MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR

MENJADI ISTRI SANG KAKAK IPAR
BAB 81. TAK INGIN JUJUR


__ADS_3

Sebuah rumah sakit di tengah kota menjadi tempat Rama membawa sang istri untuk diperiksa. Kondisi Kian yang demam dan juga sangat sulit untuk disadarkan membuat Rama dengan segera membawa Kian ke rumah sakit dengan mobilnya. Sayangnya saat itu, Samir sudah pulang. Jadinya dia tidak bisa meminta sang sahabat untuk membantunya.


Sesampainya di rumah sakit, Kian langsung ditangani oleh dokter Selia, dokter kandungan yang menjadi penanggung jawab atas kehamilan Kian. Rama masih menunggu di depan ruang pemeriksaan. Hatinya benar-benar gelisah. Saat sedang menunggu, ponsel laki-laki itu berdering. Tampaklah nama sang kakek di depan layar ponsel tersebut.


"Iya kek?" ucap Rama mengangkat panggilan itu.


"Kamu dimana? Pelayan bilang kamu membawa Lian ke rumah sakit? Apa yang terjadi?" tanya kakek Bimo panik.


"Lian demam, Kek. Itu sebabnya aku bawa dia ke rumah sakit."


"Demam? Bagaimana bisa? Bukannya tadi pagi dia baik-baik saja?"


"Aku juga tidak tahu, Kek. Tadi Lian mengigau dan saat aku akan membangunkannya, ternyata dia demam."


"Lalu bagaimana keadaannya sekarang? Apa perlu kakek datang ke rumah sakit?"


"Tidak usah Kek. Kakek tunggu di rumah saja. Kakek tenang saja, dokter Selia sedang memeriksa keadaan Lian di dalam. Kita berdoa saja semoga semuanya baik-baik saja."


"Ya sudah. Kakek akan menunggu kabarmu. Kakek harap semoga Lian dan juga buyut kakek baik-baik saja," ucap Kakek Bimo lalu dia pun menutup panggilan tersebut.


Rama pun mematikan ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku celananya. Tidak lama kemudian, dokter Selia pun keluar dari ruang pemeriksaan. Dengan cepat Rama mendekatinya.


"Bagaimana keadaan istri saya, dok?"


"Istri dan juga anak anda baik-baik saja. Pasien hanya sedikit kelelahan saja. Dan satu lagi sepertinya ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Hal itulah yang membuat kondisi tubuhnya menjadi tidak stabil dan langsung drop."


"Mengganggu pikiran?" gumam Rama.


"Iya. Aku sudah katakan sebelumnya bukan, jika kehamilan istri anda ini sangat lemah. Jadi usahakan jangan buat istri anda menjadi stress atau banyak pikiran. Jangan juga terlalu memforsir dia untuk melakukan sesuatu yang membuat tubuhnya merasa kelelahan."


"Baik dokter."

__ADS_1


"Pasien sudah sadar. Saya sudah memberikan obat dan juga vitamin. Jika pasien sudah kuat, anda bisa membawanya pulang. Dan jangan lupa minum obatnya."


"Baik dokter. Terima kasih."


Dokter Selia pun pamit untuk kembali ke ruangannya. Sedangkan Rama melangkah masuk ke dalam ruang perawatan dimana Kian sedang berbaring.


Wajah gadis itu menoleh ke arah pintu saat tampak seseorang masuk ke dalam ruangan tersebut. Bibirnya mengukir senyum saat dia tau jika yang berjalan mendekati dirinya adalah Rama. Laki-laki itu juga membalas senyuman sang istri.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Rama. Punggung tangannya dia tempelkan di dahi Kian untuk mengecek suhu tubuh gadis itu yang ternyata sudah normal kembali.


"Aku baik, Mas. Sangat baik."


"Syukurlah"


"Maaf ya Mas, aku sudah buat kamu kerepotan dengan membawa aku ke rumah sakit malam-malam begini."


"Tidak apa-apa. Ini kan sudah menjadi tugasku sebagai suamimu," ucap Rama. Kian terdiam dengan mata terus menatap wajah laki-laki itu.


"Dan tugasmu sebagai istri adalah selalu berkata jujur kepadaku," ucap Rama kemudian. Kian mengerutkan dahinya bingung.


"Jangan pernah merahasiakan apapun dariku."


Kian sedikit terkejut dengan ucapan laki-laki itu. Dia berpikir apakah Rama sudah tahu yang sebenarnya? Apakah laki-laki itu sudah tau jika dia bukan istrinya melainkan adik iparnya?


"Rahasia apa, Mas?" tanya Kian lirih.


"Apa yang kamu rahasiakan dariku?" tanya Rama tegas. Kian semakin kalut. Dia benar-benar takut jika Rama sudah mengetahui semua kebenaran tentang dirinya.


"Aku merahasiakan apa darimu, Mas?" tanya Kian lagi. Tangannya sudah mulai gemetar. Dan suaranya sudah mulai tercekat.


"Apa yang sedang kamu pikirkan? Sampai-sampai tubuh kamu drop seperti ini?" tanya Rama lagi. 

__ADS_1


Pertanyaan Rama, berhasil membuat Kian sedikit tenang. Setidaknya dia tahu jika laki-laki itu belum mengetahui tentang pertukaran identitasnya. Rama hanya ingin tahu apa yang dia pikirkan atau apa yang terjadi tadi siang sehingga tubuh Kian langsung drop dan akhirnya harus dibawa ke rumah sakit.


"Hmm, aku… itu.. aku,"


Tapi tetap saja, Kian tak bisa menjelaskannya dengan gamblang. Bagaimana bisa dia memberitahukan semuanya apa yang terjadi tadi siang di toko perhiasan? Bagaimana bisa dia bercerita kepada Rama jika dirinya bertemu dengan Vicky kekasih dari istri sah nya.


"Kenapa? Apa kamu tidak mau jujur kepadaku?" tanya Rama lagi.


"Bukan begitu Mas. Tapi aku benar-benar tidak mengerti apa yang kamu maksud? Memikirkan sesuatu? Menyembunyikan sesuatu? Aku benar-benar tidak mengerti," ucap Kian lagi.


Rama membuang nafas dalam. Dia tahu jika sang istri sedang menyembunyikan sesuatu atau lebih tepatnya belum siap untuk berbagi sesuatu hal itu dengannya. Dan Rama tidak mau memaksanya. Laki-laki itu juga tak ada rencana untuk menyelidikinya sendiri. Dia ingin tahu semuanya jika sang istri sendiri yang mengatakannya.


"Mas, apa kita bisa pulang sekarang?" tanya Kian.


"Kenapa? Sudah tidak sabar ya bobonya pengen Mas peluk?" Rama sengaja bercanda untuk mengalihkan pembicaraan mereka sebelumnya. Akan tetapi bukannya tersipu atau merona, Kian malah terlihat cuek. Hal itu membuat Rama sedikit kesal. Tapi dia berusaha menahannya dan tetap tersenyum.


Setelah menyelesaikan beberapa administrasi yang diperlukan, akhirnya mereka pun kembali pulang. Sepanjang perjalanan, Kian terus saja tampak melamun. Pandangannya menatap kosong ke arah jalanan di samping kirinya. Sesekali Rama melirik ke arah sang istri dan dia sadar jika sang istri pasti tengah memikirkan sesuatu. Sayangnya sang istri masih belum percaya sepenuhnya kepadanya sehingga dia tidak mau berbagi hal itu kepada Rama, pikir laki-laki itu.


"Apa Samir tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Lian? Bukankah kakek bilang jika tadi pagi sebelum mereka pergi, Lian baik-baik saja? Tapi setelah mereka pulang, Lian langsung berubah menjadi seperti ini. Bahkan tadi Samir bilang jika Lian langsung masuk ke dalam kamar dan tidak mau keluar lagi. Apa terjadi sesuatu saat mereka pergi bersama tadi siang? Tapi apa?" Batin Rama terus bermonolog. Menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi.


"Apa jangan-jangan ini ada hubungannya dengan Kian? Bukankah selama ini hanya dia yang bisa membuat Lian stress? Iya, aku pikir ini semua terjadi memang karena Kian. Apa lagi yang sudah dilakukan oleh gadis itu?" Rama terus berbicara dalam hatinya.


"Sayang…" Rama memanggil Kian. Akan tetapi wanita itu masih asyik dengan lamunannya sendiri.


"Sayang…" panggil Rama lagi dan kali ini berhasil menyadarkan wanita itu.


"Iya?" ucap Kian.


"Tiga hari lagi adalah ulang tahun kakek. Aku tahu kalau kita pasti akan mengundang ibu dan juga Kakek Dul. Apa menurutmu kita juga harus mengundang Kian?"


****

__ADS_1


****


****


__ADS_2