MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR

MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR
BAB 50. REUNI


__ADS_3

Malam acara reuni pun tiba. Kian masih sedang bersiap-siap di dalam kamar. Memoleskan make up ke atas wajahnya dan menata sedikit rambutnya agar terlihat rapi. Pakaian dress panjang berwarna biru langit dengan hiasan pernak pernik berwarna silver membuat gadis ini terlihat semakin cantik.


"Apa kamu sudah selesai?" tanya Rama yang langsung masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk terlebih dahulu. Kian yang sedang berdiri di depan jendela tersentak kaget. Dengan segera dia memutar tubuhnya menghadap ke arah laki-laki itu.


Rama terdiam. Laki-laki itu merasa kagum dan juga terpesona dengan kecantikan sang istri sampai-sampai dia tak bisa berkata apa-apa lagi. Ditatap intens seperti itu oleh sang suami membuat Kian gugup. Dia menatap tubuhnya sendiri.


"Apa ada yang salah?" tanya Kian lirih. Dia takut jika dia telah melakukan kesalahan yang bisa membuat Rama marah. 


"Apa aku salah kostum ya?" ucap Kian dalam hati sambil terus melihat ke arah dirinya sendiri.


Rama mulai berjalan perlahan mendekati Kian. Jantung Kian semakin berdebar cepat apalagi saat ini wajahnya berada sangat dekat dengan wajah laki-laki itu.


"Kamu terlihat sangat cantik sekali malam ini. Rasanya aku tidak ingin membawamu pergi ke acara itu agar tidak ada siapapun yang bisa melihat kecantikanmu. Karena kecantikanmu hanya milikku seorang," ucap Rama lirih tapi cukup terdengar sangat romantis di telinga Kian.


Jantung Kian tak henti-hentinya berdetak dengan cepat. Apalagi saat laki-laki itu mengucapkan kalimat dimana rasanya dia ingin meleleh saja. 


"Apa aku tidak jadi pergi?" tanya Kian. Rama tersenyum.


"Aku akan tetap mengajakmu ke acara reuni itu. Aku ingin menunjukkan kepada semua orang betapa cantiknya istriku ini. Dan beruntungnya aku bisa mendapatkan dirimu."


Kian tak bisa berkata-kata lagi. Dia bingung harus menjawab apa.


"Ayo…"


Akhirnya hanya itu yang bisa wanita itu ucapkan. Dia hampir saja melangkah pergi saat suara Rama memanggilnya.


"Lian…"


Wanita itu pun berhenti dan berbalik. Rama berjalan cepat ke arah Kian dan lalu secara tiba-tiba sebuah kecupan dari bibir Rama mendarat di bibir Kian. Karena kaget wanita itu pun mundur dan membuat kecupan itu terlepas.


"Mas apa yang kamu lakukan?" tanya Kian dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca. 


"Mencium istriku sendiri. Apa itu salah?" tanya Rama sambil tersenyum. Dia berpikir jika wanita itu menghindar karena malu. Rama tidak tau jika ada alasan lain kenapa wanita di depannya ini menghindar.

__ADS_1


"Aku…." ucap Kian gugup.


"Sudahlah ayo berangkat. Nanti kita terlambat."


Rama dan Kian pun berjalan berdua menuju ke arah mobil setelah berpamitan dengan sang kakek. Kakek Bimo sangat senang melihat perubahan sikap Rama kepada sang istri. Sudah sejak lama dia ingin melihat mereka mesra seperti sekarang ini. Kakek Bimo pun berdoa semoga kebahagiaan mereka abadi dan tidak ada siapapun yang bisa merusaknya.


Selama perjalanan, tak ada sepatah katapun keluar dari bibir keduanya. Rama sengaja mengendarai mobil sendiri dan tidak menggunakan jasa sopir karena dia ingin sekali berduaan dengan sang istri. Ini adalah momen pertama mereka pergi bersama ke sebuah acara resmi. Dan Rama tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.


Sebuah gedung yang berukuran cukup besar menjadi tempat berakhirnya perjalanan mereka. Banyak sekali hiasan lampu kelap-kelip dan juga alunan musik yang membuat malam itu menjadi semakin ramai saja. Apalagi tampak banyak orang berlalu lalang disana.


Rama turun dari mobilnya, berjalan memutar, lalu mempersilahkan sang istri untuk turun. Tak lupa dia menjaga kepala sang istri agar tidak terbentur. Rama lalu meraih tangan Kian dan melingkarkannya di lengannya. Wanita itu sempat melirik sekilas ke arah laki-laki itu namun dia kembali menunduk.


"Hey kenapa menunduk?" Bisik Rama. Kian mendongak dan membuat jarak diantara wajah mereka semakin dekat saja. Dengan cepat wanita itu memalingkan wajahnya ke arah lain. Dan itu membuat Rama tersenyum.


"Dengar, kamu adalah istri dari Rama Amarta. Jadi jangan pernah menunduk di depan orang lain. Tegakkan wajahmu agar mereka tahu jika kamu adalah menantu dari keluarga Amarta's Group."


Rama dan Kian pun mulai melangkah masuk ke dalam gedung. Seorang security meminta mereka menunjukkan kartu undangan sebagai syarat agar mereka bisa masuk. 


"Rama…." ucap seorang laki-laki berjas hitam. Dia berjalan mendekati mereka sambil menggenggam tangan seorang wanita.


"Rizky…" ucap Rama. 


"Wah kamu masih ingat sama aku rupanya," jawab laki-laki itu tersenyum. Mereka pun berpelukan.


"Aku dengar katanya sekarang kamu sudah menjadi CEO Amarta's Group?" tanya sang teman.


"Iya begitulah."


"Waw itu keren sekali. Cita-citamu sejak dulu ternyata bisa terkabul. Kamu memang keren, Ram," puji Rizky.


"Ah kamu bisa saja," jawab Rama tersenyum.


"Oh iya kenalkan ini istriku Laila," ucap Rizky.

__ADS_1


"Kamu datang dengan siapa?" Tanya Rizky lagi.


"Oh iya, aku juga datang bersama istriku, Lian," ucap Rama dengan bangga.


Mereka berempat pun akhirnya saling berjabat tangan dan sesekali mengobrol singkat. Walaupun yang banyak bicara saat itu adalah Rama dan juga Rizky.


Di tempat lain, seorang wanita sedang berdiri menatap Rama. Sebuah minuman tergenggam di tangannya dan dia terus meneguknya sedikit demi sedikit.


"Bukannya itu Rama ya, Del?" tanya laki-laki yang datang bersamanya.


Wanita bernama Adel itu pun mengangguk.


"Kakak pikir sampai sekarang kamu belum menikah karena masih menunggu Rama. Tapi kenapa dia sekarang malah datang bersama wanita lain? Apa kamu tau siapa dia?" Tanya Roni sang kakak.


"Aku memang menunggu dia Kak. Bukankah kakak tau jika sejak dulu aku sangat mencintai Rama," ucap Adel.


"Iya. Rama memang laki-laki yang tampan dan berwibawa. Apalagi dia sekarang menjadi salah satu pengusaha muda yang sukses. Akan sangat beruntung sekali jika kamu bisa menikah dengannya. Tapi jika yang kakak lihat ini benar, sepertinya kali ini kamu sudah terlambat. Rama mu itu datang dengan seorang wanita cantik."


"Kakak jangan memutuskan semangatku begitu saja. Aku tahu kalau dia sudah menikah. Kabar tentang pernikahannya sudah tersebar saat pesta ulang tahun perusahaan Amarta's Group."


"Lalu?"


"Aku rela kok dijadikan istri kedua oleh Rama."


"Kamu sudah gila Adel. Jika kamu mau melakukan hal itu, aku yang tidak akan mengijinkan kamu melakukan hal itu."


Roni memang sedang berbicara dengan sang adik akan tetapi kedua matanya terus menatap ke arah Kian. Laki-laki ini merasa terpesona dengan kecantikan wanita itu. 


****


****


****

__ADS_1


__ADS_2