
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi sebelum kamu menceritakan semuanya kepadaku." ucap Samir dingin. Matanya tajam menusuk menatap ke arah Kian. Selama mereka saling mengenal, baru kali ini Kian melihat wajah Samir segarang itu dan Kian sadar bahwa kali ini sang sahabat sedang marah besar kepadanya. Lalu apa yang harus dia lakukan sekarang?
"Samir aku akan menjelaskan semuanya nanti. Kita akan bicarakan hal ini nanti, tidak sekarang. Aku tidak bisa menghilang dari pesta itu. Bagaimana jika nanti kakek Bimo mencariku? Aku tidak mau ada masalah." ucap Kian sedikit lembut. Samir tersenyum kecut.
"Apa ini seperti cerita di film-film? Kamu merebut suami kakakmu hanya karena dia orang yang sangat kaya dan juga tampan?"
"SAMIR…!!!"
PLAK
Sebuah tamparan mendarat dengan sangat keras di pipi laki-laki itu. Sebuah tamparan dari tangan wanita yang biasanya selalu membelai lembut tapi kini berubah menjadi keras. Sebuah tamparan yang dipenuhi dengan emosi dan amarah akan tetapi setelah semua itu terlepas kini meninggalkan sebuah penyesalan pada diri Kian.
"Sa… Samir… Samir maafkan aku.. Maafkan aku.. aku tidak sengaja melakukannya.. maafkan aku," ucap Kian yang hendak maju menyentuh laki-laki di depannya itu namun sebuah gerakan tangan dari Samir meminta Kian agar tidak mendekat.
"Kamu tau Kian. Aku selalu memikirkanmu selama kita saling jauh. Kamu adalah penyemangatku. Kamu adalah penguatku. Aku selalu berusaha hingga mencapai titik ini, hanya agar aku merasa pantas untuk bisa bersanding denganmu. Cintaku kepadamu tidak pernah berkurang Kian. Tidak pernah. Aku sangat senang ketika melihatmu di cafe waktu itu. Aku pikir aku akan segera menemui orang tuamu dan melamarmu untuk menjadi istriku." Samir menghentikan ucapannya sejenak.
"Tapi semuanya hancur. Semua impianku musnah saat aku melihat kamu bersanding dengan laki-laki lain. Dan aku sadar, bahwa aku tidak bisa dibandingkan dengan Rama. Dia memiliki segalanya, semuanya. Semua wanita di dunia ini pasti akan lebih memilih untuk hidup bersama Rama daripada bersamaku. Iya kan?" tanya Samir menatap wajah Kian.
Kian menatap wajah laki-laki itu dengan sendu. Dia tidak pernah menyangka jika apa yang sudah dia lakukan telah membuat patah hati sang sahabat sangat dalam. Kian membuang nafas pelan dan berusaha berjalan mendekat dengan perlahan.
"Samir, semua yang terjadi tidak seperti apa yang kamu pikirkan. Aku akan menjelaskan semuanya. Aku janji," ucap Kian dan Samir masih terdiam.
"Begini saja. Besok aku akan menemuimu. Aku pasti akan datang untuk menceritakan semuanya kepadamu. Tapi tidak hari ini. Hari ini aku benar-benar tidak bisa pergi dari pesta itu. Aku bingung harus menjawab apa jika nanti kakek Bimo bertanya. Aku mohon Samir. Percayalah padaku," ucap Kian terus meyakinkan sang sahabat bahwa mereka berdua atau lebih tepatnya dirinya harus segera kembali ke pesta.
Setelah cukup lama saling menatap akhirnya Samir menjawab.
__ADS_1
"Baik. Besok aku akan menunggumu di cafe yang sama dimana kita beberapa minggu yang lalu bertemu untuk yang pertama kalinya."
"Baik."
"Jam 9 tepat."
"Iya."
"Jika kamu sampai tidak datang, aku yang akan datang ke rumah Rama untuk menemuimu secara langsung," Samir sedikit mengancam.
"Tidak… tidak… kamu tidak perlu melakukan hal itu. Aku pasti akan datang. Aku janji," ucap Kian tegas. Samir mengangguk.
"Jadi bisakah kita kembali ke pesta sekarang? Aku tidak mau jika sampai ada yang sadar kalau kita menghilang berdua," ucap Kian lagi. Dan Samir kembali mengangguk.
Mereka akhirnya kembali berjalan berdampingan ke arah aula dimana pesta digelar. Keduanya hanya berjalan dalam diam. Tak ada satu patah kata pun yang keluar dari bibir mereka. Keduanya terlalu fokus kepada pemikirannya masing-masing.
"Safira tunggu!" Teriak Rama yang berhasil menghentikan langkah sang kekasih. Wanita itu berbalik dan tampaklah dengan jelas raut amarah dan juga kecewa dari wajah wanita itu.
"Safira apa yang sedang kamu lakukan disini?" tanya Rama saat mereka sudah dalam posisi dekat. Safira tersenyum kecut.
"Sedang apa? Tentu saja sedang melihat istri sah mu," sindir wanita itu.
"Safira, aku bisa jelaskan semuanya."
"Jadi ini alasan kamu melarangku untuk datang? Agar status pernikahanmu bisa terus kamu sembunyikan?" bentak Safira.
__ADS_1
"Safira….."
"Kamu sudah menikah lebih dari dua bulan tapi kamu gak pernah sekalipun memberitahukan statusmu? Malah setiap hari kamu selalu datang ke apartemenku, menemaniku, kenapa?" teriak Safira lagi. Rama terpaksa harus tersenyum kepada setiap tamu undangan yang menoleh karena tertarik dengan suara teriakan wanita itu.
"Safira jangan berteriak-teriak seperti ini. Disini banyak sekali tamu undangan," bujuk Rama.
"Memangnya kenapa? Ini memang pesta ulang tahun perusahaanmu sekaligus acara pengumuman pernikahanmu bukan? Tentu saja disini banyak orang. Tapi aku tidak peduli. Biar semua tau jika kita sebenarnya memiliki sebuah hubungan. Aku tidak mau jika dijadikan ban cadangan oleh seorang CEO serakah sepertimu."
Safira terus berteriak-teriak seperti orang gila. Hal itu bahkan berhasil mencuri perhatian beberapa tamu undangan disana. Akan tetapi kebanyakan dari mereka tidak peduli dan terus menikmati jamuan pesta saja.
"Safira, pernikahan ini adalah paksaan. Aku menikah dengan Lian karena dijodohkan oleh kakek. Itu sebabnya aku mengadakan pesta sederhana dan tidak mengundang banyak orang karena aku memang tidak menginginkan pernikahan ini," jelas Rama.
"Oh iya? Tapi aku tidak melihat hal itu saat kalian masuk tadi. Aku melihat wajahmu tersenyum dan berjalan dengan bangga sambil menggandeng istri cantikmu itu untuk diperkenalkan kepada semua orang. Apa itu juga adalah rencana kakek tua itu?"
Rama terdiam. Iya dia baru sadar jika kecantikan sang istri hari ini telah berhasil menghipnotisnya. Tidak ada sama sekali penolakan di hatinya saat Lian melingkarkan tangannya di lengannya. Dia bahkan tidak merasa terganggu sama sekali ketika semua orang menatap mereka berdua. Berbeda sekali dengan awal mereka menikah. Rama merasa sangat terusik dan merasa kesal saat dirinya untuk pertama kalinya berdansa dengan sang istri dan diperhatikan oleh semua orang. Tapi hari ini? Apa yang terjadi dengannya?
"Itu karena cinta di hati cucuku sudah mulai tumbuh untuk istri sahnya." Tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki tua menginterupsi. Kedua sejoli itu melihat ke arah sumber suara dimana sang kakek sedang berjalan dengan senyum mendekati mereka.
"Kakek," gumam Rama. Sedangkan Safira malah memalingkan wajahnya dengan penuh kebencian.
"Lama sekali kita tidak bertemu, Safira? Apa kabarmu? Sungguh mengejutkan kamu bisa hadir di acara pesta ulang tahun perusahaan Amarta's Group hari ini. Eh, tapi tidak juga. Karena aku sudah tahu kalau kamu pasti akan datang."
****
****
__ADS_1
****