MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR

MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR
BAB 95. SIAPA KAMU


__ADS_3

"Kian, aku mohon tolong hentikan semua ini. Mas Rama adalah suamiku, suami sah ku. Aku tidak mau mengikuti rencanamu lagi. Aku lelah terus menuruti semua ide gila mu ini Kian. Sudah cukup aku mengizinkanmu untuk berpura-pura menjadi diriku di depan Mas Rama. Kamu juga yang memaksa aku berhubungan dengan Vicky agar Mas Rama tidak curiga. Tapi aku sudah lelah Kian. Tolong hentikan semuanya. Tolong kembalikan identitasku. Tolong kembalikan suamiku," ucap Lian sambil memelas. Kedua tangannya dia satukan di depan dadanya memohon kepada Kian. Air mata pun mengalir sangat deras di kedua pipi Lian. 


Melihat hal itu, Kian pun mengerutkan keningnya. Dia masih juga belum sadar jika sejak tadi Rama sudah berdiri di belakang mereka, tepatnya di dekat pintu. Sedangkan mata Lian yang seharusnya bisa melihat kehadiran laki-laki itu, nyatanya malah berpura-pura tidak tahu dan berusaha terus menghindari melihat ke arah tersebut.


"Apa maksudmu Lian?" tanya Kian.


Mendengar wanita yang selama ini selalu berada di sampingnya memanggil nama Lian kepada orang lain, membuat Rama seketika mengepalkan tangannya. Satu hal yang baru saja dia ketahui adalah ternyata benar jika wanita yang selalu berada di sampingnya adalah Kian, sedangkan wanita yang duduk di ranjang rumah sakit adalah Lian. 


Lian menutup wajahnya dengan kedua tangannya dengan bahu yang sesekali terlihat naik turun sebagai tanda jika wanita itu sedang menangis.


"Lian…" panggil Kian kembali. Semakin terdengar jelas di telinga Rama.


"Aku hanya ingin identitasku kembali, Kian. Aku hanya ingin suamiku kembali kepadaku," ucap Lian di sela isak tangisnya.


"Tapi itu tidak mungkin, Lian. Aku sudah mengatakannya kepadamu jika itu tidak mungkin," ucap Kian agak sedikit berteriak. 


Sebenarnya memang ada rasa kesal di hati Kian, karena saudara kembarnya itu terus meminta agar mereka bertukar identitas lagi. Padahal Kian sudah memberitahukan jika dirinya sedang hamil dan tidak mungkin berpisah dari Rama. Setidaknya sampai sembilan bulan kedepan. Walaupun di satu sisi, Kian juga berat untuk melepaskan Rama yang begitu sangat dia cintai.


Akan tetapi perkataan Kian baru saja, berhasil membuat penilaian Rama kepada dirinya menjadi negatif. Namun walaupun begitu, dia masih ingin mendengar perbincangan kedua gadis kembar di depannya ini dan belum berencana masuk dan memotong obrolan mereka.


"Kian, apa aku boleh bertanya sesuatu kepadamu?" tanya Lian mengangkat wajahnya untuk menatap sang adik kembarnya. Kian tidak menjawab. Dia hanya terus menatap sang kakak dan sesekali mengusap air matanya sendiri yang masih terus merembes keluar.


"Kian, apa kamu mencintai Mas Rama?" tanya Lian.


Awalnya Kian terus diam. Akan tetapi sesaat kemudian dia pun akhirnya berbicara.


"Iya. Aku sangat mencintai Mas Rama."


"Jadi benar jika sejak awal kamu memang mencintai Mas Rama. Dan kamu sangat kecewa karena ayah lebih memilih aku untuk menikah dengan Mas Rama. Dan saat malam pengantin, akhirnya kamu memaksa aku untuk bertukar identitas denganmu. Dengan alasan akan mengakhiri hidupmu sendiri, kamu memaksa aku untuk menerima semua permainan yang kamu ciptakan. Kamu bahkan menyuruh Vicky untuk terus dekat denganku agar aku tidak mengacaukan rencanamu bisa hidup bersama Mas Rama. Kenapa kamu melakukan semua ini, Kian? Kenapa kamu tega menghancurkan hidupku hanya untuk keegoisanmu?"

__ADS_1


Kian kembali bingung dengan apa yang diracaukan oleh Lian. Wanita itu berpikir, apa saudara kembarnya itu sedang mabuk atau dosis obat yang diberikan oleh dokter terlalu tinggi?


"Aku mohon Kian, aku mohon. Hentikan semua permainanmu ini. Aku lelah. Apa kamu tau jika setiap hari Vicky selalu menyiksaku? Kamu menyerahkan aku kepada Vicky agar jauh dari ayah dan ibu, agar mereka tidak mengetahui pertukaran kita. Aku sangat menderita Kian. Aku sangat menderita. Tolong hentikan semua ini. Aku mohon," Lian semakin menenggelamkan wajahnya di kedua tangannya dan isakan tangisannya semakin keras saja.


"Lian apa yang….." baru saja Kian akan menyanggah semua ucapan saudara kembarnya itu, suara Rama dari arah belakang memotong dengan sangat cepat.


"CUKUP!!!" teriak Rama.


Mendengar suara bentakan itu, Kian melonjak kaget. Dengan cepat dia membalikkan badannya untuk melihat ke arah sumber suara tersebut. Wajah Kian memucat dan wanita itu menelan salivanya sendiri dengan kasar. Sedangkan Lian, bibirnya tersenyum dari balik kedua tangannya.


Dengan cepat dan tegas, Rama berjalan mendekat ke arah mereka berdua.


"Mas Rama," gumam Kian lirih..


Setelah sekian lama, akhirnya pada hari ini Kian bisa melihat kembali tatapan mata kebencian dari Rama. Dan sayangnya tatapan kebencian dan membunuh itu tertuju kepadanya.


"Mas, kenapa kamu kembali? Apa ada yang tertinggal?" ucap Kian dengan suara sedikit bergetar. Dia masih sangat berharap jika laki-laki itu tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Lian tadi. Atau setidaknya walaupun Rama mendengar semuanya, laki-laki itu tidak akan mempercayainya.


"Mas… aku…"


"Siapa kamu?"


Perkataan Kian terpotong oleh ucapan Rama. Wanita itu terdiam. Pikirannya terus saja bertanya bagaimana bisa Rama dengan mudahnya percaya semua perkataan Lian?


"Apa maksudmu, Mas? Kenapa kamu bertanya seperti itu?" ucap Kian lirih.


"Jawab pertanyaanku siapa kamu!!!" Rama berbicara dengan nada tinggi dan juga membentak. Kian sampai mundur satu langkah saking takutnya dengan amarah sang suami.


"Aku… aku…" Kian tergagap.

__ADS_1


"JAWAB!!!" lagi dan lagi Rama membentak Kian. Sedangkan Lian masih bersembunyi di balik telapak tangannya sendiri. Sesekali dia mengintip dan tersenyum melihat adegan pertengkaran sang adik dengan suaminya itu. Dia lebih menyukai adegan pertengkaran seperti ini daripada harus melihat kedua pasangan itu berlaga romantis.


"Aku… aku Kian…" ucap Kian lirih. Mendengar hal itu Rama langsung memukul dinding di sampingnya dengan sangat kuat. Aliran darah merembes keluar dari sela-sela jari laki-laki itu.


"Mas," teriak Kian. Dia hampir saja berlari mendekati sang suami tapi lagi dan lagi Rama mengangkat tangannya untuk menghentikannya.


"Berani sekali kamu membohongiku." ucap Rama penuh penekanan.


"Mas," Kian masih terus berbicara.


"Berani sekali kalian berbohong kepadaku. Berani sekali kalian mempermainkan hidupku," teriak Rama. Matanya sudah memerah karena marah.


"Mas, aku bisa menjelaskan semuanya," ucap Kian.


"Tidak perlu," ucap Rama.


"Tapi Mas apa yang Lian katakan tadi semuanya tidak benar. Semuanya bohong," ucap Kian. Dan kini Lian pun mendongak dan ikut menatap wajah satu-satunya laki-laki di ruangan itu.


"Mas, mas percaya padaku, bukan? Aku istrimu, Mas. Istri sahmu," ucap Lian dengan wajah memelas.


"Mas, kita hidup bersama sudah hampir satu tahun. Apa kamu masih meragukanku? Apa kamu meragukan semua yang aku katakan?" ucap Kian.


"CUKUP!! Kalian berdua diamlah. Setelah kebohongan besar ini, apa kalian pikir aku akan percaya kepada kalian?" bentak Rama.


"Mas…"


"Cukup Kian. Aku bilang cukup. Jangan pernah mencoba menjelaskan apapun lagi. Karena sekarang semua kata yang keluar dari dalam mulutmu, aku pasti meragukannya," ucap Rama. 


****

__ADS_1


****


****


__ADS_2