itu malah terus mengurus sang kakek dengan baik, memperhatikan kesehatannya, bahkan sangat menyayangi sang kakek dengan tulus. Hanya istrinya saja yang bisa membuat sang kakek tersenyum. Tapi kenapa dia masih belum bisa menerima pernikahan ini dan menerima jika wanita di depannya itu adalah istrinya?
***
"Tidak mengerti? Kamu tidak mengerti? Lalu kamu pikir apa tujuan kakek selalu menolak hubungan kalian tanpa memberikan alasan yang jelas? Itu semua kakek lakukan agar kamu penasaran dan mulai mencari tau sendiri. Sehingga kamu tau apa alasan dibalik penolakanku selama ini. Tapi ternyata kakek salah. Kamu tidak peduli dan malah terus melanjutkan hubungan kalian di belakang kakek. Bahkan setelah kakek menikahkanmu dengan Lian, kamu tetap melakukan hal ini."
__ADS_1
Kata-kata sang kakek tadi siang terus terngiang di dalam pikiran Rama. Hari itu malam telah tiba. Pesta ulang tahun perusahaan yang dibumbui dengan drama seorang Safira telah selesai. Kini hanya lelah yang mendera semua orang. Sejak dari tadi kakek Bimo sudah tidur di kamarnya. Dan sang istri juga sudah terlelap di sampingnya. Akan tetapi Rama? Jam di dinding sudah menunjukkan pukul dua belas malam akan tetapi dia belum juga bisa beristirahat.
"Apa sebenarnya yang kakek sembunyikan dariku? Fakta apa yang sebenarnya kakek tau tentang Safira?"
Rama kembali terdiam. Sesekali dia menatap wajah sang istri yang terbalut selimut hingga ke leher. Sehingga hanya tampak wajahnya saja.
"Cantik," gumam Rama tidak sadar sambil tersenyum.
Laki-laki itu mengerjap-ngerjapkan matanya lalu menggelengkan kepalanya sendiri untuk membuatnya kembali tersadar. Bagaimanapun dia sedang memikirkan rahasia di balik Safira dan Rama bertekad harus mengetahui tentang itu.
Laki-laki itu mengambil ponselnya di atas nakas lalu mencoba menghubungi seseorang. Dia tidak peduli jam berapa saat itu dan dia juga tidak peduli jika apa yang dia lakukan itu mungkin akan mengganggu istirahat seseorang. Yang dia inginkan hanyalah agar semua pertanyaannya bisa segera terselesaikan.
Terdengar beberapa kali nada sambung berbunyi sampai pada akhirnya suara seorang laki-laki dari balik telepon pun menjawab.
"Aku ingin kamu selidiki Safira Lidya. Siapa dia? Dan semua informasi tentang dia dan juga keluarganya. Aku akan memberimu waktu dua hari untuk mengerjakan semuanya. Tapi pastikan bahwa semua data yang kamu temukan itu benar dan akurat. Serta jangan sampai ada yang terlewat walaupun cuma sedikit," tegas Rama.
****
****
****
__ADS_1