
"Selamat pagi, Pak!"
Sebuah suara seorang laki-laki terdengar menyapa dengan lantang sesaat sebelum Rama membuka pintu ruangannya. Dia menoleh dan lalu tersenyum saat melihat orang yang sudah menyapanya adalah Samir, sahabat sekaligus asisten pribadinya sekarang.
"Kamu sudah mulai bekerja hari ini?" tanya Rama.
"Sudah Pak!" jawab Samir.
"Baguslah kalau begitu. Aku sudah mengatakan sebelumnya bukan, kalau semua pasti akan berjalan dengan lancar."
"Iya Pak. Lagipula siapa yang berani melawan perintah CEO Amarta's Group. Walaupun sedikit menggerutu juga sih di belakang," ucap Samir sambil tersenyum saat dirinya mengingat kejadian dimana sang atasannya terdahulu menandatangani surat perpindahannya tetapi dengan mulut yang menggerutu. Rama yang mengerti dengan maksud dari ucapan sang asisten pribadinya itu, juga ikut tertawa.
"Sudahlah. Ayo masuklah ke ruanganku. Kita akan mulai bekerja bersama hari ini," ucap Rama sambil membuka pintu ruangannya. Sang CEO itu pun berjalan masuk diikuti oleh asisten pribadi barunya.
Rama menyimpan tasnya di meja lalu duduk di kursi. Tangannya langsung meraih beberapa file yang sudah tergeletak di atas meja, membukanya dan memeriksanya.
"Apa kamu ada kesulitan selama menjadi asisten pribadiku?" tanya Rama tanpa menoleh.
"Hmm, saya baru saja satu hari menjadi asisten bapak. Dan itu pun baru……. tiga puluh menit yang lalu," ucap Samir sambil melihat jam di tangannya.
Rama tersenyum dan lalu menepuk keningnya pelan.
"Kamu ini selalu saja bisa membuat aku tersenyum," kata Rama. Jarinya dia goyang-goyangkan ke arah sang asisten pribadi.
"Maaf pak?" tanya Samir tidak mengerti.
"Maksudku jobdesk pekerjaanmu pasti berbeda dari sebelumnya bukan? Apa kamu mengalami kesulitan?"
"Saya belum bisa menjawab, Pak. Seperti yang sudah saya katakan tadi jika saya baru bekerja sekitar tiga puluh menit yang lalu. Jadi saya belum bisa memberikan keputusan," jawab Samir lagi. Rama menghembuskan nafas pelan.
"Sudahlah. Tidak perlu dijawab lagi. Aku heran kenapa sampai sekarang aku tidak pernah bisa menang menghadapimu?" ucap Rama dan Samir hanya tersenyum.
"Apa jadwal kita hari ini?" tanya Rama kembali.
"Hari ini kita ada satu pertemuan di luar dengan klien untuk membicarakan proyek baru." jawab sang asisten.
__ADS_1
"Lalu?"
"Memeriksa semua file yang masuk di dalam kantor."
"Baiklah. Jam berapa kita pergi?"
"Jam 10, Pak."
"Hmm, masih ada waktu. Baiklah kamu siapkan saja semuanya. Aku akan memeriksa beberapa file ini dulu," titah Rama.
"Baik Pak."
***
Siang itu, Rama dan juga Samir baru saja selesai dari pertemuan luar mereka. Seperti biasa, semuanya berjalan dengan lancar. Ini adalah pertemuan dengan klien yang pertama bagi Samir semenjak dirinya menjadi asisten Rama. Dan CEO Amarta's Group itu terus memberikan pelajaran-pelajaran baru bagi laki-laki tersebut.
"Kamu harus terus belajar menghadapi para klien. Karena mungkin suatu hari nanti, kamu yang akan menggantikanku menemui mereka," ucap Rama sambil duduk dan bermain ponsel di jok belakang mobil.
"Baik Pak," jawab Samir yang sedang duduk dibalik kemudi.
Mobil yang ditumpangi dua sahabat namun beda jabatan itu berhenti saat lampu lalu lintas menunjukkan warna merah. Rama yang duduk di kursi belakang, masih anteng dengan ponselnya. Sedangkan Samir menatap sekeliling jalan yang masih penuh sesak. Maklum saja itu sudah waktunya jam istirahat bagi para pekerja kantoran.
"Lian," gumam Samir pelan. Gumaman itu sedikit terdengar oleh Rama akan tetapi tidak begitu jelas.
"Iya?" ucap Rama yang langsung menoleh ke arah sang asisten.
Baru saja Samir akan memberitahukan sahabat sekaligus atasannya itu tentang apa yang dia lihat, namun ucapannya terhenti saat dia kembali melihat ada seorang laki-laki datang mendekati Lian dan langsung memeluk gadis itu dari belakang. Mata Samir kembali melotot saat dia juga melihat jika laki-laki itu mencium pipi Lian.
"Tunggu. Sebentar. Mataku tidak pernah salah membedakan mereka berdua. Aku yakin itu adalah Lian. Tapi sedang apa dia disana? Bersama seorang laki-laki? Dan berciuman?" batin Samir bermonolog.
Laki-laki itu menggeleng-gelengkan kepalanya tanpa berbicara sepatah kata pun. Dan itu berhasil membuat Rama mengerutkan keningnya.
"Ada apa Samir?" tanya Rama lagi.
Samir terdiam. Dia berpikir apakah dirinya harus memberitahukan hal ini kepada atasannya itu? Bukankah Lian adalah istri Rama? Jika sampai laki-laki itu tau apa yang sedang dilakukan oleh istrinya sekarang, apakah itu akan baik?
__ADS_1
Akhirnya Samir pun memilih untuk tidak menceritakan semuanya. Dia penasaran ingin mencari tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi disini.
"Tidak ada apa-apa, Pak," jawab Samir. Dia lalu kembali menjalankan mobilnya setelah lampu lalu lintas berwarna hijau.
"Apa yang sebenarnya sudah terjadi? Kenapa Lian bertemu dengan laki-laki lain? Apakah Rama tau hal ini? Apakah Kian tau tentang hal ini? Aaahh kenapa juga aku gak punya nomor ponselnya Kian? Bagaimana ini? Apa aku tanyakan saja pada Rama? Mungkin saja dia tau nomor ponselnya Kian. Bukankah mereka ipar kan?" Batin Samir terus bermonolog.
Sepanjang perjalanan mata Samir terus menerus melirik ke arah Rama lewat kaca spion. Dan hal itu juga disadari oleh Rama. Akhirnya sang bos besar itu menutup ponselnya dan kembali fokus pada asistennya tersebut.
"Ada apa Samir?" tanya Rama.
Samir kembali melirik ke arah Rama lewat kaca spion dan pandangan mereka akhirnya bertemu. Rama dapat melihat dengan jelas ada rasa ragu di wajah sahabatnya itu. Akan tetapi asistennya itu hanya tersenyum kecut lalu menggelengkan kepalanya. Rama tau dan sangat mengerti jika ada sesuatu yang disembunyikan oleh sahabatnya itu. Dia menarik nafas pelan.
"Samir, aku sudah pernah katakan sebelumnya bukan, anggap aku sebagai atasanmu jika kita sedang di jam kerja dan banyak orang. Tapi jika kita hanya berdua walaupun itu di jam kerja, kamu bisa menganggapku sebagai sahabatmu saja." jelas Rama.
"Hmm," Samir hanya menjawab dengan gumaman. Lalu kembali terdiam.
Setelah ditunggu beberapa saat dan sahabatnya itu masih tetap diam, membuat Rama pun kembali berbicara.
"Samir," panggilnya.
"Iya, Pak," jawab Samir.
"Aku memerintahkanmu untuk mengatakan apa yang sedang kamu sembunyikan sekarang!" titah Rama dan hal itu berhasil membuat sang asisten tertawa.
"Perintah macam apa itu?" ucap Samir di sela tawanya.
"Baiklah terserah kamu saja," Rama memanyunkan bibirnya dan hendak kembali fokus pada ponselnya ketika pada akhirnya dia pun mendengar suara Samir berbicara.
"Maafkan aku, Ram. Aku tidak bermaksud untuk menyembunyikan sesuatu apapun darimu. Aku hanya ingin tanya saja, apa kamu punya nomor ponsel Kian?" tanya Samir pada akhirnya.
"Kian?"
"Iya Kian. Adik iparmu,"
****
__ADS_1
****
****