
Akhirnya mobil yang ditumpangi oleh Rama dan juga Kian telah sampai di pelataran parkir rumah kediaman Amarta. Setelah memarkirkan mobilnya, Rama turun terlebih dahulu lalu berjalan memutar untuk membukakan pintu mobil bagi sang istri. Dengan telaten Rama melindungi kepala bagian atas Kian agar tidak terbentur. Lalu setelah itu menggandeng wanita tersebut untuk masuk ke dalam rumah.
Belum juga sampai ke pintu, kakek Bimo dengan cepat membuka kotak segi empat itu. Sebuah senyum yang hangat menyambut kedua pasangan ini. Kian dan Rama juga ikut tersenyum membalas sang kakek.
"Kakek," ucap Kian. Dia mencium punggung tangan sang kakek. Kemudian diikuti oleh Rama.
"Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya Kakek Bimo kepada Kian.
"Baik Kek," jawab Kian.
"Syukurlah. Kakek sangat kaget sekaligus khawatir tadi, waktu dapat kabar dari pelayan kalau kamu dibawa ke rumah sakit," ucap Kakek Bimo lagi. Kian tersenyum.
"Maaf ya Kek. Aku sudah membuat kakek khawatir."
"Tidak apa-apa Nak. Tapi lain kali kakek mohon tolong jaga kesehatanmu. Ingat ada buyut kakek yang sedang tumbuh di rahimmu. Dan kakek tidak mau terjadi sesuatu yang buruk, baik kepadamu ataupun buyut kakek itu," ucap kakek Bimo. Tidak terasa satu tetes air keluar dari matanya. Dia sangat takut kehilangan sang cucu menantu dan juga calon buyutnya itu.
Melihat hal tersebut, Kian langsung memeluk sang kakek.
"Kakek sudah jangan menangis. Aku janji sama kakek, mulai sekarang, mulai detik ini, aku akan lebih menjaga diriku dan juga buyut kakek ini," ucap Kian dengan tangan yang membelai perutnya sendiri. Sang kakek pun akhirnya bisa tersenyum lagi.
ECHEM…
Rama yang sejak tadi hanya dijadikan patung oleh kedua pasangan kakek dan cucu menantunya itu akhirnya berdehem untuk menyadarkan mereka kalau tidak hanya ada mereka berdua saja disana. Sang kakek tertawa melihat kecemburuan cucu kandungnya itu.
"Apa kangen-kangennya bisa kita lanjutkan di dalam? Karena sejujurnya cuaca malam ini sudah terasa semakin dingin," ucap Rama menginterupsi.
"Baiklah. Ayo Nak!" Sang kakek mengajak Kian masuk. Gadis itu pun mengangguk lalu mengikuti sang kakek.
"Dih, kenapa yang diajak masuk cuma cucu menantunya aja? Ah gak adil nih kakek," gerutu Rama pelan sambil berjalan mengikuti mereka berdua. Akan tetapi baru saja kaki Rama akan melangkah masuk ke dalam rumah, suara Kian menginterupsi.
"Mas tunggu!" ucap Kian. Satu kaki Rama yang sudah terangkat dan hendak menginjakkan kakinya masuk ke dalam rumah akhirnya harus dia tarik kembali.
__ADS_1
"Ada apa sayang?"
Kian dan juga kakek Bimo kembali berbalik mendekati Rama yang masih berdiri di luar.
"Mas, aku mau makan sop buah," ucap Kian dengan manjanya. Kakek Bimo sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Kian akan tetapi di detik selanjutnya dia malah tersenyum. Dia sangat senang karena sepertinya calon buyutnya itu akan mengerjai ayahnya lagi.
"Apa? Sop buah? Yang benar saja. Ini kan sudah malam. Mana ada yang menjual sop buah malam-malam begini?" ucap Rama terdengar dengan nada yang frustasi.
"Aku gak mau tau. Mau Mas pergi kemana kek, pokoknya aku mau makan sop buah. Mas tau gak, badan aku tuh ngerasa kepanasan banget. Dan kalau makan sop buah yang dingin, rasanya tuh bakalan sejuuuk banget ke sini," ucap Kian sambil menunjuk lehernya sendiri.
"Tapi yang benar saja donk sayang. Kamu boleh ngidam tapi yang masuk akal sedikit donk. Ini hampir tengah malam. Pedagang yang jualan makan malam juga udah hampir tutup. Mana ada pedagang yang jual sop buah."
"Mas gak mau beliin?" ucap Kian dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Bukan begitu sayang. Atau begini saja. Hmm, aku akan membelikanmu sop buah besok pagi," ucap Rama.
"Eh tapi kan pagi-pagi gak akan ada yang jual sop buah," pikir Rama.
"Maksud Mas, besok siang."
Rama dengan cepat meralat ucapannya. Matanya menoleh ke arah sang kakek mencoba meminta bantuan. Karena Rama pikir bukankah selama ini hanya sang kakek saja yang selalu istrinya itu turuti? Akan tetapi reaksi dari sang kakek benar-benar di luar dugaan. Laki-laki paruh baya itu hanya mengangkat kedua bahunya dan memasang wajah polos. Lalu setelahnya dia pun tersenyum. Rama kembali menatap wajah Kian yang sedang melamun. Dia sangat berharap jika istrinya itu setuju. Karena sejujurnya tubuhnya sedang sangat lelah dan dia ingin cepat beristirahat.
Kian menatap wajah sang suami dalam diam. Lalu tak lama setelahnya dia kembali berkata.
"Pokoknya kalau Mas gak bawa sop buah, Mas gak boleh masuk ke dalam rumah," ucap Kian yang langsung menutup pintu. Rama yang kaget langsung maju dan mengetuk pintu tersebut.
"Sayang… sayang jangan seperti ini. Aku mohon. Malam ini aku benar-benar sangat lelah. Tolong ijinkan aku masuk," Rama terus meminta akan tetapi pintu itu terus saja tertutup.
Dengan sedikit geram Rama pun akhirnya mengalah. Dia kembali ke dalam mobil dan mulai melajukan kendaraannya untuk mencari sop buah. Akan tetapi seperti perkiraannya jika ini sudah malam dan tidak ada yang berjualan sop buah. Rama sudah hampir stres. Dia mengacak-ngacak rambutnya sendiri. Seandainya saja dia masih memiliki sifat kejamnya pastinya dia akan lebih memilih untuk pergi ke hotel dan tidur disana. Membiarkan sang istri menunggu sop buah di rumah. Akan tetapi sekarang dia tidak bisa berbuat seperti itu. Apalagi di dalam perut sang istri ada calon anaknya.
Rama pun pada akhirnya memilih untuk pergi ke rumah Samir saja. Dia pikir mungkin saja sahabatnya itu bisa membantunya mencari referensi dimana pedagang sop buah yang masih buka jam segini.
__ADS_1
Setelah sampai di depan rumah sang sahabat, sebenarnya dia agak sedikit ragu untuk mengetuk. Dia takut jika Samir sudah tidur. Rama hampir saja memutar badannya berniat hendak kembali karena tidak ingin mengganggu sang sahabat. Akan tetapi di detik selanjutnya dia akhirnya memutuskan untuk lebih memilih mengganggu Samir saja daripada dia tidak bisa masuk ke rumah.
Beberapa saat setelah Rama mengetuk, Samir tampak membuka pintu. Laki-laki itu tampak masih segar dan itu membuat Rama sedikit bingung.
"Kamu belum tidur?" tanya Rama. Samir menggelengkan kepala.
"Aku gak bisa tidur. Ada apa?"
"Hmm, Lian… lian mengidam ingin makan sop buah. Apa kamu tau dimana penjual sop buah yang masih buka jam segini?"
Samir melihat jam di tangannya lalu kembali menatap laki-laki di depannya.
"Sepertinya ini sudah sangat malam. Dan tak akan ada penjual sop buah yang masih buka jam segini," jawab Samir.
"Itu juga yang sudah aku jelaskan padanya. Tapi dia tidak peduli. Dia malah mengunci pintu dan tidak mengizinkan aku masuk kalau tidak membawakannya sop buah." Rama tampak mengacak rambutnya lagi. Samir sedikit senyum melihat kondisi sang sahabat yang tampak sangat berantakan.
"Masuklah!" ajak Samir.
"Tidak. Sepertinya aku harus mencari penjual sop buah lagi."
"Masuklah. Akan aku buatkan sop buah. Dan nanti kamu katakan saja kalau kamu membelinya," jelas Samir. Rama tampak terperangah.
"Memangnya kamu bisa buat sop buah?"
"Anak kecil juga bisa buat sop buah. Sudah ayo masuk!"
****
****
****
__ADS_1