
"Tapi nyatanya anda sedang mengandung anaknya Pak Rama. Anak biologisnya."
Kian terdiam. Tidak bisa dipungkiri jika apa yang dikatakan oleh Samir adalah benar. Iya, dia sedang mengandung anak Rama. Tapi bagaimana anak itu bisa ada di dalam perutnya adalah sebuah ketidaksengajaan. Kian tidak pernah menyerahkan dirinya dengan sukarela walaupun kini Rama tampak sangat mencintainya.
Kian sadar jika dirinya juga mencintai suami dari kakaknya itu. Dan mungkin itu juga salah satu yang menjadi penyebab sifat egoisnya untuk selalu berada di samping laki-laki itu muncul. Tapi menyerahkan tubuhnya? Tidak! Tidak pernah terbesit sedikitpun di dalam pikirannya untuk melakukan hal itu. Dia sudah merasa cukup senang dengan hanya berada di sisi Rama.
Itu semua yang ingin dia ucapkan kepada sang sahabat. Akan tetapi kenapa rasanya bibirnya terlalu sulit untuk mengungkapkan itu semua. Rasa sakit di dalam hatinya saat dia melihat Samir yang bersikap acuh kepadanya dan juga kata-katanya yang selalu menyudutkannya membuat Kian kesulitan untuk membela diri.
"Aku… aku…." ucap Kian terbata.
"Sudahlah Nyonya. Tidak perlu menjelaskan apapun kepada saya. Lagipula memangnya siapa saya sampai anda harus menjelaskan tentang kehamilan anda kepada saya?"
Kian semakin tercekik dengan kata-kata Samir. Sahabat satu-satunya yang selalu ada untuknya. Kini bersikap seperti orang asing kepadanya. Padahal bagi Kian, hanya Samir satu-satunya orang yang mengerti dengan semua yang terjadi saat ini. Hanya Samir yang bisa membantunya melewati semua ini. Dan hanya laki-laki itu saja yang bisa Kian ajak bicara, menjadi tempat curhatnya dalam segala hal. Tapi kini Kian merasa sudah kehilangan sosok Samir sang sahabat di dalam hidupnya.
Lagi dan lagi Samir melihat ke arah jam di tangannya.
"Nyonya ini sudah hampir sore. Sebentar lagi Pak Rama pasti akan pulang. Sebaiknya kita segera kembali," ajak Samir. Tanpa ada kata-kata lagi, Kian hanya mengangguk pasrah. Satu titik air mata sudah mulai jatuh akan tetapi dengan segera dia menghapusnya.
Pemandangan itu pun tak luput dari pandangan Samir. Tapi dia bisa apa. Sebenarnya dia juga tidak tega memperlakukan sang sahabat seperti ini. Apalagi selama ini Kian adalah wanita yang selalu berada di dalam hatinya. Bahkan sampai sekarang, sampai detik ini, cintanya kepada wanita itu tidak pernah hilang, bahkan tidak pernah terkikis sedikitpun. Tapi Samir tidak bisa lagi berbuat lebih. Calon jabang bayi yang ada di dalam perut Kian, sudah menjadi benteng yang sangat kuat untuk menghalangi dirinya agar tidak lagi berusaha masuk ke dalam kehidupan wanita itu. Samir harus sadar jika langkahnya untuk mendapatkan Kian sudah terlalu jauh tertinggal sehingga dia tidak bisa mengejarnya lagi.
Mereka berdua pun akhirnya berjalan dalam diam. Kian terus menundukkan pandangannya sedangkan Samir berjalan dengan pandangan yang menyapu depan, kanan, kiri bahkan sesekali melihat ke belakang. Ketika mereka melewati sebuah toko perhiasan kecil, sudut mata Kian menangkap bayangan sosok yang sepertinya dia kenal. Dengan segera dia mengangkat kepalanya untuk bisa melihat sosok itu dengan jelas.
Langkah Kian terhenti saat dia merasa yakin jika sosok itu memanglah sosok yang dia ketahui.
__ADS_1
"Vicky?" gumam Kian pelan.
"Sedang apa dia disana? Kalau Vicky ada di sini itu berarti, Lian juga pasti ada disini."
Kian mengedarkan pandangannya ke arah sekitar untuk mencari sosok yang dia kenal lainnya. Akan tetapi nihil. Sejauh pandangannya menyapu tempat itu, dia tak menemukan Lian dimanapun. Samir yang melihat hal itu, mengerutkan dahinya bingung.
"Ada apa Nyonya?"
Kian tak menjawab. Dia hanya mengangkat satu tangannya lalu bersiap untuk melangkah.
"Anda mau kemana, nyonya?" tanya Samir.
"Tunggulah disini. Aku akan segera kembali," ucap Kian tegas.
Kian menoleh ke arah Samir. Di dalam pikirannya dia bergumam sejak kapan sahabatnya itu menjadi pengawal pribadinya? Bukankah dia bekerja sebagai asisten pribadi Rama? Lalu kenapa sekarang dia malah bersikap seperti seorang bodyguard?
Kian menggelengkan kepalanya pasrah. Dia tidak peduli apakan Samir akan mengikutinya atau tidak. Yang jelas dia ingin tahu apa yang sedang dilakukan oleh Vicky di tempat itu. Perlahan namun pasti, Kian mulai melangkahkan kakinya berjalan ke arah toko perhiasan itu. Samir yang mengikutinya dari belakang masih belum tahu apa yang ingin dilakukan oleh wanita itu.
Saat jarak diantara mereka sudah mulai dekat, Kian dapat mendengar apa yang dikatakan oleh Vicky kepada pelayan toko perhiasan itu.
"Aku ingin menjual semua perhiasan ini," ucap Vicky.
Pandangan Kian menoleh ke arah seperangkat perhiasan yang teronggok di atas meja kaca toko. Matanya membulat seketika saat dirinya sadar itu perhiasan siapa.
__ADS_1
"Apa-apaan ini?" Teriak Kian secara tiba-tiba.
Vicky dan juga pelayan toko itu menoleh ke arah Kian. Sedangkan Samir, dia sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Kian. Tidak biasanya dia berteriak seperti itu, pikir Samir.
Kian berjalan cepat ke arah Vicky dan juga pelayan itu. Tatapannya terlihat sangat menusuk. Entahlah bagaimana dia bisa melakukan hal itu. Entah karena sudah lama hidup bersama dengan Rama atau entah karena bayi Rama yang ada di dalam kandungannya.
"Ini semua adalah perhiasan Lian. Berani sekali kamu menjualnya? Dimana Lian?" ucap Kian. Samir terus memperhatikan laki-laki di depannya. Dia berpikir sepertinya dia pernah melihat sosok itu tapi dimana dan kapan. Otak Samir terus berpikir. Sampai pada akhirnya matanya ikut melotot saat dia ingat bahwa laki-laki yang sekarang sedang berada di depannya ini adalah laki-laki yang mencium pipi Lian di restoran dulu saat dirinya baru saja pulang mengantarkan Rama meeting dengan kliennya. Dan Samir yakin jika laki-laki ini adalah kekasihnya Lian.
Vicky tersenyum sinis saat melihat saudara kembar sang kekasih datang dan langsung memarahinya begitu saja.
"Kian. Sudah lama kita tidak bertemu. Sepertinya menjadi istri pura-pura Rama selama berbulan-bulan sudah membuat kamu berubah menjadi lebih berani rupanya," ucap Vicky. Samir masih memperhatikan dengan seksama apa yang dilakukan laki-laki itu. Tugas dia di sini hanya menjaga Kian saja jadi dia tidak akan ikut campur tentang hubungan Vicky dan juga Lian. Walaupun Lian juga termasuk sahabat dekatnya juga.
"Tidak perlu berbasa-basi. Jawab saja pertanyaanku! Dimana Lian? Bagaimana bisa semua perhiasannya ada di tanganmu? Dan dengan seenaknya kamu akan menjualnya?" tanya Kian lagi.
"Apa aku perlu menjelaskan semua tentang apa yang terjadi kepadaku dan juga kekasihku kepadamu? Apa itu penting? Lian adalah kekasihku. Apa yang menjadi miliknya sudah menjadi milikku. Begitu juga perhiasan ini. Dia sudah memberikannya kepadaku. Dan dia sendiri yang menyuruhku untuk menjual semua perhiasan ini," jawab Vicky santai.
"Bohong. Kamu bohong. Lian tidak mungkin melakukan hal itu. Aku tahu persis jika semua perhiasan ini adalah perhiasan kesayangannya. Semua perhiasan ini adalah pemberian dari ayah kami. Dia tidak mungkin menjualnya."
"Oh iya?"
****
****
__ADS_1
****