
Tok.. tok.. tok..
Suara pintu rumah Kakek Bimo diketuk. Seorang pelayan berjalan ke arah depan lalu membuka pintu tersebut.
"Selamat pagi, saya mau bertemu dengan Pak Rama," ucap seorang laki-laki dari balik pintu.
Merasa mengenal suara tamunya kali ini, Kian yang sebelumnya sedang duduk di sofa ruang keluarga langsung berlari ke arah depan.
"Samir," ucap gadis itu sambil tersenyum. Melihat wanita yang sangat dia rindukan saat ini membuat Samir juga ikut tersenyum bahagia. Seandainya saja bisa, dia pasti sudah memeluk wanita itu.
"Hai Ki…." ucapan Samir terpotong karena Kian langsung membulatkan matanya.
"Hmm maksudku Hai Lian," ucap Samir sedikit merevisi.
"Sedang apa kamu disini? Ayo masuk!"
Laki-laki itu pun mulai melangkah masuk ke dalam rumah mengikuti Kian. Pandangan matanya menyapu semua yang ada disana dan Samir benar-benar kagum akan segala hal yang ada di rumah itu. Ini adalah kali pertama Samir menginjakkan kaki di rumah keluarga Amarta. Dan dia sangat senang bisa datang ke sana. Apalagi dengan datang ke rumah itu, dia bisa bertemu dengan Kian, wanita yang dia cintai dari dulu sampai sekarang.
"Aku diperintahkan Rama untuk mengirimkan beberapa file yang membutuhkan tanda tangannya. Aku dengar dia sakit dan tidak bisa masuk kerja. Apa itu benar?" Tanya Samir. Kian hanya mengangguk lalu tersenyum.
"Ya sudah. Ayo aku antar kamu bertemu Mas Rama. Ini kan masih jam kerja jadi aku tidak mau mengganggumu," ucap Kian sambil tersenyum.
Wanita itu pun mengantarkan sang sahabat ke arah taman belakang rumah dimana Rama berada. Laki-laki itu tampak sedang duduk di salah satu bangku yang ada disana dengan diam. Kian memilih tidak ikut masuk ke taman belakang dengan alasan tidak ingin mengganggu bos dan asistennya itu. Padahal sebenarnya dirinya masih sedikit ragu untuk berada dekat dengan Rama.
"Selamat pagi Pak," sapa Samir yang lalu menyadarkan sang atasan.
"Oh hei kamu sudah datang," ucap Rama. Dia pun mempersilahkan Samir untuk duduk di bangku yang ada di depannya.
"Apa kamu sudah membawa semuanya?" tanya Rama kembali.
__ADS_1
"Sudah Pak. Ini."
Samir memberikan beberapa berkas file kepada Rama. Laki-laki itu sempat membacanya sekilas dan lalu menandatanganinya.
"Hmm, maaf Pak. Jika boleh saya tahu anda sakit apa? Karena jujur saya sangat khawatir saat mendengar anda sakit," ucap Samir sambil menyimpan file yang diberikan oleh Rama ke atas pangkuannya. Rama menoleh ke arah sang sahabat lalu tersenyum.
"Tidak apa-apa. Mungkin hanya kelelahan saja. Kamu tahu sendiri beberapa hari ini pekerjaan kita di kantor sangat banyak. Mungkin karena kondisi tubuhku juga yang tidak vit seratus persen makanya langsung tumbang begini," jelas Rama.
"Sudah diperiksa dokter? Biasanya mereka suka memberikan vitamin."
"Tidak perlu. Aku tidak separah itu sampai harus menghubungi dokter. Lagipula obat yang bisa menyembuhkanku sudah aku terima semalam," ucap Rama tak sadar.
"Maksud bapak?" Tanya Samir tidak mengerti.
Rama langsung mengusap wajahnya saat dia sadar jika dirinya sudah keceplosan. Lagipula sangat aneh sekali. Kenapa dirinya selalu mengingat kejadian semalam? Setiap lekuk tubuh sang istri yang sudah dia sentuh, rasanya sudah mencuri seluruh pikirannya saat ini.
Karena dirasa urusannya di rumah itu sudah selesai, Samir pun berpamitan untuk kembali lagi ke kantor. Saat memasuki rumah, lagi-lagi dia bertemu dengan Kian. Wanita itu tersenyum saat melihat sang sahabat.
"Sudah selesai?" tanya Kian.
"Sudah."
"Cepat sekali," ucap Kian sedikit merajuk. Samir tersenyum.
"Memangnya kamu mau aku di sini berapa lama?"
"Hmm, aku kira bisa sampai sore."
Samir bukan lagi tersenyum tapi dia tertawa mendengar ucapan Kian.
__ADS_1
"Aku sedang bekerja. Jadi mana mungkin aku bisa ada di sini lama-lama," ucap Samir. Kian terdiam.
"Kenapa? Kamu kangen ya sama aku?" canda Samir di sela tawanya. Kian lagi-lagi terdiam.
Samir mengusap kepala gadis itu.
"Sabar ya cantik. Kalau ada waktu luang nanti kita bertemu lagi," ucap Samir. Kian mengangguk. Lalu laki-laki itu pun pergi dari rumah Amarta.
Kian masih berdiri menatap motor yang ditumpangi sang sahabat sampai hilang tak terlihat oleh mata. Setelah itu baru dia masuk ke dalam rumah dan kembali duduk di sofa. Entah kenapa dia masih ragu untuk beristirahat di dalam kamar. Bayangan kejadian semalam masih terus berputar di pikirannya.
Tanpa Kian sadari, interaksi yang dilakukan oleh kedua sahabat itu dilihat oleh Rama. Kedua tangan Rama mengepal kuat saat dia melihat Samir mengusap kepala sang istri. Apalagi saat Samir berkata cantik kepada istrinya itu. Dia tahu jika mereka adalah sahabat sejak kecil. Tapi apa yang dilakukan oleh Samir kepada Kian, sudah berhasil mengoyak hatinya. Rama emosi, dia cemburu. Dia tidak suka melihat ada laki-laki lain menyentuh sang istri walaupun itu adalah sahabatnya sendiri.
***
Malam telah tiba. Semua orang termasuk kakek Bimo sudah terlelap di dalam kamarnya masing-masing. Akan tetapi Kian masih ada di ruang keluarga. Dia masih sedikit takut untuk masuk ke dalam kamar apalagi sekarang ada Rama di dalam sana. Kian takut jika kejadian malam kemarin terulang lagi. Dia bingung, jika dia masuk ke dalam kamar, dia takut. Tapi jika dia tidak masuk, dia tidak tahu harus memberikan alasan apa kepada sang kakek seandainya kakek Bimo melihat hal ini.
Jam di dinding terus berputar tapi Kian masih juga belum bisa mengambil keputusan. Dia hanya duduk bersandar di sofa tanpa melakukan apapun. Semakin lama kantuk pun datang menyerang. Tanpa Kian sadari, dia malah tertidur di sofa tersebut.
Di tempat lain, tepatnya di dalam kamar, Rama juga masih belum bisa tidur. Dia masih menunggu sang istri yang belum juga masuk. Rama sadar jika mungkin sang istri sedikit trauma dengan kejadian semalam. Akan tetapi hati kecilnya berkata jika dirinya tidak seratus persen salah karena mereka memang sudah menikah bukan? Lalu kenapa sang istri sampai bersikap seperti ini?
Kesal menunggu lama, Rama pun keluar dari dalam kamar. Dia berencana untuk menjemput sang istri agar mau masuk ke dalam kamar mereka. Akan tetapi langkahnya terhenti saat dia melihat Kian sudah terlelap di kursi sofa. Rama memperhatikan setiap jengkal wajahnya yang kini terasa sangat cantik di matanya. Pipi mulusnya yang berwarna putih, bibir merahnya, leher jenjangnya, dan kedua matanya pun terus menyapu seluruh tubuh Kian dari atas hingga bawah.
Tanpa Rama sadari sebuah gejolak hasrat di dalam tubuhnya bangkit. Rasanya dia ingin sekali menyentuh kulit halus dan lembut itu lagi. Tangannya mengepal kuat dan dia menggigit bibirnya keras hanya untuk menahan gairah yang semakin tumbuh. Dia sadar kalau dia tidak mungkin melakukan hal itu lagi sekarang. Walaupun di dalam pikirannya itu adalah hal yang biasa akan tetapi dia ingat jika perlakuannya selama ini kepada sang istri pasti menimbulkan rasa penolakan di hati wanita itu untuk dia sentuh. Dan itu benar bukan. Semalam sang istri memang memberontak saat dirinya melancarkan aksinya. Tapi sekarang apa yang harus dia lakukan ketika sesuatu di bawah sana tidak bisa diajak berkompromi?
****
****
****
__ADS_1