MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR

MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR
BAB 86. TOLONG AKU MAS


__ADS_3

Lian terus berlari membelah jalanan sepi tersebut. Sesekali dia melihat ke arah belakang dimana keempat laki-laki itu masih tetap mengejarnya. Saat sampai di pertigaan jalan, sebuah mobil tampak melaju dengan cepat. Lampu mobil yang begitu silau dan juga suara klakson yang berbunyi nyaring malah membuat wanita itu berhenti tepat di tengah jalan dengan kedua tangan yang menutup matanya.


Suara decitan dari rem mobil yang diinjak dengan kuat oleh sang sopir terdengar sangat melengking. Dan akhirnya mobil itu berhenti tepat beberapa sentimeter dari tubuh Lian. Perlahan Lian menurunkan tangannya dan membuka matanya. Samar-samar dia berusaha melihat siapa sang pemilik mobil tersebut. 


Mendengar suara keempat laki-laki itu memanggil, Lian langsung berlari mendekati pintu mobil. Dengan tanpa melihat siapa di dalamnya, wanita itu terus menggedor-gedor kaca mobil itu sambil minta tolong. Air matanya mengalir sangat deras. Hanya sang pengemudi mobil ini saja yang menjadi satu-satunya harapan dia untuk bisa selamat dari kejaran para penjahat itu.


Lian berjongkok, dia menyandarkan tubuhnya di balik mobil tersebut. Akan tetapi tangannya masih tetap mengetuk pintu mobil itu. 


Sesaat kemudian pintu mobil itu pun terbuka. Lalu keluarlah seorang laki-laki gagah yang lalu berdiri di depan Lian yang berjongkok dengan wajah yang dia tenggelamkan di kedua kakinya.


"Kian..?" panggil laki-laki itu.


Lian mendongak dengan cepat saat dirinya merasa mengenali suara itu. Bibirnya tersenyum dan tangannya dengan segera mengusap air matanya. Lian berdiri, melonjak dan langsung memeluk laki-laki itu dengan sangat erat.


"Mas.. Mas Rama.. Mas tolong aku, Mas," ucap Lian dari balik tubuh Rama. Laki-laki itu sama sekali tidak membalas pelukan Lian akan tetapi dia membiarkan saja wanita itu memeluknya.


Lian melepaskan pelukannya lalu menunjuk ke arah belakang dimana ada empat orang laki-laki yang sudah sampai disana.


"Mereka mengejarku, Mas. Mereka akan menyakitiku. Tolong aku, Mas. Tolong aku," ucap Lian. Dia langsung berpindah ke belakang punggung Rama dan bersembunyi di sana.


"Hey, berikan wanita itu kepada kami! Dia adalah wanita bos kami," ucap salah satu laki-laki itu.


Rama menoleh ke arah Lian. Dia melihat kondisi wanita itu yang sangat berantakan. Rambut berantakan, wajah yang penuh air mata dan keringat, pakaian tidur tipis yang sudah kotor, juga kaki tanpa alas yang terus mengeluarkan darah. Lian menggelengkan kepalanya memberi isyarat jika apa yang dikatakan oleh laki-laki itu adalah bohong.


"Bagaimana jika aku tidak mau menyerahkannya kepada kalian?" tanya Rama dingin.


"Jangan sok jagoan kamu!" bentak salah satu dari laki-laki itu. Tangannya menggebrak bagian depan mobil dengan keras dan itu membuat emosi di hati Rama tumbuh. Rama mengepalkan tangannya dengan kuat dan menatap mereka dengan tatapan tajam membunuh.

__ADS_1


Mendapatkan tatapan menantang seperti itu, membuat keempat laki-laki itu terpancing emosi. Mereka mulai menyerang Rama. Laki-laki itu maju ke depan agar pertarungan mereka bisa sedikit menjauh dari Lian.


Lian masih terus bersembunyi di samping mobil. Sesekali dia menutup mulutnya dengan tangan saat ada satu pukulan dari penjahat itu yang berhasil mengenai tubuh Rama. Kelima laki-laki itu terus bertarung. Lian baru tahu jika ternyata sang suaminya itu sangat pandai bela diri. Hanya dalam hitungan menit saja, keempat anak buah bos Roni itu terjengkang kalah dengan wajah yang babak belur. Mereka pun pergi dari sana dengan sumpah serapan mereka kepada Rama. Salah satu dari mereka malah mengancam bahwa bos nya yaitu bos Roni tidak akan tinggal diam. Bos Roni pasti akan menghancurkan Rama.


Selepas keempat orang itu pergi, Rama mulai berjalan mendekati Lian. Wanita itu masih menangis sambil duduk di jalan. Tubuhnya masih tampak gemetar. Melihat kondisi wanita itu, rasa kesal di dalam diri Rama langsung menghilang seketika. Kini yang ada hanya rasa kasihan. Laki-laki itu berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Lian.


"Kian," panggil Rama. Tangannya menyentuh bahu Lian.


Dengan segera Lian memeluk laki-laki itu dengan erat. 


"Aku takut, Mas. Aku takut! Mereka.. mereka akan…" Lian terus meracau di sela isak tangisnya. Rama bisa merasakan ketakutan yang sangat dalam pada diri wanita itu.


"Sudahlah. Tidak apa-apa. Semuanya sudah berakhir. Kamu baik-baik saja," potong Rama.


"Tapi mereka. Mereka akan kembali. Mereka akan datang kembali mengejarku."


Rama pun mengajak Lian untuk masuk ke dalam mobilnya. Setelah semuanya siap, laki-laki itu pun mulai melajukan kendaraannya lagi. Sesekali dia melirik ke arah wanita yang kini duduk di sampingnya. Keadaannya benar-benar kacau.


"Kamu mau aku mengantarkanmu kemana? Bukankah sekarang kamu tidak tinggal lagi bersama ibu? Eh tunggu bukankah kamu pernah bilang kalau kamu tinggal di luar kota karena ada pekerjaan disana?" tanya Rama. Dia tahu mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya soal itu. Tapi dia jadi ga bingung harus membawa Lian kemana? Lian hanya diam saja.


"Apa kamu mau pulang ke rumahku untuk bertemu dengan Lian?"


"Mas, aku pusing." 


Bukannya menjawab pertanyaan Rama, Lian malah berkata jika dia pusing. Rama melihat telapak kakinya yang sudah merah karena darah. Dia baru sadar jika wanita ini sudah kehilangan banyak darah. Dan bukan rumah yang harus dia tuju melainkan rumah sakit.


Dengan segera Rama melajukan mobilnya ke arah rumah sakit terdekat. Saat sampai di pelataran rumah sakit, Rama melihat jika Lian sudah tak sadarkan diri. Dia terpaksa menggendong Lian dan menidurkannya di brankar lalu beberapa suster pun mendorongnya masuk ke ruang UGD.

__ADS_1


Entah mimpi apa Rama kemarin malam. Sampai-sampai dia harus menunggu di depan ruang UGD dua kali di hari ini. Laki-laki itu mulai berpikir apakah dia harus menghubungi istrinya dan memberitahukan kondisi saudara kembarnya ini atau tidak.


Dia ingin memberitahukan semuanya kepada sang istri akan tetapi dia takut jika kabar ini bisa memperburuk kondisi kehamilannya. Apalagi sang istri juga baru saja keluar dari rumah sakit. Sepertinya akan sangat berbahaya jika dia sampai tahu. Akhirnya Rama memutuskan untuk mengurus semua ini sendiri.


Walaupun demikian, dia tetap mengirimkan pesan kepada sang kakek.


"Kakek, apa Lian masih bangun?" pesan Rama kepada Kakek Bimo.


"Lian sudah tidur sejak tadi. Sepertinya obat dari rumah sakit itu mengandung obat tidur," jawab sang kakek.


"Baguslah kalau begitu."


"Memangnya ada apa? Kamu dimana sekarang? Apa masih mencari sop buah?"


"Tidak Kek. Aku sudah mendapatkan sop buah itu. Hanya saja aku ada sedikit urusan yang harus aku selesaikan terlebih dahulu. Jadi sepertinya aku akan pulang sedikit terlambat."


"Hmm, urusan apa?"


"Nanti akan aku ceritakan Kek. Sekarang aku harus pergi dulu. Titip Lian, Kek."


"Baiklah. Kamu hati-hati yah"


"Iya Kek."


****


****

__ADS_1


****


__ADS_2